Jumat, 25 Juli 2014 | 15:22 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Majalah InilahREVIEW Edisi ke-40
Inilah Kiat Menahan Agar Rupiah Tak Tertindih
Headline
inilah.com
Oleh: Latihono Sujantyo
ekonomi - Senin, 4 Juni 2012 | 07:30 WIB
Berita Terkait

INI hari-hari yang cukup melelahkan bagi Darmin Nasution, Gubernur Bank Indonesia. Maklum, sejak pertengahan bulan lalu, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, terus merosot hingga Rp 9.500. Memang, pada penutupan Jumat pekan lalu, rupiah sudah menguat menjadi Rp 9.350 per dolar AS. Namun, ini bukan jaminan, di hari-hari mendatang rupiah tak bakal keok.

Soalnya sederhana. Sampai pekan lalu, arus modal asing yang kabur dari Indonesia masih terus berlangsung. Sepanjang Mei kemarin, menurut Menteri Keuangan Agus Martowardojo, nilainya sudah mencapai Rp 5,86 triliun. Dana itu berasal dari pasar saham dan surat utang negara (SUN).

Gejolak ini diperkirakan akan terus berlangsung, sepanjang krisis yang kini sedang mengguncang Eropa, belum bisa diatasi. Nah, sepanjang itu pula, orang lebih tertarik membeli dolar AS, yang dianggap sebagai safe haven (penempatan sementara yang aman).

Tentu saja, Bank Indonesia (BI), tak mau situasi ini terus berlanjut. Sebab, bila tidak dicegah, rupiah bakal tertindih tak berkesudahan. Lantaran itulah, BI mengeluarkan jurus penangkal gejolak ini, yakni Term Deposit (TD) valas atau deposito berjangka valuta asing. “Ini dalam rangka stabilisasi nilai tukar,” kata Darmin. Pada tahap awal, BI menerbitkan TD valas dengan jangka waktu 7 hari, 14 hari, dan 1 bulan.

Agar terlihat menarik, BI memungkinkan pencairan TD sebelum jatuh tempo, tidak diperhitungkan dalam Aset Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) dan ketentuan Posisi Devisa Netto (PDN). Bunganya kompetitif. Sebagai gambaran, saat ini bunga di pasar uang di luar negeri berkisar antara 0,1%-0,2% per hari.

BI berharap instrumen baru ini mengubah pola supply dan demand valas di dalam negeri. Misalnya, bank tidak lagi memutar valas di Pasar Uang Antar Bank (PUAB) luar negeri seperti Hong Kong dan Singapura. Bank cukup membiakkan di TD.

Selama ini, bank lokal yang kelebihan likuiditas valas lebih memilih memutar dana di PUAB luar negeri. Lihat saja, transaksi PUAB valas domestik hanya US$ 400 juta - US$ 500 juta per hari, tapi transaksi bank lokal di PUAB luar negeri bisa mencapai US$ 2 miliar per hari. Alhasil, saat kebutuhan dolar AS di pasar domestik meningkat, kurs rupiah langsung jatuh. Kata Darmin, inilah yang terjadi belakangan ini.

Persoalannya, apakah jurus BI ini efektif menangkal tekanan terhadap rupiah? “Ya,” kata Kepala Ekonom BNI, Ryan Kiryanto. Sebab, lewat instrumen ini stok valas di dalam negeri akan selalu tersedia dalam jumlah yang cukup. Inilah yang menurut Ryan bisa menstabilkan rupiah dan mempersempit ruang gerak spekulan.

Apalagi, Maret lalu, BI sudah merevisi aturan pembelian valas. Beleid ini mengatur bahwa setiap transaksi valas wajib adatransaction underlying-nya, sehingga tidak bisa lagi dijadikan ajang spekulasi. "Yang juga penting, BI harus terus memantau dan mengawasi pergerakan rupiah, sekaligus melakukan intervensi untuk mencegah rupiah jatuh makin dalam," kata Ryan.

Seperti halnya Ryan, Ketua Umum Perbanas, Sigit Pramono meminta BI harus tetap rajin melakukan intervensi pasar. Intervensi, kata Sigit, nilainya memang mahal. “Namun ini demi menanggung risiko agar rupiah terkendali,” ujarnya.

Sigit betul. Kini, semua tergantung BI. “Kalau dolarnya dipakai untuk membeli rupiah, ya akan membantu. Tapi kalau tidak, ya tidak membantu,” kata ekonom dari Standard Chartered Bank, Fauzi Ichsan kepada Vinsensius Segu dari InilahREVIEW.

Selengkapnya, artikel ini bisa disimak di majalah InilahREVIEW edisi ke-40 yang terbit Senin, 4 Juni 2012. [tjs]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA
BERITA POPULER