SAMPAI kapan tekanan terhadap rupiah berlangsung? Begitulah pertanyaan banyak orang ketika melihat para investor lebih tertarik memegang dolar AS. Pertanyaan itu pula yang diajukan Vinsensius Segu dari InilahREVIEW kepada Purbaya Yudhi Sadewa, Chief EconomistDanareksa Research Institute,dalam wawancara, Jumat pekan lalu. Berikut petikannya:
Apa yang menyebabkan nilai tukar rupiah terus melemah?
Rupiah melemah karena permintaan dolar AS tinggi. Ketika terjadi krisisglobal,investor cenderung meninggalkan negara berkembang karena risikonya tinggi.Itu yang menyebabkan rupiah tertekan. Cuma, disini yang terjadi lebih kepada paniknya investor domestik.Jadi,domestiknya juga ikut-ikutan borong dolarAS, makanya rupiah tertekan.
Sampai kapan situasi ini akan berlangsung?
Menurut saya,tidak berlangsung lama.Juli ke sana sudah baik lagi. Rupiah akan kembali dibawah Rp 9.000 dari yang sekarang Rp 9.450.
Dilihat dari imbal hasil (yield)Surat Utang Negara (SUN) Indonesia masih menarik bagi asing. Seharusnya mereka bertahan. Tetapi mengapa mereka hengkang?
Itu karena mereka takut Uni Eropa bubar dan terjadi kekacauan di pasar modal sehingga mereka tarik dulu dananya dari negara berkembang. Mereka takut risiko. Mungkin untuk sementara mereka tarik dulu dan taruh di tempat aman.Setelah situasinya membaik mereka akan balik lagi. Ya, enggak masalah ketika yield tinggi, tapi risikonya juga tinggi.Wajar mereka hengkang.
Apakah instrumen Term Deposit valas dari BI bisa menjaga nilai tukar rupiah?
Saya pikir belum efektif.Sebaiknya kembali ke sistem saja. Yang paling penting adalah BI menjaga di pasar,jangan sampai kekeringan dolarAS,karena cadangan devisa mereka cukup besar. Untuk apa dihemat dan tidak dipakai?Sebab, bila tidak dipakai, domestik keburu negatif.Kalau sampai negatif,maka tekanan rupiah akan terus berlanjut dan akhirnya bisa merugikan perekonomian secara keseluruhan.
Dengan kondisi seperti ini, apakah target pertumbuhan ekonomi yang dipatok 6,5%tahun ini akan tercapai?
Saya rasa tidakada pengaruhnya. Ini hanya gejolak jangka pendeksaja. Kita sudah teliti dari setahun yang lalu bahwa rupiah akan melemah menjelang semester kedua tahun ini. Kita sebenarnya sudah tahu arah rupiah kemana,termasuk nanti Juli ini mau kemana. Rupiah tidak akan melemah, kalau BI bisa mewaspadai.Tekanan memangada, tetapi sebentar lagi ke arah dibawah Rp 9.000.
Sebetulnya investor tidak usah terlalu panik. Kenapa? Karena fondasi ekonomi kita baik.Kalau perkembangan global ke arah positif, makasemua akan kembali normal. Saat ini, yang ada dibenak investor bahwa keadaan kita akan runtuh lagi seperti tahun 2008/2009 atau 1997/1998 yang lalu. Padahal ekonomi kita saat ini beda.Daya beli domestik masih kuat, inflasi masih terkendali, bunga masih rendah, BBM enggak naik.
Kalaupun ekonomi global runtuh,paling jelek perekonomian kita akan seperti tahun 2009. Saat itu perekonomian kita kuat,padahal Amerika Serikat dan yang lainnya kontraksi. Tapi akan lebih baik kalau Uni Eropa enggak bubar. Namun, peluang bubar juga sangat kecil, karena risikonya sangat besar buat mereka.
Bagaimana prospek ekspor Indonesiadengan keadaan seperti ini?
Kalau rupiah turun, itu membuat untung eksportir kita. Kenapa? Karena mereka dapatnya dolarAS. Sebaliknya, importir kalang kabut karena barang impornya jadi mahal. Tapi dengan situasi luar negeri seperti ini,saya pikir permintaan akan barang ekspor kita pasti akan turun.
Dengan melemahnya rupiah dan turunnya ekspor Indonesia, apa pengaruhnya terhadap perekonomian Indonesia?
Kalau sekarang belum begitu terlihat karena baru beberapa hari. Jika rupiah berada di level Rp 9.500 pun masih enggak apa-apa. Yang dikhawatirkan jika pelemahan rupiah terus berlanjut. Situasi inilah yang bisa menganggu.Namun, sampai sekarang kita melihat, semuanya masih baik.Hasil survei yang dilakukan Danareksa, sampai bulan Mei lalu daya beli masyarakat kita masih baik.
Artinya,domestik ekonomi kita masih sangat kuat dan indeks kepercayaan konsumen juga tinggi.Masyarakat berbelanja terus, yangmendorong pertumbuhan ekonomi. Sebaiknya kita tak usah panik karena ekonomi kita masih akselerasi, masih on the track.
Selengkapnya, artikel ini bisa disimak di majalah InilahREVIEW edisi ke-40 yang terbit Senin, 4 Juni 2012. [tjs]