Kamis, 23 Mei 2013 | 16:50 WIB
Follow Us: Facebook twitter
PGN Penuhi Gas untuk Kebutuhan di Jatim
Headline
IST
Oleh: Tio Sukanto
ekonomi - Minggu, 17 Juni 2012 | 18:12 WIB
Berita Terkait

INILAH.COM, Jakarta - Seiring dengan meningkatnya tambahan pasokan gas bagi PGN Strategic Business Unit (SBU) II Jawa Bagian Timur, maka secara bertahap sejak Juni 2012, pelanggan industri Jawa Timur akan menikmati kebutuhan energi gas bumi sesuai kontrak.

Sejak pemberlakuan dan komitmen penyesuaian harga gas bumi di pertengahan 2011 lalu, iklim usaha di bidang hulu semakin tumbuh dan produktif. Sehingga berdampak positif bagi terjaminnya komitmen penambahan pasokan bagi wilayah tersebut. Pada Juni 2012, maksimum kontrak pelanggan ada dikisaran 150 MMscfd.

Peningkatan pemakaian akan terus meningkat sampai akhir 2013 hingga dikisaran 180 MMscfd. Saat ini pelanggan industri sedang mempersiapkan peralatan dan SDM bagi penyerapan pasokan baru. Pada periode November 2012 – Juli 2013, jumlah pelanggan SBU II Jatim akan meningkat dan beberapa pelanggan akan menaikkan kapasitas volume pemakaian gas bumi untuk peningkatan produksi.

Saat ini SBU II melayani lebih dari 12 ribu pelanggan dimana 350 diantaranya adalah pelanggan industri komersial. Seiring dengan pemenuhan kontrak kebutuhan gas bumi bagi wilayah tersebut, pada Juli 2013 ditargetkan pelanggan industri dan komersial akan tumbuh lebih dari 1% menjadi 414 pelanggan.

Terkait dengan keberatan beberapa kalangan industri terkait penyesuaian harga gas, berkaca dari wilayah Jawa Timur, PGN juga berharap dampak positif dan hal yang sama dapat dirasakan oleh pelanggan di Jawa Barat. Penambahan pasokan bagi kelangsungan dan kebutuhan industri menjadi harapan semua pihak baik PGN maupun pelanggan sebagai end user.

Mengenai keberatan industri Jawa Barat, Direktur Utama PGN, Hendi Prio Santoso menjelaskan, untuk mengantisipasi dampak kenaikan harga gas di hulu, perseroan sebenarnya sudah melakukan serangkaian program sosialisasi kepada para stakeholder, termasuk dengan kalangan industri baik formal maupun informal.

Dalam forum tersebut manajemen PGN juga menerima banyak masukan dari para pelaku industri. Berbagai informasi dari para stakeholder tersebut kemudian digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil kebijakan penetapan harga gas. Bahkan saat inipun PGN tetap membuka diri untuk menjelaskan kembali posisi serta pertimbangan penyesuaian harga gas bumi kepada semua pihak.

Juga mengenai kekhawatiran berbagai pihak, bahwa PGN belum sepenuhnya melakukan upaya-upaya konkrit untuk pemenuhan gas bumi bagi industri, PGN telah mengupayakan secara konsisten dan berkoordinasi secara intensif dengan kementerian-kementerian terkait serta stakeholder di wilayah pengambilan policy agar pemenuhan kebutuhan gas bumi bagi industri dapat disetarakan dengan sektor-sektor lain yang selama ini menjadi prioritas.

“Kami sangat memahami keberatan para pelanggan industri terhadap penyesuaian harga ini. Stabilitas dan jaminan pasokan sudah dipahami oleh pihak produsen, salah satunya adalah dengan penyesuaian harga beli gas untuk meningkatkan operasi di hulu. Dan SBU II sudah merasakan manfaatnya pertengahan tahun ini secara nyata,” kata Hendi Prio Santoso, pada keterangan tertulis di Jakarta Minggu (17/6/2012).

Lebih lanjut Hendi mengatakan, penetapan harga gas baru yang mulai berlaku di bulan Mei 2012 ini tidak dilakukan secara mendadak. “Setelah mendengar masukan dari pelanggan dan berdasarkan survei yang kami lakukan, harga baru yang kami tetapkan masih wajar dan terjangkau oleh industri,” lanjutnya.

Hendi mengaku, PGN tidak mungkin menanggung sendiri beban biaya akibat kenaikan harga gas oleh produsen yang mencapai lebih dari 200%. Saat ini untuk pasokan dari hulu ke PGN yang mengalami penyesuaian harga untuk wilayah Jawa Bagian Barat memiliki kontrak sekitar 600 BBTUD. Dengan volume yang demikian besar, otomatis kenaikan harga gas dari hulu tersebut telah membuat beban PGN meningkat signifikan. “Kami sesungguhnya masih menanggung beban porsi pelanggan sebagai dampak kenaikan harga gas oleh produsen,” jelas Hendi.

Hendi menambahkan, amanat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengenai transformasi energi dari bahan bakar minyak (BBM) ke gas telah menempatkan PGN di posisi terdepan. Kondisi ini tentunya tidak mudah dan tidak murah. "Untuk membangun infrastruktur dan memberikan jaminan pasokan gas butuh investasi yang sangat besar. Tanpa dukungan dan pengertian seluruh stakeholder, transformasi energi ke gas akan sulit diwujudkan," imbuhnya. [mel]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.