INILAH.COM, Jakarta - Penukaran uang di jalanan dan tidak di tempat-tempat resmi berpotensi merugikan masyarakat.
"Risiko yang terjadi kalau menukar uang di pinggir jalan itu kan jumlahnya dan keasliannya tidak bisa dipertanggungjawabkan. Jadi lebih baik datang ke tempat yang resmi," ujar Direktur Departemen Pengedaran Uang Bank Indonesia, Adnan Juanda dalam acara bincang-bincang di Gedung Bank Indonesia, Kamis (16/7/2012).
Sementara Deputi Direktur Kepala Divisi Penelitian dan Pengembangan Grup Kebijakan Pengedaran Uang, Ery Setiawan menambahkan selain berpotensi merugikan masyarakat, tindakan tersebut juga sangat mengganggu pengguna lalu lintas lainnya. "Siapa yang menjamin kalau ada selisih kurang, lebih, lalu asli, palsunya," tandas Ery.
Jadi, lanjutnya, akan lebih aman dan terjamin jika masyarakat menukar uang di outlet resmi. "Pasti asli, mestinya lebih benar. Lebih savelah dan tidak dipungut biaya," tukasnya.
Menurutnya, BI telah menyiapkan dana tunai khusus untuk penukaran uang sebesar Rp2 triliun. "Kita kan ada pembayaran bank, ada penukaran. Penukaran kita itu untuk BI sih sekitar Rp2 triliun secara nasional yang lewat counter penukaran. Itu termasuk yang Rp81 triliun outflow. Jadi bayaran ke bank itu sekitar Rp79 triliun, di mana yang Rp2 triliun sekian itu untuk penukaran," katanya. [hid]