INILAH.COM, Jakarta - Krisis keuangan global yang melanda Eropa ternyata berdampak pada ekspor produk barang jadi rotan atau mebel hingga 50% terutama untuk tujuan ke Jerman dan Belanda.
"Pengaruh krisis Eropa memberi dampak gangguang hingga 50% pada ekspor seperti ke Jerman dan Belanda," kata Sekretaris Asosiasi Mebel Kayu Rotan Indonesia (AMKRI), Maulana S. Jaelani, Rabu (25/7/2012).
Akibat dari gangguan tersebut para produsen mebel rotan akhirnya mengalihkan ekspor ke Afrika dan Amerika Latin. "Namun hasil dari ekspor tersebut sangatlah kecil," ucap Maulana.
Menurutnya Eropa merupakan kawasan pangsa pasar terbesar pertama bagi eksportir barang jadi berbahan rotan. "Sekitar 200 juta produksi pangsa pasar ke Eropa, keduanya baru Cina," katanya.
Namun karena China selama lima tahun sebelum diberlakukan aturan penghentian ekspor bahan baku oleh pemerintah, ia mengimpor besar-besaran bahan baku rotan dari Indonesia. "Makanya Indonesia seperti memberikan peluru pada China untuk menembak kita, ya habislah kita," ungkapnya.
Akhirnya pemerintah menutup kran ekspor bahan baku ke China sebagai strategi peningkatan produksi barang jadi dalam negeri. "Bayangkan kalau harga bahan baku Rp10 ribu, harga barang jadi bisa Rp300 ribu," terang Maulana. [hid]