Senin, 20 Mei 2013 | 09:21 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Indonesia Harus Swasembada Kedelai di 2014
Headline
Inilah.com
Oleh: Ajat M Fajar
ekonomi - Rabu, 25 Juli 2012 | 23:07 WIB
Berita Terkait

INILAH.COM, Jakarta - Ketua Fraksi PKB, Marwan Jafar mengaku prihatin melambungnya harga kedelai dipasaran. Bahkan keprihatinan ini memuncak ketika beberapa produsen tempe dan tahu melakukan aksi mogok besar-besara atas kenaikan harga kedelai.

"Sejujurnya kita sangat prihatin dengan terus melonjaknya harga kedelai beberapa waktu belakangan. Namun di sisi lain, penghentian produksi massal akan memicu kelangkaan tempe dan tahu di pasaran sebagai makanan kegemaran masyarakat umum," ujar Marwan di Jakarta, Rabu (25/7/2012).

Menurutnya, kenaikan harga kedelai sebagai bahan baku tempe dan tahu disebabkan lantaran di Amerika sebagai importir sedang dilanda kekeringan. Persoalan ini memang di luar kewenangan pemerintah Indonesia sebagai salah satu produsen kedelai.

Meski begitu, kenaikan dan kelangkaan kedelai dipasaran saat ini bisa dijadikan sebagi hikmah bahwa agar pemerintah bisa menargetkan swasembada kedelai pada 2014 menjadi nyata.

Sebab dari data dilapangan kedelai dalam negeri hanya mampu memasok 800 ribu ton per tahun, sementara tingkat kebutuhan konsumsi kedelai nasional mencapai 3 juta ton per tahun.

"Masih tingginya impor kedelai yang mencapai 60% menjadi fakta tak terbantahkan bahwa sektor pertanian komoditi kedelai perlu segera mendapat perhatian khusus agar ke depan kita tidak bergantung lagi dengan kedelai impor, atau setidaknya mengurangi angka impor," ungkapnya.

Lebih lanjut, Marwan menambahkan, cara yang bisa ditempuh untuk bisa mewujudkan swasembada kedelai adalah dengan pengembangan petani kedelai lokal yang kualitasnya setara dengan kedelai impor.

Hal ini tentu tidak terlalu menjadi persoalan mengingat Indonesia sebagai negara agraris yang memiliki lahan setara dengan lahan importir kedelai.

Selain itu, pemerintah juga perlu mempertimbangkan secara matang usulan penghapusan bea masuk impor dari 5% menjadi 0%. Jika penghapusan itu benar-benar demi kepentingan rakyat dan keberlangsungan stabilitas nasional, maka tidak ada salahnya dihapus menjadi 0%.

"Meroketnya harga kedelai dan kelangkaan tempe bisa memicu pihak-pihak tertentu untuk mencari keuntungan sesaat. Untuk itu, pemerintah harus berani menindak para spekulan nakal dan pengusaha yang memonopoli pasar kedelai. Tindakan ini wajib dilakukan agar tata niaga kedelai menjadi lebih baik," ungkapnya. [rus]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.