Jumat, 24 Mei 2013 | 23:17 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Majalah InilahREVIEW Edisi ke-42
Ssst..... Ada Mandiri Connection?
Headline
Menteri Keuangan, Agus Martowardojo - Inilah.com
Oleh: Latihono, Iwan P, Vinsensius ,
ekonomi - Senin, 18 Juni 2012 | 06:00 WIB
Berita Terkait

KALAU saja jago Bank Mandiri tak bermasalah, bisa jadi Ito Warsito tak terpilih kembali menduduki takhta tertinggi di PT Bursa Efek Indonesia (BEI). Soalnya, Harry Maryanto Supoyo, Direktur Utama Mandiri Sekuritas, bukanlah calon sembarangan.

Ia, kabarnya, adalah orang yang sengaja dipersiapkan Menteri Keuangan, Agus DW Martowardojo untuk menjabat sebagai Direktur Utama BEI. “Nama Harry terpental karena ia masih menjadi saksi kasus dugaan penjualan saham Garuda kepada Muhammad Nazaruddin,” kata sumber InilahREVIEW di pasar modal.

Kepastian terpilihnya Ito beredar sejak Kamis pekan lalu. “Iya, benar saya calon tunggal, setelah melalui fit and proper test Bapepam-LK,” kata Ito. "Benar, Bapak Ito terpilih sebagai Dirut BEI lagi," timpal Ketua Bapepam-LK Nuraida.

Kabar ini memang mengagetkan. Bukan apa-apa, kabar terpilihnya direksi BEI periode 2012-2015 seharusnya baru diumumkan seminggu sebelum Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 27 Juni. Tentu saja, semua ini mengundang tanda tanya: apa yang sedang terjadi?

Entahlah. Tapi, bisik-bisik di kalangan anggota bursa menyebutkan, kuatnya tarik menarik kepentingan mendorong Bapepam-LK mengumumkan lebih awal direksi baru BEI. Maklum, dari tiga paket calon direksi BEI yang masuk ke meja Bapepam-LK, paket yang dipimpin Harry Maryanto Supoyo mendapat dukungan paling banyak dari anggota bursa, yakni 59. Baru kemudian Ito Warsito 32 dukungan, dan Edgar Ekaputra 11 dukungan.

Banyaknya dukungan yang mengalir ke Harry, memang tak bisa dilepaskan dari isu yang beredar sebelumnya bahwa Direktur Utama Mandiri Sekuritas ini adalah orang yang diplot oleh Menteri Keuangan Agus Martowardojo untuk menduduki posisi puncak di BEI.

Kebenaran isu ini semakin kuat saat mekanisme pemilihan direksi BEI berubah total. Kalau sebelumnya direksi BEI dipilih oleh anggota bursa, kali ini yang memilih adalah Bapepam-LK. Artinya, anggota bursa hanya mengirimkan paket-paket direksi pilihan mereka ke Bapepam-LK, kemudian badan ini yang memilih dan menentukan paket direksi tersebut.

Perubahan mekanisme pemilihan inilah yang menimbulkan wasangka bahwa sistem ini memang sengaja dirancang untuk memuluskan jalan Harry menuju kursi nomor satu di BEI.

Kalau kemudian nama Harry tersingkir, itu, kata si sumber tadi, lantaran kuatnya tekanan ke Bapepam-LK. Harry dianggap sangat berisiko untuk memimpin BEI karena dugaan keterlibatannya dalam kasus penjualan saham Garuda kepada Muhammad Nazaruddin. Namun, Harry dan Mandiri Sekuritas telah membantah tuduhan tersebut. Mereka mengaku, tidak pernah meminjam uang dari Permai Group, perusahaan milik Nazaruddin.

Posisi Strategis

Agus, memang, dikabarkan tengah berupaya menempatkan orang-orang Bank Mandiri pada posisi strategis di lembaga-lembaga keuangan. Tengok saja, dalam pembentukan Panitia Seleksi Calon Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan.

Di situ ada nama Agus Martowardojo sebagai ketua, kemudian Mahmudin Yasin dan Darmin Nasution. Asal tahu saja, Agus pernah menjabat sebagai Direktur Utama Bank Mandiri, sementara Mahmudin Yasin dan Darmin Nasution adalah mantan komisaris di bank pelat merah tersebut.

Dugaan Agus ingin menempatkan orang-orang Bank Mandiri di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) semakin kuat, ketika diketahui ada dua pejabat dan satubekas pejabat bank pemerintah tersebut yang lolos seleksi. Sebut saja, Wakil Direktur Utama Bank Mandiri Riswinandi.

Riswinandi dijagokan menduduki Ketua Eksekutif Pengawasan Perbankan Dewan Komisioner OJK. Kemudian Executive Vice President Audit Internal Bank Mandiri Rijani Tirtoso untuk posisi Ketua Bidang Audit dan mantan Wakil Direktur Utama Bank Mandiri sebagai calon Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK.

Banyak kalangan menganggap, Rijani Tirtoso, Riswinandi, dan I Wayan Agus Mertayasa memiliki kedekatan dengan menteri keuangan saat Agus menjabat sebagai Direktur Utama Bank Mandiri periode 2005 hingga 2010. Namun, baik Rijani maupun Mertayasa membantah segala tuduhan itu. Rijani mengaku memang dekat dengan Agus, tapi itu sebatas pekerjaan. “Betul-betul kedekatan karena profesional," katanya.

Tak Selalu Jelek

Cerita tentang Mandiri Connection tak berhenti sampai di sini. Spekulasi politik kedekatan dan usaha Mandirisasi juga terlihat saat Firdaus Djaelani diganti oleh Mirza Adityaswara untuk posisi Direktur Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Sebelum di LPS, Mirza dikenal sebagai Kepala Ekonomi Bank Mandri dan dulu pernah menjabat sebagai salah satu Direktur Mandiri Sekuritas.

Kepala Ekonom Bank Danamon, Anton Gunawan Hermanto mengkhawatirkan politik kedekatan ini. Namun, ia tak percaya kalau Menteri Keuangan Agus sembarangan menempatkan orang-orang Bank Mandiri di posisi strategis di beberapa lembaga keuangan. “Kita masih percaya bahwa yang terpilih itu, punya kapasitas dan kredibilitas di atas rata-rata. Nanti waktu yang bisa menjawab keraguan publik,” ujar Anton kepada InilahREVIEW.

Politik koneksi atau kedekatan tak selalu jelek-jelek amat. Asal orang-orang yang ditempatkan tersebut memiliki kredibilitas dan integritas yang tinggi. Lihat saja para bankir jebolan Citibank. Mereka menjadi bibit unggul di industri perbankan dan kondang dengan sebutan “Citibankers”.

Di antara sekian nama mantan Citibankers, yang paling sukses mencontoh bagaimana Citibank mendidik orang adalah Robby Djohan. Bankir yang meninggalkan Citibank pada 1976 kemudian pindah ke Bank Niaga ini bukan hanya berhasil menumbuhkan Bank Niaga. Robby pulalah yang membesarkan Bank Mandiri ketika bank ini pertama kali terbentuk tahun 1999. Dari Robby lahir nama Agus Martowardojo dan lain-lain.

Selengkapnya, artikel ini bisa disimak di majalah InilahREVIEW edisi ke-42 yang terbit Senin, 18 Juni 2012. [tjs]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.