Minggu, 26 Mei 2013 | 00:04 WIB
Follow Us: Facebook twitter
SBY Senang, Ekonomi Tumbuh Meski Dunia Lesu
Headline
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono - inilah.com/wirasatria
Oleh: Laela Zahra
ekonomi - Selasa, 29 Mei 2012 | 22:00 WIB
Berita Terkait

INILAH.COM, Jakarta - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengumumkan kebijakan baru tentang penghematan energi. Kebijakan ini diambil menyesuaikan kondisi ekonomi dunia yang tengah tak menentu.

Meski mengambil kebijakan penghematan energi untuk menjaga perekonomian dalam negeri tetap selamat dari inflasi, SBY mengklaim pertumbuhan ekonomi dalam negeri hingga saat ini masih stabil.

"Pada saat banyak negara di dunia mengalami kesulitan dalam perekonomiannya, syukur Alhamdulillah, ekonomi kita masih dapat tumbuh 6,5% di tahun 2011. Harga-harga kebutuhan pokok terus kita jaga agar tetap stabil. Jumlah orang yang menganggur juga semakin turun. Penduduk yang tergolong miskin semakin berkurang," ujar SBY dalam pidato kenegaraannya, di Istana Negara, Jakarta, Selasa (29/5/2012).

Namun demikian, SBY mengharapkan perekonomian dalam negeri bisa tumbuh lebih cepat meski dalam kondisi perekonomian dunia yang tidak stabil. Pemerintah berharap kesempatan kerja terbuka, terutama bagi mereka yang berpendidikan menengah dan tinggi. Selain itu, diharapkan pula taraf hidup keluarga yang berada di bawah garis kemiskinan meningkat dan lebih layak.

“Pemerintah juga berketetapan untuk meningkatkan makin tersedianya infrastruktur, seperti jalan, transportasi, saluran irigasi, ataupun fasilitas komunikasi, yang makin baik dan mencukupi," kata SBY.

Meski begitu SBY mengatakan, kondisi perekonomian dunia tetap berdampak pada ekonomi dalam negeri. Nyatanya, pemerintah dihadapkan dua masalah perekonomian. Pertama, anggaran untuk subsidi BBM dan listrik jumlahnya sangat besar, dan terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2010, subsidi BBM dan listrik telah mencapai Rp 140 triliun, dan pada tahun 2011 meningkat lagi menjadi Rp 256 triliun.

“Besarnya subsidi BBM dan listrik, mengakibatkan berkurangnya kemampuan pemerintah untuk membangun infrastruktur seperti jalan, jembatan, irigasi, pelabuhan laut, dan bandar udara,"

Kedua, besarnya anggaran subsidi BBM dan listrik juga berpotensi meningkatkan defisit anggaran negara, karena penerimaan negara lebih kecil dari belanja negara. Defisit anggaran ini, tentu harus kita tutupi, dan salah satu cara menutupinya biasanya dengan mencari pinjaman atau utang baru.

“Cara seperti ini tentu bukan pilihan kita. Kita tidak ingin utang kita terus meningkat, dan akhirnya membebani anak-cucu kita. Justru sebaliknya, yang kita inginkan dan lakukan adalah menurunkan rasio utang yang kita tanggung, dari waktu ke waktu," imbuhnya. [tjs]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.