Kamis, 20 Juni 2013 | 14:48 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Majalah InilahREVIEW Edisi ke-43
Inilah Para Jawara Bisnis Rokok
Headline
IST
Oleh: Aditya Mahario dan Adhitya Bay
ekonomi - Senin, 25 Juni 2012 | 08:32 WIB
Berita Terkait

Siapa orang Indonesia tak mengenal Djarum, Gudang Garam, atau Sampoerna? Tiga perusahaan inilah penguasa rokok di Indonesia selama puluhan tahun. Dari bisnis asap ini pula mereka meraup dana triliunan rupiah.

Nah, sudah bisa ditebak, predikat apa yang akhirnya mereka sandang. Para pemilik kerajaan bisnis rokok ini dinobatkan sebagai konglomerat. Bahkan majalah bergengsi, Forbes, memasukkan mereka dalam daftar orang-orang kaya Indonesia. Di situ ada nama Budi Hartono dan Michael Hartono, bos PT Djarum dengan jumlah kekayaan yang mencapai US$14 miliar atau sekitar Rp127 triliun. Kalau dihitung-hitung penghasilan Budi dan Michael Hartono per hari Rp345 miliar.

Di bawahnya ada nama Susilo Wonowijoyo, bos PT Gudang Garam dengan kekayaan US$10 miliar, sekitar Rp91 triliun. Jumlah ini melesat Rp1,3 triliun dibanding tahun 2010.

Putera Sampoerna juga menjadi orang terkaya kesembilan dengan kakayaan US$2,4 miliar (Rp21,9 triliun) karena rokok. Namun kerajaan bisnisnya, PT HM Sampoerna Tbk, ia jual pada 2005 kepadaPhilip Morris International.

Di tangan Philip Morris asal Amerika Serikat, bisnis rokok Sampoerna semakin berasap. Kini, Sampoerna adalah pemimpin pasar rokok Indonesia. Pada kuartal I-2012, pendapatan perusahaan ini naik sebesar 31,5% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Penjualan Sampoerna pada kuartal I 2012 mencapai Rp 15,4 triliun, meningkat dibanding penjualan di kuartal I 2011 sebesar Rp 11,7 triliun. Pada 2011, Sampoerna mencatatkan kenaikan volume penjualan sebesar 16,4% menjadi 91,7 miliar batang dari 78,8 miliar batang pada 2010. Kenaikan volume tersebut lebih tinggi dibanding pertumbuhan industri rokok di Indonesia, yang menurut data Nielsen, naik sekitar 8,9% pada tahun lalu.

Meski persaingan bisnis rokok di Indonesia semakin ketat, toh pangsa pasar perusahaan ini naik menjadi 31,1% pada 2011. Ini menandakan, konsumen dewasa di Indonesia menyukai produk-produk Sampoerna.

Menurut data AC Nielsen, penjualan rokok sigaret kretek mesin (SKM) atau yang dikenal rokok mild milik Sampoerna, tumbuh tertinggi di 2011 dari 2010 dibanding segmen rokok lainnya. Penjualan rokok mild tumbuh 22% menjadi 100 miliar batang di periode tersebut.

Pada 2011 lalu, penjualan sigaret kretek tangan naik 4% menjadi 85 miliar batang, sigaret kretek mesin filter naik 2% menjadi 87 miliar batang, dan penjualan sigaret putih mesin naik 5% menjadi 22 miliar batang. Total produksi Sampoerna tahun lalu diperkirakan mencapai sekitar 194 miliar batang.

Gudang Garam juga mengalami kenaikan pendapatan sebesar 21% di kuartal I 2012. Saat ini, kapasitas produksi Gudang Garam berkisar antara 7.000-10.000 batang per menit. Ini berarti, setiap hari produksi minimal sekitar 10.080.000 batang, atau maksimal sekitar 36 juta batang per hari. "Kapasitas mesin bisa jalan 7.000-10.000 batang per menit. Kembali lagi ke packer-nya yang ada untuk ekspor dan lokal," ujar Direktur dan Sekretaris Perusahaan Gudang Garam, Heru Budiman.

Bila dibandingkan dengan Djarum, produksi Gudang Garam jauh kalah. Budi Santoso, Direktur Produksi PT Djarum, mengatakan, tingkat produksi rokok perusahaan mencapai 140 juta batang setiap hari.

Tahun ini, Djarum berencana membeli pita cukai rokok senilai Rp12 triliun. Nilai pembelian pita cukai rokok itu meningkat 13% dibanding tahun lalu sebesar Rp10,6 triliun.

Dari rencana pembelian pita cukai rokok sebesar itu, nilai pajak pertambahan nilai (PPN) yang dibayarkan oleh Djarum diperkirakan mencapai Rp2,5 triliun. Tahun lalu, PPN yang dibayar Djarum mencapai Rp2,2 triliun.

Ironisnya, kekayaan para jawara bisnis rokok ini banyak disumbang dari rokok yang dibeli orang miskin. Menurut data Survei Sosial dan Ekonomi Nasional (Susenas) Badan Pusat Statistik pada 2009, enam dari 10 rumah tangga termiskin mengalokasikan pengeluarannya untuk rokok. Dan, sebanyak 68% rumah tangga di Indonesia memiliki pengeluaran untuk membeli rokok.

Nah lho.

Selengkapnya, artikel ini bisa disimak di majalah InilahREVIEW edisi ke-43 yang terbit Senin, 25 Juni 2012. [tjs]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.