INILAH.COM, Jakarta – Permintaan pembantu infal atau pembantu rumah tangga (PRT) musiman pada lebaran tahun ini masih membludak. Namun, penyedia jasa ini mengaku mulai kekurangan tenaga kerja.
"Memang untuk tahun ini terjadi peningkatan permintaan tenaga pembantu rumah tangga, hampir di atas 50%. Hanya sayangnya, tenaga kerja yang dibutuhkan kurang," kata Staf Yayasan Dwi Asih, Dani saat ditemui INILAH.COM di kantornya, Sabtu (11/8/2012).
Ia mengatakan minimnya tenaga PRT tersebut dikarenakan sebagian besar PRT yang sekitar 70% dari Lampung, memilih untuk menjadi buruh perkebunan di daerah asalnya.
"Para PRT sebagian besar dari Lampung dan kebetulan di sana saat ini sedang panen lada dan merica. Jadi, mereka lebih memilih buruh perkebunan yang memang lebih menjanjikan, ketimbang ke Jakarta jadi buruh rumah tangga," terang Dani.
Untuk mengantisipasi tingginya permintaan, Yayasan Dwi Asih pun terpaksa bekerja sama mencari suplai tenaga kerja dari yayasan lain. "Kalau di sini tidak ada (pembantu infal) dan masih ada majikan yang membutuhkan jasa PRT, ya kita upayakan dengan tempat (yayasan) lain untuk mensuplai tenaga kerja," ujarnya.
Senada dengan Ruminah, pemilik Yayasan Cendana Raya di Cipete, Jakarta Selatan. Menurutnya, untuk Lebaran kali ini, ketersediaan pembantu infalnya berkurang. Tenaga pembantu infalnya lebih memilih untuk mudik. Padahal, ia menargetkan tahun ini, pihaknya bisa menyalurkan lebih dari 600 pembantu infal.
"Untuk tahun ini kita menargetkan lebih dari 600 orang. Tapi rasanya hal itu agak sulit karena kebanyakan tenaga pembantu infalnya juga memilih untuk mudik dibandingkan bekerja saat Lebaran," ujarnya.
Adapun asisten rumah tangga infal Ruminah kebanyakan berasal dari daerah-daerah yang dekat dengan Jakarta. "Tenaga pembantu infal saya kebanyakan berasal dari daerah Bandung dan Pandeglang. Jarang dari yang Jawa Timur atau Jawa Tengah," katanya.
Ketua Asosiasi Pelatihan dan Penempatan Pekerja Rumah Tangga Seluruh Indonesia (APPSI), Farikin mengatakan, sebenarnya jumlah pembantu infal dan permintaan, saat ini relatif stabil. Meski Ia mengakui, ada kebutuhan di daerah asal atau keperluan pribadi para tenaga kerja tersebut.
Menurutnya, pembantu rumah tangga musiman ini terkesan berkurang karena penyebaran penyalur atau yayasan pembantu rumah tangga di kawasan Jakarta.
"Dulu, sekitar empat tahun lalu, tempat penyalur pembantu rumah tangga itu terpusat di Selatan Jakarta saja. Kini, seiring orang mengerti akan peluang tenaga musiman, penyalur-penyalur itu mulai menyebar ke pusat, utara dan barat Jakarta," katanya Farikin, yang juga memimpin Lembaga Jasa Penyalur pembantu rumah tangga Jasa Gria di Jatipadang, Jaksel.
Tentu kalau dilihat dari penyebaran ini, jumlah tenaga dan permintaan atau kebutuhan itu stabil, karena orang-orang yang membutuhkan jasa PRT musiman tersebut bisa menjumpai tidak hanya di Jakarta Selatan.
"Tenaga dan kebutuhan permintaan bisa dikatakan stabil, apalagi seiring dari menyebarnya orang kelas menengah ke atas ke pusat kota dan pengangguran yang ingin mencari kerja," jelas Farikin.
Siklus seperti ini menurutnya akan terjadi setiap tahun di musim lebaran sesuai hukum permintaan. [ast]