INILAH.COM, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) menilai positif penurunan nilai tukar rupiah. Kondisi ini bisa menekan laju impor.
Direktur Statistik Harga BPS Sasmito Hadi Wibowo mengatakan, pelemahan nilai tukar rupiah pada satu sisi memiliki dampak positif. "Bagus juga untuk mengurangi impor. Misalnya karena rupiah melemah, jeruk China akan naik harganya maka kita akan memilih jeruk lokal," ujarnya di Jakarta, Jumat (1/6/2012).
Namun di sisi lain, penurunan rupiah berpotensi mendongkrak faktor inflasi dari barang impor (imported inflation). "Barang-barang impor kita masih banyak barang baku, tetapi barang konsumsi juga banyak itu yang nanti kalau inflasi mengukur barang konsumsi. Jadi dia mempengaruhi barang konsumsi itu," jelasnya.
Menurutnya, sikap Bank Indonesia (BI) untuk tidak terlalu ketat menjaga pergerakan nilai tukar rupiah adalah pertimbangan yang cukup tepat. Tujuannya, supaya neraca perdagangan tidak terganggu.
"Maka mungkin BI tidak menjaga kurs karena nanti impor akan tinggi dan ekspor susah. Tetap harus dilepas, tapi terkendali. Jangan tiba-tiba ditahan di 9.000-an, itu merugikan kita juga," ungkapnya. [tjs]