AGUS DW Martowardojo, Riswinandi, Rijani Tirtoso Bondan, I Wayan Agus Mertayasa, Harry Maryanto Supoyo, dan Mirza Adityaswara, boleh dibilang adalah para pendekar dari Bank Mandiri. Mereka menduduki posisi kunci di sektor keuangan dan perbankan. Inilah profil singkat enam pendekar tersebut.
Agus DW Martowardojo
Agus Dermawan Wintarto Martowardojo dikenal sebagai bankir bertangan dingin. Kesuksesannya menakhodai Bank Mandiri dan menekan pinjaman luar negeri, membuat majalah keuangan internasional, The Banker, menobatkan Agus sebagai menteri keuangan terbaik se-Asia Pasifik 2011.
Agus lahir di Amsterdam, Belanda, pada 24 Januari 1956. Perjalanan kariernya di sektor perbankan cukup panjang. Dia pernah ikut membidani kelahiran Bank Mandiri melalui merger Bank Eksim, Bank Dagang Negara, Bapindo dan Bank Bumi Daya, Juni 1999. Pada Juli 2002 Agus mengundurkan diri dari Bank Mandiri karena diangkat sebagai Wakil Ketua BPPN. Kemudian terhitung sejak 31 Oktober 2002 dipercaya menjabat Direktur Utama Bank Permata.
Ayah dua anak ini, memulai karier di perbankan setelah menyelesaikan studi Banking & Management Courses di State University of New York, Buffalo, USA, Stanford University, Palo Alto, USA dan Institute of Banking & Finance, Singapore. Setelah itu pada tahun 1984 ia bekerja di Bank of America NT & SA sebagai Officer Development Program dan International Loan Officer.
Dua tahun kemudian, Agus pindah ke PT Bank Niaga Tbk sebagai Vice President, Corporate Banking Group di Jakarta dan Surabaya. Dia juga menjabat Deputy Chief Executive Officer di Maharani Holding pada tahun 1994. Selanjutnya pada 1995 1998 menjadi Direktur Utama di Bank Bumiputera, kemudian menjadi Direktur Utama di Bank Ekspor Impor Indonesia.
Tahun 1999 Agus menjadi Managing Director Risk Management and Credit Restructuring di Bank Mandiri. Kemudian menjadi Managing Director Retail Banking and Operation Coordinator tahun 2000 dan Managing Director Human Resources and Support Services tahun 2001.
Sejak 31 Oktober 2002 hingga 2005, Agus menjabat sebagai Direktur Utama Bank Permata. Selesai bertugas di bank tersebut, Agus diberi kepercayaan untuk memimpin Bank Mandiri selama periode 2005 sampai 2010.
Riswinandi
Riswinandi lahir tahun 1957. Ia menyelesaikan pendidikan Sarjana Ekonomi Jurusan Manajemen di Universitas Trisakti, Jakarta pada 1983. Riswinandi memulai kariernya sebagai Senior Assistant di SGV Utomo pada 1984.
Kariernya di perbankan dimulai pada 1986 ketika ia bekerja di PT Bank Niaga Tbk. Selama 13 tahun ia bekerja di bank ini, khususnya dalam pengelolaan kredit korporasi (Corporate Banking). Ia juga pernah menjabat sebagai Kepala Cabang (General Manager) Bank Niaga di Los Angeles, AS.
Pada 1999, Riswinandi bekerja di Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) dengan jabatan terakhir sebagai Senior Vice President Loan Work Out & Collection Division Head di BPPN hingga 2001. Dalam tahun yang sama (2001), ia melanjutkan karier di PT Bank Danamon Tbk, menjabat sebagai Excecutive Vice President Corporate Lending Division dan terakhir menjabat sebagai Direktur PT Danamon Tbk hingga Juni 2003.
Pada September 2003, Riswinandi ditunjuk sebagai Komisaris Independen PT Bank Mandiri Tbk sampai Mei 2005. Selanjutnya sejak Oktober 2005 bertugas sebagai Executive Vice President-Credit Recovery II di Bank Mandiri. Pada Mei 2010 Riswinandi ditunjuk sebagai Wakil Direktur Utama Bank Mandiri hingga sekarang.
Rijani Tirtoso Bondan
Rijani merupakan sekretaris eksekutif sekaligus tangan kanan Agus Martowardojo saat menjabat sebagai Direktur Utama Bank Exim. Ketika Bank Exim merger dengan Bank Bumi Daya, Bank Dagang Negara, dan Bapindo menjadi Bank Mandiri pada 1998 lalu, Rijani tercatat sebagai officer Bank Mandiri.
Karier Rijani terus menanjak di Mandiri. Pada saat ECW Noloe menduduki Direktur Utama Bank Mandiri, Rijani menjadi Group Head Retail Credit Risk Management.
