Jumat, 24 Mei 2013 | 06:30 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Larangan Ekspor Bijih Besi
Jepang akan Laporkan RI ke WTO
Headline
inilah.com/Nury Sybli
Oleh: Th. Asteria
ekonomi - Selasa, 12 Juni 2012 | 15:39 WIB
Berita Terkait

INILAH.COM, Tokyo - Jepang, konsumen nikel terbesar kedua di dunia, menyerukan Indonesia untuk menghapus larangan ekspor bijih besi, seraya mengancam akan melaporkan kepada Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) jika pembicaraan menemui jalan buntu.

"Langkah-langkah sepihak di Indonesia yang tidak sesuai," kata Takayuki Ueda, direktur umum dari Biro Industri Manufaktur Kementrian Perdagangan Jepang, dalam sebuah wawancara di Tokyo, Selasa (12/6/2012).

Menurutnya, jika Indonesia melanjutkan larangan pada ekspor seperti yang direncanakan pada 2014, Jepang, yang lebih memilih untuk menegosiasikan solusi, akan mempertimbangkan untuk melapor ke WTO.

“Larangan Indonesia terhadap beberapa ekspor bijih besi sejak 6 Mei serta 20% pajak untuk sisanya, akan meningkatkan biaya untuk peleburan logam di Jepang, ekonomi terbesar ketiga dunia,” kata Ueda.

Negara yang miskin sumber daya ini juga menderita, akibat pembatasan China atas ekspor logam langka. Hal ini membuat harga melonjak, sehingga masalah ini juga dibawa ke WTO tahun ini.

Toshio Nakamura, manajer umum bahan baku baja di Mitsui & Co, pedagang terbesar nikel di Jepang mengatakan, tidak ada negara lain yang akan segera menggantikan Indonesia. "Kami akan mempertimbangkan bagaimana kita mengamankan bahan baku, di bawah peraturan baru untuk industri pertambangan,”ujarnya.

Harga nikel akan naik 17% menjadi rata-rata sebesar US$ 20.000 per metrik ton pada kuartal keempat, menurut median dari 16 perkiraan analis yang dikumpulkan oleh Bloomberg. Harga logam ini telah jatuh 9,1% tahun ini, kinerja terburuk dari enam logam yang diperdagangkan di London Metal Exchange.

Ekspor dari Indonesia, eksportir terbesar di dunia untuk bijih nikel, mungkin jatuh 20% pada semester kedua 2012. Demikian ungkap Sukristiyawan, manajer pemasaran senior PT Aneka Tambang, produsen nikel terbesar kedua RI dalam sebuah wawancara bulan lalu.

Jepang dalam waktu dekat akan bertemu dengan Rizal Affandi Lukman, Deputi Menko Perekonomian Bidang Perdagangan Internasional dan Kerjasama Ekonomi.

Jepang mengaku siap memberikan dukungan kepada Indonesia, berusaha untuk membina industri dalam negeri, dengan menambahkan nilai pada biji besi dan mineral yang belum diolah.

"Melawan Indonesia bukanlah tujuan kami. Jepang memiliki hubungan jangka panjang dengan Indonesia. Selain hubungan bisnis yang juga dekat. Kami ingin mencari solusi melalui dialog,"paparnya.

Beradasarkan data Kementrian Keuangan, Jepang mengimpor 3,65 juta ton bijih nikel pada 2011. Indonesia memasok 1,95 juta ton, atau 53%, diikuti oleh Kaledonia Baru dengan 27% dan Filipina dengan 19%.

Peleburan Jepang, termasuk Pacific Metals Co dan Sumitomo Metal Mining Co mengimpor bijih nikel untuk memproduksi feronikel. [ast]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.