INILAH.COM, New York - Negara konsumen minyak mentah terpaksa harus memeriksa cadangan minyaknya lagi. Harga minyak mentah menunjukkan tren penguatan setelah dua bulan baikot impor minyak Iran.
Langkah itu dilakukan kementerian energi pemerintah Inggris yang memilih untuk meminta International Energy Angency (IEA) mengambil tindakan untuk mengatasi tingginya harga minyak.
Sedangkan Prancis dan AS sedang mempelajari semua alternatif dengan kenaikan harga minyak mentah terakhir ini. Demikian juga dengan Jepang dan Korsel walaupun masih belum melihat perlunya menggunakan minyak cadangan. Hal yang sama juga dilakukan Uni Eropa yang sedang merancang aturan untuk mengurangi dampak dari krisis pasokan minyak mentah.
Embargo minyak mentah Iran dilakukan Uni Eropa karena mengembangkan program nuklir. Uni Eropa didukung AS dan Israel. Bahkan untuk menahan penguatan harga minyak lebih tinggi lagi, Presiden Israel Simon Peres siap menyerang Iran. Saat ini Israel masih memegang janji presiden AS mencegah Iran memproduksi senjata nuklir.
Tetapi kenaikan harga minyak juga didukung ketegangan politik di Suriah. Perang saudara masih belum berakhir sehingga masih terjadi sengketa anara pasukan pendukung Bashar al-Assad dengan para pemberontak.
Beruntung, pasar minyak mentah pada perdagangan Jumat (17/8/2012) mengalami aksi ambil untung. Harga minyak mentah turun hampir 1% dari level tertinggi. Minyak jenis Brent turun US$1,5 menjadi US$113,71 per barel. Pelemahan harga ini disebabkan cadangan premium AS ternyata melebihi US$22 per barel pada pekan ini. Pelemahan bertepatan dengan mulainya kontran pengiriman bulan Oktober.
Namun untuk minyak mentah AS meski terjadi aksi ambil untung ditutup masih menguat 41 sen menjadi US^96,01 per barel. [hid]