INILAH.COM, Jakarta - Pemerintah harus memperhatikan kemampuan domestik dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia yang ditargetkan 6,8% pada 2013.
Ekonom David Sumual menuturkan, ada tiga hal yang dikhawatirkan dalam asumsi makro dalam Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (RAPBN) 2013. Pertama, target pertumbuhan ekonomi. Target pertumbuhan ekonomi Bank Indonesia (BI) dinilai lebih realistis sekitar 6,3%-6,7% dibandingkan pemerintah sekitar 6,8% pada 2013.
Hal itu dikarenakan, perlambatan ekonomi global diperkirakan terus berlanjut pada tahun depan. Pertumbuhan ekonomi Indonesia masih akan ditopang konsumsi domestik dan investasi.
David mengakui, konsumsi domestik masih akan tetap stabil namun investasi dipengaruhi oleh perekonomian global yang cenderung melambat.
"Pemerintah harus memperhatikan kemampuan domestik untuk terus mendukung pertumbuhan ekonomi ke level 7%. Kondisi infrastruktur dan basic industry belum siap. Pertumbuhan kredit yang digenjot 25% pun belum terlalu berpengaruh, defisit transaksi berjalan melebar menjadi US$6,9 miliar pada kuartal kedua 2012 dibandingkan kuartal pertama 2012 sebesar US$3,2 miliar," jelas David, saat dihubungi INILAH.COM, Sabtu (18/8/2012).
Lebih lanjut ia mengatakan, surplus modal sekitar US$5,5 miliar sehingga masih defisit. Bila defisit besar maka akan mempengaruhi devisa termasuk pergerakan Rupiah. Kedua, asumsi makro pada RAPBN 2013, pergerakan kurs Rupiah Rp9.300. Ketiga, lifting minyak 900 ribu barel.
"Lifting minyak dalam tiga tahun terakhir cenderung tidak memenuhi target. Kenyataannya hingga semester pertama 2012 lifting minyak sekitar 870 ribu per barel, sehingga tiap tahun tidak memenuhi target karena tidak ada investasi baru. Bila tidak ada investasi baru maka produksi minyak akan menurun," kata David.
Selain itu, David mengatakan inflasi dapat saja sekitar 4,5%-5,5% pada 2013. Dalam asumsi makro ekonomi RAPBN 2013, inflasi sebesar 4,9%. "Inflasi memang tergantung harga pangan dunia. Saat ini sedang bencana di Amerika Serikat, Rusia, dan China membuat lonjakan harga pangan. Kenaikan harga pangan tersebut juga akan berdampak terhadap harga energi," tutur David.
Oleh karena itu, David menilai pemerintah harus memperhatikan kemampuan domestik seperti kondisi infrastruktur dan industri dasar terkait target pertumbuhan ekonomi sebesar 6,8% pada 2013. [hid]