Jumat, 24 Mei 2013 | 19:31 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Obituarium Liem Sioe Liong
Om Liem, Bapak Mi Instan
Headline
Liem Sioe Liong - bisnis indonesia
Oleh:
ekonomi - Senin, 11 Juni 2012 | 15:05 WIB

INILAH.COM, Jakarta – Mi instan, siapa yang tidak kenal dengan jenis penganan itu. Hampir setiap hari dan setiap saat mi instan menjadi pilihan. Bangun tidur, sarapan langsung menyantap mi. Makan siang juga begitu, hingga tengah malam. Bahkan kudapan pelengkap saat nonton siaran langsung sepak bola juga tergantikan oleh mi instan.

Mi instan kini amat popular, bahkan teramat popular dan mampu mengalahkan beras atau nasi. Lihat saja, di berbagai kesempatan selalu saja hadir mi yang dikemas dalam bungkusan plastik itu. Termasuk, setiap kali terjadi bencana, makanan ini selalu wajib hadir di tempat penampungan pengungsi.

Tidak hanya itu, kebiasaan orang Indonesia mengonsumi mi instan juga menular ke berbagai negara. Terutama negara yang banyak Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Konon, mi instan di negeri-negeri itu dipopularkan oleh para TKI yang kemudian ditiru oleh majikan mereka. Karena itu, tidak heran bila mi instan Indonesia kini hadir di banyak negara, di Hong Kong, Malaysia, Singapura, Arab Saudi, Australia, dan banyak negara di Timur Tengah dan Afrika.

Siapa sebenarnya tokoh di balik itu semua? Tiada lain adalah Liem Sioe Liong alias Sudono Salim atau yang akrab disapa Om Liem. Liem meninggal Minggu (10 Juni 2012) di Singapura, pada usia 97 tahun. Kepergiannya mengingatkan publik di negeri ini akan mi yang dipopularkannya.

Meskipun ia bukan yang pertama mempopularkannya, Om Liem harus diakui adalah orang yang berada di balik kepopularan mi instan. Berdasarkan sejumlah referensi, mi instan diciptakan di Jepang oleh Momofuku Ando pada 1958, yang kemudian mendirikan perusahaan Nissin. Produk yang pertama dipasarkan adalah Chicken Ramen.

Mi instan di Indonesia pertama kali hadir pada 1968, diperkenalkan oleh PT Lima Satu Sankyu yang mengemas mi dengan merek Supermi. Mi instan ini sempat merajai pasar di dalam negeri dan cukup popular. Namun, dominasinya tergeser oleh kehadiran Indomie pada 1970, diusung oleh PT Indofood Sukses Makmur Tbk, perusahaan milik Liem.

Di bisnis ini, Liem sangat agresif dengan perlahan-lahan menguasai pasar dalam negeri. Ia mendirikan pabrik hulu hingga ke hilir, didukung oleh pabrik tepung terigu miliknya, PT Bogasari. Melalui Indomie, Liem memperkenalkan m instan rasa Indonesia, atau yang biasa disebut selera Nusantara. Sukses dengan Indomie mengantarkan Liem untuk mengakusisi Supermi, pesaingnya terdahulu. Kini, Indofood memproduksi mi untuk tiga merek, yakni Indomie, Supermi, dan Sarimi.

Lewat Indomie pula, Liem kemudian merajai bisnis makanan sekaligus menjadikan Indonesia sebagai produsen mi instan terbesar di dunia saat ini. Namun, dalam hal pemasaran, Indonesia berada di urutan kedua setelah China.

Tangan dingin Liem dalam pemasaran tidak hanya teruji memasarkan Indomie. Ia tak hanya mengajak orang Indonesia mengonsumsi mi, tetapi juga mengubah makanan pokok orang Indonesia dari nasi menjadi mi.

Salah satu yang membuat Indomie amat popular adalah harganya yang murah dan bisa diperoleh di mana saja. Kekuatan Liem dalam pemasaran menjadikan grup distribusi Indofood sebagai pemasar terluas di Indonesia. Liem mampu mengantarkan Indomie dari perkotaan hingga ke pelosok di pulau-pulau terpencil.

Salah satu kunci pemasarannya adalah pendirian gudang dalam jumlah banyak di berbagai tempat. Dengan cara ini, pasokan Indomie selalu terpenuhi kapan saja karena barang menumpuk di gudang.

Dalam perjalanannya, Indomie tidak hanya merajai pasar Indonesia. Di Afrika Barat, terutama di Nigeria, Indomie adalah makanan paling disukai masyarakat. Di negeri ini Indomie diproduksi oleh De-United foods industries ltd, anak perusahaan Dufil Group, hasil joint venture Tolaram Group dari Singapura dengan Salim Group.

Kesuksesan Liem dalam memasarkan Indomie menggoda pengusaha lain di Indonesia untuk terjun ke bisnis mi instan. Kini, di Indonesia tersedia berbagai macam merek mi instan dan beberapa yang popular adalah Supermi, Sarimi, Salam Mie, Mi ABC, Gaga Mie, dan Mie Sedaap. [tjs]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.