BISAKAH Indonesia mempertahankan statusnya sebagai eksportir batu bara terbesar ke China dan India di tengah melambatnya pertumbuhan ekonomi di kedua negara tersebut akibat krisis Eropa? Yang optimis bilang, permintaan China tetap tumbuh karena ekonomi negara tersebut masih berjalan positif.
Benarkah? Mahbub Junaedi dari InilahREVIEW mewawancarai Bob Kamandanu, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Batubara Indonesia (APBI). Petikannya:
Bagaimana ekspor batu bara Indonesia di tengah krisis Eropa saat ini?
Industri pertambangan batu bara Indonesia, sedang menghadapi tantangan yang begitu riil. China dan India yang selama ini menjadi pemakan batu bara Indonesia, sedang mengalami perlambatan ekonomi. Ekspor kita ke China tertahan, karena mereka masih punya stok banyak. Tapi mereka tak bisa menumpuk terlalu lama. Sebab, kalau terlalu lama, akan terbakar. Mungkin sekitar bulan Oktober, stok mereka mulai menurun.
Tahun 2011, total produksi batu bara Indonesia mencapai 310 juta ton. Dari jumlah itu, sebanyak 150 juta ton diekspor ke China dan India, 60 juta ton untuk domestik, dan sisanya ke beberapa negara lain.
Selain masalah ekspor, saat ini harga batu bara turun drastis dari semula US$ 130 per ton menjadi hanya US$ 83 per ton. Kenapa ini bisa terjadi? Karena banyak pemain baru yang masuk, yang tidak ngerti nambang dan operasionalnya. Ada pemilik restoran punya batu bara. Kalau industrinya sudah terlalu banyak, maka jadi tidak sehat.
Kita juga menghadapi pemain-pemain di pasar internasional. Kalau dulu hanya Indonesia dan Australia yang menguasai pasar, kini tambah Afrika Selatan, Kolombia, termasuk Amerika Serikat yang sudah siap-siap mengekspor. Jadi, banyak pemain. Kalau dulu penjualan yang menentukan, sekarang pembelian yang menentukan.
Kalau China dan India seperti itu, alternatif ekspor ke negara mana lagi?
Enggak ada.
Jalan keluarnya?
Ya, akan berkurang ekspor kita. Ngapain kita repot menjual?
Ke pasar domestik, misalnya?
Masalahnya, penggunaan batu bara di Indonesia jalan di tempat. Dari tahun ke tahun, naiknya cuma 5 juta ton, karena regulasi dan undang-undang kelistrikannya yang masih dimonopoli oleh PLN. Saya sangat berharap penggunaan batu bara di Indonesia bisa mencapai 300 juta ton per tahun, agar tidak banyak yang diekspor. Selain itu, MP3I (Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia) benar-benar dijalankan agar terjadi pembangunan di dekat mulut tambang, baik mineral maupun batu baranya. Di situlah, Indonesia menjadi negara maju karena kaya semua.
Kalau begitu, apa yang sudah dilakukan APBI?
Kami hanya bilang ke pemerintah, tolong dibuatkan blueprint mengenai kelistrikan di Indonesia. Apa itu blueprint-nya? Di mana saja terjadi konsentrasi populasi? Di mana saja program PLN untuk membangun power plan? Apakah batu bara? Kalau ya, apa jenis batu baranya? Ini ditentukan, agar kami tahu mana yang boleh diekspor dan mana yang harus dibatasi.
Tanggapan pemerintah?
Pemerintah bilang, kami punya blueprint. Saya bilang, blueprint-nya harus detail. Batu baranya seperti apa. Kalau untuk power plan di Sulawesi, supaya dekat dan murah, harus disuplai oleh Kalimantan. Untuk Jawa, disuplai oleh Sumatra. Jadi, harus menyebar semuanya.
Dari situ, ketahuan berapa total cadangan batu bara Indonesia. Mau dipakai berapa tahun ini, 50 tahun atau 100 tahun. Jika 10 juta ton untuk satu tahun, maka 1 miliar ton harus diblok. Tidak boleh dipakai. Jika mau dibatasi, boleh. Tapi, tentukan dari mana angka jumlah ekspor itu. Ini enggak ada. Empat tahun lalu, kita diberi semangat untuk produksi, sekarang mau distop. Kan panik jadinya. Jadi, tidak ada program yang jelas.
Lantas, kalau krisis Eropa terus berlanjut, apakah ekspor batu bara akan distop?
Enggak mungkin. Mereka perlu. Tapi, lebih baik tidak kita jual dulu, sampai harga kembali naik.
Selengkapnya, artikel ini bisa disimak di Majalah InilahREVIEW edisi ke-44 yang terbit Senin, 2 Juli 2012. [tjs]