DIKENAL sebagai bankir yang ramah dan supel. Gabungan keandalan, profesionalisme, dan pribadi yang baik itulah yang sempat mengantarkan I Wayan Agus Mertayasa menjadi satu-satunya “orang dalam” yang masuk ke jajaran puncuk pimpinan Bank Mandiri. Saat Agus Martowardojo menjabat sebagai Direktur Utama Bank Mandiri, Mertaysa adalah wakilnya.
Memang, tak banyak orang yang tahu, bagaimana kedekatan Mertayasa dengan bekas bosnya itu. Namun, kata sumber, ketika sama-sama di Bank Mandiri, Mertayasa termasuk orang yang tidak berani menyampaikan kritik terhadap Agus.
Meskipun tak lagi di Bank Mandiri, namun pria kelahiran Tabanan, Bali, 19 September 1947, ini masuk dalam jajaran 14 calon Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (DK OJK) yang diseleksi Ketua Panitia Pelaksana yang juga Menteri Keuangan, Agus Martowardojo.
Benarkah terpilihnya Mertayasa sebagai calon DK OJK karena ia memiliki kedekatan dengan Agus Martowardojo? Rabu pekan lalu, setelah mengkuti fit and proper test di Komisi XI DPR, Vinsensius Segu dari InilahREVIEW mewawancarai mantan Wakil Direktur Utama Bank Mandiri ini. Petikannya:
Bagaimana Anda bisa menjadi calon DK OJK?
Saya lihat pengumuman, dan saya merasa memenuhi syarat. Lalu, saya diskusikan sama keluarga. Semua menyetujui, kemudian saya melamar. Artinya, dengan pengalaman yang saya miliki, barangkali ada kontribusi terhadap industri ini karena saya hidup di industri perbankan sudah 39 tahun. Rasanya kalau saya tidak berkontribusi sementara saya memenuhi syarat, tidak adil bagi saya. Makanya saya terpanggil untuk ini.
Anda cukup lama bersama Pak Agus Martowardojo saat di Bank Mandiri. Apakah ada permintaan agar Anda menjadi DK OJK?
Tidak ada itu. Saya melamar sendiri. Bahkan teman saya menyarankan kepada saya, apa enggak kulonuwun ke Pak Menteri. Terus saya katakan, enggak usah karena saya kan sudah pensiun dari Bank Mandiri. Mana berani saya ketemu sama Pak Menteri? Jadi, enggak ada permintaan seperti itu.
Apa menariknya OJK untuk Anda?
Saya hanya berusaha untuk ikut melamar dan belum tentu juga diterima. Kalau kita lihat semua kandidat yang ada, ini hebat-hebat semua. Punya keunggulan di bidang masing-masing. Ini juga menjadi tantangan saya untuk ikut dalam proses ini.
Banyak anggota dewan menyinggung soal independensi karena Anda dikenal dekat dengan Pak Agus. Komentar Anda?
Biar Anda tahu ya, dalam hidup saya, baru mengalami seleksi yang demikian ketat di OJK. Pertama untuk seleksi adminitrasi saja sudah begitu ketat. Anda bayangkan dari 290 pelamar, hanya 86 yang lulus administrasi. Berarti panitia akurat betul melihat semua aspek yang diperlukan, apa yang diserahkan dan bagaimana menyerahkannya, apa yang dibuat dan bagaimana membuatnya. Jadi, dari awal sudah menunjukkan orang yang di sini harus teliti.
Sekali lagi, ini adalah proses seleksi yang sangat ketat yang pernah saya alami. Bahkan untuk tes kapabilitas saja dilakukan oleh orang luar dari pagi sampai sore, sampai-sampai stres berat. Kemudian dilanjutkan lagi sampai jam delapan malam, baru selesai. Setelah lulus tes kapabilitas, baru masuk tes kesehatan dan seterusnya. Jadi sangat berat proses seleksi ini. Jadi, sekali lagi saya katakan, tidak ada yang namanya faktor kedekatan sama pansel atau siapapun.
Bagaimana Anda melihat sosok Pak Agus?
Oh, beliau sosok yang tegas, bersih dan pekerja keras, dan sangat mumpuni di bidangnya.
Mengenai integritas DK OJK yang sering dipertanyakan?
Memang, integrity ini yang menjadi masalah, dan kita harus melihat itu dan memperbaiki. Kita boleh berkawan, tapi kalau Anda salah kita harus sampaikan bahwa Anda salah.
Selengkapnya, artikel ini bisa disimak di majalah InilahREVIEW edisi ke-42 yang terbit Senin, 18 Juni 2012. [tjs]