INILAH.COM, Jakarta - Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyarankan asosiasi untuk menyelaraskan pasokan dan permintaan guna mengatasi penurunan harga karet saat ini.
"Kita sudah memandang harga karet saat ini (US$2,9 per kg) sudah lampu kuning. Kalau lebih rendah lagi petani akan sangat dirugikan. Cost of product mereka tidak menutup," ujar Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi kemarin.
Menurutnya, penurunan harga karet yang terjadi saat ini memang karena disebabkan permintaannya yang lagi menurun. "Ini terkait juga dengan pasar industri otomotif dan ban dunia yang juga lagi turun," katanya.
Adapun langkah yang akan dilakukan Indonesia, menurut Bayu, adalah tetap membeli karet dari petani, tapi akan mencoba menyesuaikan pasokan karet olahan yang terdiri dari crumb rubber dan rubber smoked sheet. Selama ini crumb rubber ini mencapai 80% dari industri, sementara smoke sheet hanya 20%-nya. "Kita akan tetap membeli dari petani dalam bentuk latex dan kemudian akan diolah menjadi crumb, sehingga bisa disimpan sampai beberapa bulan," tukasnya.
Nah nantinya, lanjut Bayu, crumb ini akan dikeluarkan tergantung permintaannya. "Kalau permintaan dunia lagi turun, kita akan simpan dulu crumbnya, dan kalau permintaan naik kita keluarkan," tegasnya.
Selain itu, tambahnya, Indonesia juga akan melakukan koordinasi dengan negara penghasil karet terbesar dunia lainnya seperti Malaysia dan Thailand. "Kita sudah koordinasi dengan Thailand dan Malaysia dengan memandang bahwa harga karet saat ini sudah tidak bisa dibiarkan turun terus," tukasnya.
Sebelumnya Menteri Perdagangan Gita Wirjawan menyampaikan akan mempersiapkan langkah strategis untuk mengatasi harga karet yang terus menurun saat ini. Salah satu langkah itu adalah, menetapkan harga minimum atau harga pokok produksi (HPP) karet pada petani.
Menurutnya, penetapan harga patokan minimun untuk komoditas karet petani itu dapat menjadi alternatif yang dilakukan pemerintah agar harga karet bisa stabil. "Seperti yang kami lakukan terhadap gula, dan beras," kata Gita beberapa waktu lalu. [hid]