INILAH.COM, Jakarta - Bank Indonesia (BI) menilai pertumbuhan ekspor Indonesia melandai akibat menurunnya permintaan dari China dan India. China dan India yang terdampak oleh krisis Eropa mengurangi impor karena perekonomian mereka lesu.
Namun demikian, kondisi ini diprediksi tidak akan berlangsung lama. "Kalau melihat China dari analisa kami, sementara ini akan soft landing tidak akan sampai pada hard landing. Artinya kalau akan ada penurunan tidak akan drastis," jelas Deputi Gubernur BI Hartadi A Sarwono di Jakarta, kemarin.
Menurutnya, India dan China perlu diwaspadai karena dua negara ini berpotensi terpengaruh banyak oleh Eropa dan dampaknya bisa merembet ke rupiah. Dalam kaitan ini, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bisa tertekan.
"Kita harus berhati-hati dampak lebih lanjut dari Eropa nanti kepada regional negara besar seperti China dan India. Yang saya perlu monitor agak dekat adalah India karena persoalannya lebih berat dari pada China," tambahnya.
Untuk menahan laju penurunan rupiah, BI akan terus menyuntik likuiditas ke pasar. Diharapkan pasokan likuiditas tidak hanya oleh BI, tetapi oleh kalangan swasta pemilik dolar AS. [tjs]