Pada saat Agus menjabat Direktur Utama Bank Mandiri tahun 2005, Rijani naik jabatan menjadi Group Head Learning Centre. Tidak lama, dia dipindah menjadi Group Head Internal Audit. Kabarnya, Rijani adalah salah satu suksesor Agus saat membubarkan Serikat Pekerja Bank Mandiri yang berdemonstrasi pada tahun 2007.
I Wayan Agus Mertayasa
Sebagai mantan orang nomor dua di Bank Mandiri, I Wayan Agus Mertayasa memang bukan orang baru di dunia perbankan. Pria kelahiran Tabanan, Bali, 19 September 1947 ini punya seabreg pengalaman.
Ayah dari empat anak ini sebelumnya mengemban pendidikan di Universitas Brawijaya, Malang dengan jurusan Ekonomi Perusahaan Spesialisasi Manajemen Pemasaran.
Karier di dunia perbankan dimulai di PT Bank Bumi Daya pada tahun 1973 sebagai staf tata usaha. Setelah 21 tahun, Mertayasa meraih jabatan sebagai Direktur Muda. Tahun 1994 ia pindah ke PT Bank Pembanguna Indonesia sebagai direktur selama empat tahun lebih. Pada 1999 namanya masuk dalam struktur Bank Mandiri. Saat Agus Martowardojo menjabat Direktur Utama Bank Mandiri, Mertayasa adalah wakilnya.
Harry Maryanto Supoyo
Harry Maryanto Supoyo lahir di Surabaya pada 2 Juli 1965. Kini, jabatannya adalah Direktur Utama PT Mandiri Sekuritas. Sebelum menduduki posisi ini, Harry dipercaya menjabat sebagai Managing Director-Underwriting and Corporate Finance di PT Mandiri Sekuritas sejak 2006 hingga 2011.
Namanya menjadi pembicaraan hangat lantaran ia ikut dalam pemilihan direksi PT Bursa Efek Indonesia (BEI). Kabarnya, Harry adalah calon titipan Menteri Keuangan Agus Martowardojo. Ia menjadi gunjingan karena menjadi saksi kunci kasus dugaan pencucian uang Muhammad Nazaruddin yang saat ini ditangani KPK. Namanya juga sempat bikin heboh dalam penawaran perdana saham PT Krakatau Steel. Saat itu, banyak anggota DPR yang membeli saham Krakatau Steel tanpa mengisi formulir IPO. Mandiri Sekuritas saat itu bertindak sebagai lead underwriter (penjamin pelaksana emisi) dibantu PT Danareksa dan PT Bahana Sekuritas.
Mirza Adityaswara
Mirza adalah anak kedua dari ahli hukum bisnis terkemuka Indonesia, Sutan Remy Sjahdeini. Di kalangan keluarganya, ia biasa dipanggil dengan nama Mirza. Namun, di kalangan kawan-kawannya di SMA Pangudi Luhur Jakarta dan FE UI, ia biasa dipanggil dengan nama panggilan ”Jajak”. Istrinya, Arulita Handayani, adalahseorang pengusaha yang sukses, dan terakhir adalah Direktur Utama Pasaraya Nusakarya yang termasukdalam Latief Group.
Pada tahun 1984 Mirza belajar ekonomi pembangunan di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Lalu ia mengikuti jejak ayahnya sebagai bankir dengan bekerja pada Bank Sumitomo di Jakarta dari tahun 1989 sampai tahun 1993.
Pada tahun 1993 ia pindah bekerja pada Bank PDFCI sampai tahun 1994. Ia memperoleh fasilitas cuti di luar tanggungan perusahaan (Bank PDFCI) untuk melanjutkan kuliahnya mengambil program master jurusan Applied Finance pada Macquarie University di Sydney Australia dari tahun 1994 – 1995.
Setelah menyelesaikan studinya di Macquarie University, Mirza bekerja di berbagai perusahaan sekuritas, baik perusahaan asing maupun nasional. Mula-mula ia bekerja padaBZW Niaga Securitiesdari tahun 1995 – 1997 sebagai Banking Analist/Assistant Director, kemudian bekerja padaDeutsche MorganGrenfellsebagai direktur dari tahun 1997–1998.
Tahun 1998 hingga 2001, Mirza dipercaya sebagai direktur di Indosuez W.I.Carr. Kemudian tahun 2002-2005 menjabat direktur di Credit Suisse Securities. Kariernya kemudian beranjak ke Bank Mandiri. Pada 2005-2008, Mirza diangkat sebagai Managing Director Mandiri Sekuritas. Tahun 2008 hingga awal 2012, ia menjadi Kepala Ekonomi Bank Mandiri. Kini, Mirza menjabat sebagai Direktur Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menggantikan Firdaus Djaelani.
Selengkapnya, artikel ini bisa disimak di majalah InilahREVIEW edisi ke-42 yang terbit Senin, 18 Juni 2012. [tjs]