Jumat, 24 Mei 2013 | 21:16 WIB
Follow Us: Facebook twitter
'Bank Asing Hanya Meramaikan Pasar'
Headline
ist
Oleh: Tri Sulistiowati
ekonomi - Rabu, 30 Mei 2012 | 13:15 WIB
Berita Terkait

INILAH.COM, Jakarta - Pesatnya pertumbuhan sektor ritel kecil menengah (UMKM) telah memikat institusi pembiayaan. Namun, perbankan lokal tak perlu was-was dengan hadirnya perbankan asing.

Perbankan nasional dinilai tidak perlu merasa khawatir terhadap ekspansi bank asing. Ini karena perbankan lokal telah lebih lama menduduki pasar UMKM, sehingga lebih mengenal pasar UMKM dan mengetahui kebutuhan mereka.

“Kita kenal betul market kita dibandingkan dengan mereka (Bank Asing), sehingga tidak ada alasan buat kita untuk merasa was-was", ungkap Direktur UMKM Bank Rakyat Indonesia (BRI), Djarot Kusumayakti kepada INILAH.COM.

Djarot pun yakin, kehadiran bank asing yang mulai masuk ke sektor UKM, tidak akan mampu mengejar, bahkan menggeser bank lokal, apalagi yang posisinya sudah mapan. "Bank asing itu hanya untuk meramaikan pasar saja kok,"katanya.

Ekonom Danareksa Institute Purbaya Yudhi Sadewa menambahkan, bank lokal siap untuk menyalurkan kredit ke masyarakat, khususnya di UKM ketimbang bank asing,”Ini karena jaringan kantor cabang, infrastruktur dan IT bank lokal yang lebih besar,”ujarnya.

Sudah terbukti bahwa UKM di Indonesia merupakan sektor yang berkontribusi besar terhadap aktivitas perekonomian nasional. Sektor UKM di Indonesia diperkirakan menyumbang lebih dari 50% produk domestik bruto (PBD).

Terutama karena hampir 60% bisnis di negeri ini dikembangkan oleh segmen mikro tersebut. Berdasarkan data akhir 2006, tercatat 99% unit usaha berada dalam kelompok UKM. Kelompok usaha ini menyerap lebih dari 80% dari jumlah tenaga kerja yang tersedia.

Sebagai pemain lama di bidang UMKM, Bank Perkreditan Rakyat menyatakan bahwa mereka mengalami peningkatan dalam sektor UMKM. Dimana pada 2011 sektor UMKM mereka meningkat hingga 16%-18% sedangkan untuk tahun ada kenaikan 20%-22%. Demikian ujar Muhammad Ali, Coorporate Secretary BPR.

Dengan besarnya potensi di sektor UKM, banyak bank asing tergiur. Misalkan saja Standard Chartered Bank yang meluncurkan dua layanan baru, yakni Business Plus dan Business Essentials. Selain mengembangkan jaringan nasional yang mencapai 26 kantor cabang di delapan kota, termasuk tujuh pusat layanan UKM Banking.

Terkait hal tersebut, Standard Chartered tahun ini menargetkan pengelolaan dana pihak ketiga (DPK) dari segmen UKM dapat naik 60%. Sedangkan target pertumbuhan penyaluran kredit untuk segmen UKM yakni 50%.

Kemudian DBS Indonesia yang menargetkan penyaluran kredit kepada sektor UKM sebesar Rp 12 triliun pada 2012. DBS pun berharap dapat mengontribusikan 50% dari total kredit bank ke bisnis SME dalam lima tahun mendatang.

Para pelaku UMKM sendiri juga lebih senang menggunakan bank berpelat merah untuk melakukan pinjaman. Mereka merasa bank lokal masih dapat diajak negosisasi bila terjadi kendala.

"Kita masih senang untuk melakukan pinjaman pada bank - bank lokal atau milik negara, karena bila kita ada kesulitan dalam pembayaran kredit, masih bisa dinegoisasikan. Mereka mengerti kondisi kita", ungkap Widayati salah satu pengusaha permebelan yang ada di Jakarta.

Dengan berbagai kendala tersebut, tak heran bila dalam rencana bisnis bank (RBB) 2012, bank asing hanya mentargetkan pertumbuhan kredit yang relatif rendah di angka 20%. Meskipun cost of capital bank asing memang lebih kuat. Mereka kini masih fokus pada sektor korporasi.

Meski bank asing masih belum ‘bertanduk’, bank lokal sebaiknya jangan terlena. Pasalnya, hubungan antara UKM dan bank lokal tidak minim masalah.

Salah satunya adalah banyaknya UKM yang kurang bankable atau memenuhi syarat-syarat perbankan, misalnya dalam membuat laporan keuangan dan business plan ke depan. Misalkan dari total seluruh UKM, saat ini baru 45%-55% saja yang mendapatkan akses ke perbankan.

Hal ini menjadi perhatian khusus pihak perbankan. Kecilnya benefit yang diperoleh dan besarnya risiko yang harus diantisipasi, membuat perbankan agak enggan mengucurkan kredit di sektor UKM. “Bank belum mau ke sektor UKM itu karena risikonya tinggi dan cost-nya juga besar”, tandas ekonom dari Institute for Development of Economic and Finance (INDEF) Aviliani.

Ia mengatakan, sektor UKM sebenarnya memiliki prospek baik, namun bank-bank di Indonesia masih belum melirik sektor tersebut. Hal itu terjadi karena risiko yang ada sangat besar. “Kan gini, kalau perusahaan besar itu kan selalu ekspansi. Nah, kalau UKM kan tidak. Itu-itu saja. Pokoknya dia tiap tahun untung dan balik modal. Sudah itu saja”, paparnya.

Aviliani menambahkan, meski belum dilirik oleh bank-bank besar di Indonesia, namun sudah cukup ada bank-bank yang masuk ke sektor tersebut. “Sudah ada kok. Tapi, ya, mengapa belum bank besar yang melirik sektor UKM”, tutupnya. [ast]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.