Jumat, 24 Mei 2013 | 15:42 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Harry Is Mulyana
Jangan Biarkan Petani Bersaing Dengan Pasar Bebas
Headline
inilah.com/Wirasatria
Oleh: Restu A Putra
ekonomi - Jumat, 17 Agustus 2012 | 11:50 WIB
Berita Terkait

INILAH.COM, Jakarta- Sebagian kalangan optimistis bahan pangan kedelai bisa swasembada pada 2014. Namun tentunya perlu banyak langkah dan upaya yang perlu dilakukan pemerintah untuk melindungi petani lokal dari gempuran pasar bebas global.

Untuk mengetahui seperti apa seharusnya bahan pangan kedelai kita diperlakukan agar bisa produktif, berikut wawancara khususRestu Putra dari INILAH.COMdengan Harry Is Mulyana,

Peneliti Kedelai dari BATAN saat ditemui usai diskusi Swasembada Kedelai 2014 di gedung BPPT, baru-baru ini.


Bagaimana meningkatkan produktivitas pertanian kedelai? Terutama bila mengingat insentif terhadap petani kedelai yang tidak sebanding dengan tingginya ongkos biaya produksi?

Sebetulnya menurut analisis hitung-hitungan, kalau petani bisa meningkatkan produksi 2 juta ton saja, petani sudah untung. Waktu itu dengan harga Rp 7 ribu, kalau pemerintah mau mensubsidi di harga Rp 500 misalnya, kedelai bisa dibeli dengan Rp 6500.

Dengan tata niaga seperti itu, potensi (produksi) 2 ton saja bagi petani sudah lumayan, apalagi riset kita (BATAN) ada yang bisa meningkatkan 3 ton sampai 4 ton. Dengan minimal 2 ton saja, petani sudah untung. Itu kalau memang harga dan tata niaganya dilindungi oleh pemerintah. Sebab selama ini kan dibiarkan oleh negara.


Tata niaganya itu seperti apa?
Selama ini kan dibiarkan oleh pasar bebas, belum lagi di daerah-daerah, para tengkulak dan para pengepul bermain di situ, sehingga biasanya hasil petani diberi Rp 6 ribu atau Rp 6500 hanya dibeli Rp 4000. Akhirnya petani kan rugi dan mereka tidak bergairah untuk menanam kedelai. karena ya itu tadi, tidak ada kontrol pemerintah untuk memprotek petani.

Kalau di negeri-negeri maju seperti Jepang dan Amerika kan petani dilindungi oleh pemerintahnya sehingga mereka bergairah untuk berproduksi.


Berarti bukan karena jenis komoditinya yang tidak menarik?
Bukan karena komoditinya. Kalau jagung kan bisa produksi 5 ton saja, petani ya milih jagung, tidak usah repot menanam kedelai. Kemudian menanam padi, padi kan HPPnya sudah ada tuh Rp 4000, dia sudah bisa menghitung, kalau saya menanam padi misalnya menanam 4 ton atau 5 ton saja dikali Rp 4 ribu sudah menguntungkan.

Nah, kalau jagung biasanya banyak swasta yang bermain dan membeli untuk pakan ternak. Sementara kedelai tidak ada (upaya pengembangan) jadi tidak bergairah. Apalagi kedelai impor murah, petani jadi makin tidak bergairah.

Jadi, di situ sih intinya. Harus ada keberpihakan pemerintah. Kalau mau swasembada, juga harus ada pendampingan dari pemerintah. Jaman dulu (masa orde baru) kan ada temu wicara antara presiden dengan petani, sehingga petani merasa terpacu untuk melakukan pengembangan.


Untuk mendorong produktivitas dengan lahan terbatas, seperti apa kemungkinannya?
Saya pernah di Jawa Timur, di Banyuwangi dan Jember, petani itu sudah kadung cinta dengan kedelai. Orang lain menanam padi, tetap saja mereka menanam kedelai dengan pola kedelai-kedelai-padi (pergantian lahan).

Selain itu kalau habis menanam kedelai, tanahnya bagus dan subur, jadi dia bisa merecovery kesuburan tanah, kan kedelai itu dikenal memiliki zat pupuk hayati dari zodium di dalam tanamannya, sehingga setelah itu tanahnya jadi subur lagi.


Bagaimana dengan persoalan banyaknya hasil riset teknologi yang tidak sampai ke petani?
Hasil-hasil penelitian itu banyak disimpan saja di laci para peneliti. Itu yang harus diaplikasikan ke masyarakat, bisa melalui si peneliti itu langsung atau melalui penyuluh, supaya teknologi bisa sampai ke petani, tapi selama ini kan tidak.

Kalau riset varietas ini, terkadang kita (BATAN)terbentur pendanaan diseminasinya. Kan peneliti tidak punya dana diseminasi, ada juga dana yang dari ristek harus bertarung membuat proposal bagus, yang tidak mudah.

Sekarang varietas hasil penelitian BATAN berkembang di daerah sentra kedelai Jawa Timur seperti Banyuwangi. Petani lebih suka varietas Mitani hasil BATAN dan menggunakan varietas ini hingga 300 hektare. Kita (BATAN) menghasilkan teknologi varietas kedelai unggul. Varietas tersebut di antaranya Rajabasa, Mitani dan Mutiara 1, dan hasilnya dari sana bisa 2,8 ton per hektare.

Seberapa optimis dengan swasembada kedelai di 2014?
Kalau melihat dari sisi terobosan produksi ini, saya optimistis. Tapi kan tergantung kebijakan pemerintahnya dan political will mereka.

Persaingan petani lokal dengan petani global itu seperti apa?
Kalau bisa jangan dibiarkan petani lokal bersaing dengan pasar bebas, harus negara yang melindungi. Kewalahan petani kita melawan orang-orang yang sudah maju. Coba lihat di Jepang, pasti negara berpihak sama petaninya.

Harga beras di Jepang itu kan mahal dibandingkan di Thailand dan Indonesia, tapi mereka (petani Jepang) tidak mau membeli dari luar, negara mereka memprotek dan turut campur di situ. Artinya rasa nasionalisme mereka tinggi. Makanya kalau dibiarkan bersaing dengan pasar bebas, ya kalah petani kita. [ast]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.