INILAH kabar gembira bagi bank swasta milik asing dan investor asing. Soalnya, Peraturan Bank Indonesia Nomor 14/8/PBI/2012 yang berlaku mulai 13 Juli 2012, telah membuka peluang bagi mereka mengakuisisi bank-bank yang kesehatannya rendah.
Maklum, bisnis perbankan di Indonesia begitu menggiurkan. Statistik Perbankan Indonesia (SPI) yang terbit April lalu memperlihatkan, bank BUMN dan swasta devisa rata-rata mampu mencetak net interest margin (NIM)5,31% dan 5,30%. Sementara NIM yang dihasilkan bank swasta nondevisa lebih tinggi lagi, yakni 10,29%.
Jadi, Indonesia benar-benar menjadi surga bisnis perbankan. Lihat saja kinerja kuarta I-2012 bank yang sahamnya dimiliki oleh asing. Kendati industri perbankan di negara mereka babak belur dihajar krisis, bank milik mereka di Indonesia justru panen fulus.
Citibank N.A cabang Indonesia, contohnya. Tahun lalu, bank berinduk di Amerika Serikat ini berhasil membukukan laba bersih Rp 1,89 triliun. Hal serupa terjadi pada The Hongkong and Shanghai Banking Corporation (HSBC) cabang Indonesia. Bank asing ini selama kuartal I-2012 membukukan laba bersih Rp 391 miliar atau tumbuh sebesar 76,07% dibanding periode yang sama tahun 2011.
Manisnya laba tak cuma dinikmati oleh cabang bank asing yang beroperasi di Indonesia. Bank-bank lokal milik asing pun ikut merasakannya. Bank Permata, misalnya. Di kuartal pertama tahun ini, bank yang 44,50% sahamnya dimiliki oleh Standard Chartered Bank itu berhasil membukukan laba bersih Rp 331 miliar atau tumbuh 3% dibanding periode yang sama tahun lalu.
Sementara itu Bank Internasional Indonesia (BII), yang 97,50% sahamnya dikuasai Maybank Malaysia, berhasil membukukan laba bersih Rp 267 miliar pada kuartal I-2012 atau naik 78% dibanding periode yang sama 2011. Ini merupakan prestasi terbaik BII sejak bergabung dengan Maybank. Kenaikan laba bersih juga berhasil ditoreh oleh bank-bank lokal milik asing lainnya, seperti CIMB Niaga, OECB NISP, Swadesi,dan QNB Kesawan.
Tak ketinggalan Bank Danamon. Bank lokal yang mayoritas sahamnya dimiliki Asia Financial, unit usaha yang 100% sahamnya punya Temasek asal Singapura, di kuartalI-2012 berhasil mencetak laba bersih sebesar Rp 2 triliun, atau naik 36% dibandingkan kuartal I-2011 sebesar Rp 1,473 triliun. “Di tengah perekonomian domestik yang relatif stabil, kami mampu tumbuh,”. kata Henry Ho,Presiden Direktur Danamon.
Maka, tak begitu salah apa yang dikatakan mantan Sekretaris Kementerian BUMN, Said Didu bahwa laba yang dihasilkan perbankan di Tanah Air membuat asing berlomba-lomba ingin membuka cabang atau memiliki bank di sini.
Apalagi Undang-undang Nomor 10 tahun 1998 tentang Perbankan mengizinkan asing menguasai saham bank domestik hingga maksimal 99%. Inilah yang membuat banyak bank lokal jatuh ke tangan asing. “Modal asing sangat gampang masuk ke sini. Sementara kalau kita mau membuka kantor cabang di luar negeri, susahnya setengah mati,” kata Gatot M. Suwondo, Direktur Utama BNI.
Gatot betul. Contoh yang paling gampang, tengok saja peraturan yang berlaku di Malaysia. Di sana, kepemilikan asing di bank domestik dibatasi maksimal 30%. Sungguh berbeda dengan di Indonesia. Di sini, asal punya modal, asing bisa berbuat apa saja. Mau sekadar membuka cabang boleh, mau mencaplok yang sudah jalan pun tidak masalah. Pokoknya, bebas.
Di Tangan Asing
Makanya jangan heran bila banyak bank lokal yang jatuh ke tangan asing. Paling tidak, seperti dirilis lembaga analisis dan publikasi data bisnis Indonesia, Katadata, saat ini ada 11 bank nasional yang kepemilikan asingnya lebih dari 40%. Sebut saja UOB Buana yang 98,99% sahamnya sudah dikuasai oleh United Overseas Bank, bank terbesar ketiga di Singapura.
Sementara 97,90% saham CIMB Niaga kini dikuasai CIMB Group, bank terbesar kedua di Malaysia. Bank lokal lain yang sebagian besar sahamnya dikuasai asing adalah BII (97,50%), OCBC NISP (85,06%), dan Bank Permata (44,50%).
Fakta penting lainnyajuga ditunjukkan oleh data Bank Indonesia. Kalau pada 1998 pangsa aset bank milik asing (bank swasta milik asing, bank campuran, dan unit bank asing) baru 11%, tahun 2011 melonjak menjadi 34%. Sebaliknya, pangsa pasar bank nasional justru turun dari 89%menjadi tinggal 66%. Penurunan ini seiring dengan maraknya akuisisi atas bank-bank swasta nasional oleh investor asing.
Peraturan Bank Indonesia juga disambut bank-bank besar yang memiliki modal kuat. Bank Mandiri, contohnya. Bank terkaya di Tanah Air ini telah menyiapkan dana Rp 10 triliun hingga Rp 20 triliun untuk mengakuisisi wholesales banking, ritel finance, dan syariah.
“Kalau banknya hanya beraset Rp 1 triliun–Rp 2 triliun, kami kurang tertarik. Kurang nendang,” kata Zulkifli Zaini, Direktur Utama Bank Mandiri. Saat ini pemerintah ini telah memiliki Bank Sinar Harapan Bali dan Bank Mandiri Syariah.
BRI juga menyatakan akan memanfaatkan momentum ini sebaik mungkin. Meskipun telah menguasai 88,65% Bank Agro, BRI memang terus mengincar bank lain dan perusahaan sekuritas. Bank Mutiara termasuk yang tengah diincar bank pemerintah ini.
Lantas, bank mana yang akan segera dieksekusi?
Selengkapnya, artikel ini bisa disimak di majalah InilahREVIEW edisi ke-47 yang terbit Senin, 23 Juli 2012. [tjs]