INILAH.COM, Jakarta – Kemerdekaan di mata Direktur PT PLN (Persero) Nur Pamudji adalah pemerataan layanan listrik bagi seluruh masyarakat Indonesia, meskipun harus menggunakan pembangkit listrik kayu.
Nur Pamudji menuturkan, hingga saat ini, banyak daerah di pelosok Indonesia belum mendapatkan layanan listrik. Hal ini karena infrastruktur jalan yang belum tersedia.
Masyarakat pedalaman pun berpikir, keadaan gelap gulita ini menujukkan kondisi mereka yang belum merdeka. ” Ini artinya, mereka merasa belum merdeka kalau belum dapat layanan listrik," katanya ketika membeberkan arti kemerdekaan kepada INILAH.COM.
Ia mencontohkan penuturan salah satu penduduk di daerah Kupang yang sangat terisolir dan belum tersentuh listrik. “Kami sudah 66 tahun merdeka, dan baru sekarang kami menikmati listrik. Kami sekarang ini baru merasakan merdeka karena kami sudah menerima listrik dari PLN.”demikian ujarnya menirukan ucapan masyarakat setempat.
Namun, untuk membuat jaringan listrik di pedesaan pedalaman, PLN tidak bisa bekerja sendirian. Terutama karena PLN tidak bisa membangun listrik ke tempat yang jalannya belum ada.
"Jadi memang ada tempat-tempat di kampung belum terjangkau oleh listrik, karena belum dijangkau oleh jalan. Jadi kalau jalan sudah dibuat, walau itu jalan tanah, PLN bisa kembangkan jaringan listrik untuk desa tersebut," ujarnya.
Menurut Nur Pamduji, untuk mengembangkan listrik di pedesaan, PLN membangkitkan listrik dari kayu melalui gasifikasi. "Jadi saya sampai kirim insinyur ke Eropa dan ke India, saya mencari pembangkit listrik dari kayu supaya masyarakat pedesaan yang punya hutan memakai kayu untuk pembangkit listriknya," ungkapnya.
Saat ini, lanjutnya, pihaknya sudah mendapat pembangkit listrik kayu dan akan menjajalnya di Pulau Nias. Terkait kepentingan itu, Nur Pramudji sudah meminta Bupati Nias dan Sumba Barat menyediakan lahan 100 hektar untuk hutan tanaman industri. “Nanti kayunya ditebang untuk pembangkit listrik, supaya pulau-pulau itu mendapatkan sumber energi listrik tanpa keluar dari pulau," katanya.
Dengan metode pembangkit listrik kayu tersebut, maka daerah-daerah terpencil dan kepulauan terluar dapat teraliri listrik. Seperti Simele, Nias, Page Utara, Siberuet, Sipura, Solor, Alor, Tanimbar, Ambon, Banda, Tukang Besi, Asmat. “Ini memang sudah obsesi saya agar semua daerah di Indonesia kebagian listrik dengan cara macam-macam. Tidak hanya dengan batu bara, pakai kayupun bisa," terangnya.
Perusahaan setrum negara yang dikomandoi Nur Pamudji CS menargetkan tingkat elektrifikasi naik 3-5% setiap tahunnya. Saat ini tingkat elektrifikasi nasional sudah mencapai 75%. [ast]