INILAH.COM, Jakarta - Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2013 dinilai masih terlalu mementingkan dan memprioritaskan pembangunan pusat dari pada mengalokasikan anggran untuk pengembangan daerah.
Penilaian tersebut disampaikan Anggota DPR Komisi XI, Arif Budimanta kepada INILAH.COM, kemarin (17/8/2012). RAPBN 2013 tersebut baru saja (16/8/2012) disampaikan presiden Susilo Bambang Yudhoyono di hadapan DPR, dalam sidang Pleno pembukaan masa sidang tahun 2012/2013, Kamis (16/8/2012).
Padahal tersebut dianggap bertentangan dengan semangan pemerintah untuk memperkuat ekonomi domestik dan kesejahteraan rakyat secara keseluruhan.
"Ini (pidato anggaran oleh presiden) kan menunjukkan ketidakkonsistenan tema dan alokasi anggaran oleh pemerintah yang ingin memperkuat ekonomi domestik dan kesejahteraan rakyat, sebab kalau kita lihat alokasi infrastruktur lebih besar berada di kota, padahal kita sepakat akan membereskan masalah kemiskinan dan persoalan kemiskinan itu lebih banyak di desa bukan di kota," katanya.
Ia mengatakan anggaran untuk daerah sebesar Rp519 triliun, dana ini akan habis hanya untuk gaji pegawai. Dengan demikian dana tersebut tidak memberi arti apapun.
DPR siap membahas secara lebih detail dan memenuhi unsur pemerataan dan keadilan dengan pemerintah. Dengan demikian postur APBN 2013 nantinya bisa berubah dari yang telah diusulkan pemerintah.
Dalam RAPBN 2013, pendapatan negara direncanakan Rp1.507 triliun, atau naik 11 persen dar target APBN-P 2012. Jumlah tersebut terdiri atas penerimaan perpajakan Rp1.178,9 triliun, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Rp324,3 trliun, dan penermaan hibah Rp4,5. Dengan penerimaan perpajakan tersebut, raso penerimaan perpajakan (pusat) terhadap PDB (tax ratio) meningkat dari 11,9 persen daiam APBN-P 2012 menjadi 12,7 persen dalam tahun 2013.
Sedangkan beberapa asumsi makro dalam RAPBN tahun 2013 adalah pertumbuhan ekonomi 6,8 persen. Untuk laju infissi 4,9 persen. Sedangkan suku bunga SPN 3 bulan 5,0 persen. Penetapan nila tukar Rupiah Rp9.300/US$. Harga minyak mentah Indonesia US$100 per barel. Serta, produksi mnyak dan gas bumi Indonesia sebesar 2.260 ribu barei setara mnyak, yang meliput produksi mnyak bumi 900 ribu barel per hari Untuk lifting gas bumi yang mulai dimunculkan sebagai asums dasar baru dalam RAPBN ahun 2013 sebesar1.360 ribu barel setara minyak per hari.
Sedangkan untuk belanja negara, alokasinya mencapai Rp1.657,9 triliun atau naik Rp109,6 triliun yang setara dengan 7,1 persen dari pagu APBN-P 2012. Jumlah tersebut untuk pemerintah pusat Rp1,139 triliun dan untuk transfer ke daerah Rp518,9 triliun.[hid]