Rabu, 3 September 2014 | 06:40 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Majalah InilahREVIEW Edisi ke-02 Tahun II
Ekonom Econit: Hillary Amankan Kepentingan AS
Headline
Hendri Saparini, Ekonom Econit - ist
Oleh: Mahbub Junaedi
ekonomi - Senin, 10 September 2012 | 11:00 WIB
Berita Terkait

BANYAK kalangan melihat, salah satu misi yang dibawa Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Hillary Rodham Clinton dalam kunjungan dua hari ke Jakarta adalah mengamankan kepentingan ekonomi AS di Indonesia. Sejauh mana kebenaran analisis ini? Kamis pekan lalu, Hendri Saparini, ekonom dari Econit diwawancarai Mahbub Junaedi dari InilahREVIEW. Petikannya:

Apa arti kunjungan Menteri Luar Negeri AS, Hillary Clinton ke Indonesia?

Setiap negara, kalau melakukan kunjungan ke negara lain, pasti dia membawa kepentingan nasional mereka. Ini nomor satu. Walaupun dikatakan, ini untuk kepentingan regional, untuk kepentingan global, tapi tetap kepentingan global dan regional yang bermanfaat bagi dia.

Kunjungan-kunjungan kenegaraan ini, sebenarnya pada intinya ekonomi. Mau dia kunjungan politik atau apapun, muaranya pasti ingin memenangkan peperangan ekonomi di level global ini.Kalau kita melihat apa sih makna kunjungan ini, pasti tujuannya untuk kepentingan ekonomi Amerika.

Apa betul, ada agenda terselubung untuk kepentingan perusahaan AS di Indonesia?

Tadi saya katakan, bahwa tujuan utamanya pasti untuk ekonomi. Jadi, baik untuk yang sudah eksis di Indonesia maupun yang baru mau masuk. Investasi perusahaan AS di bidang migas dan pertambangan di Indonesia, cukup besar. Kita tahu yang menjadi monumen itu adalah Freeport, yang memang sedang menjadi sorotan luar biasa masyarakat Indonesia dan dunia. Pemerintahnya tentu ingin mempertahankan agar Freeport tetap ada di sini.

Artinya, memang ada agenda untuk Freeport yang dibawa Hillary?

Menurut saya, kalau untuk Freeport sudah sangat terbuka. Ini bukan agenda tersembunyi. Agenda tersembunyi justru yang lain, karena banyak juga ladang-ladang minyak yang sudah mau habis masa kontraknya. Kalau menurut undang-undang, harusnya dikembalikan ke Pemerintah Indonesia. Tetapi, UU Migas yang baru memaksa BP Migas memberi perlakuan yang sama antara pemerintah dengan kontraktor yang sudah mengerjakan.

Apa kepentingan AS terhadap posisi Indonesia di kawasan ASEAN?

Sangat besar. Indonesia itu, negara terbesar di ASEAN. Dan 2015 akan menjadi ASEAN Community. Artinya, satu pasar dan satu basis produksi. Kalau Indonesia dikuasai, lebih dari separuh pasar di ASEAN bisa dikuasai. Kalau kesepakatan-kesepakatan dibuat dengan Indonesia, separuh kesepakatan dengan ASEAN bisa dikuasai. Kenapa pada saat ada KTT ASEAN di Bali, Presiden Barack Obama, China, Korea,dan Jepang mementingkan untuk hadir? Karena begitu strategisnya ASEAN.

Apakah ini karena ketakutan AS terhadap dominasi China, khususnya di Indonesia dan umumnya di kawasan Asia Pasifik?

AS itu, akan selalu ketakutan terhadap China di mana-mana. Semula tujuan utama ekspor kita ke Jepang dan AS, tapi kini diambil alih oleh China. Di bidang investasi, Indonesia dan China, juga begitu erat. AS juga khawatir mendengar China akan terlibat dalam pembangunan infrastruktur besar-besaran di Indonesia.

Lantas, apa yang harus kita lakukan?

Semua negara apapun, dia harus memiliki posisi yang jelas. Dalam arti, apa sih kepentingan nasional kita itu? Kalau kita tahu diri bahwa kita punya kekayaan natural resources, lalu mau kita jadikan apa ini? Apakah kita jadikan komoditas yang bisa diperjualbelikan, atau akan kita jadikan modal untuk bersaing? Orang lain tidak punya energi murah, kita punya. Mestinya ada strategi untuk menempatkan energi alam ini sebagai salah satu faktor penentu daya saing kita. Sekarang ini kan tidak.

Kita memang tidak memiliki teknologi atau modal, tapi UU mengisyaratkan bahwa kepemilikan ada pada negara. Jadi harus kita buat bagaimana sistemnya agar kepemilikan tetap ada pada negara. Tidak seperti sekarang, begitu kita memiliki tambang yang sangat banyak ternyata kekayaan itu tidak ada pada negara. Tidak dicatat dalam neraca kekayaan negara. Tapi ternyata dicatat oleh para kontraktor karena ini bisa digunakan untuk mencari pendanaan dari pasar modal dan sebagainya. Ini yang harus kita tata.

Ingat, China itu membangun negaranya tidak dengan modal dia sendiri. Dia tidak menggunakan utang seperti Indonesia. Investasi asing, betul-betul dia giring kemana harus masuk lebih dulu. Jadi, ada strategi yang tegas saat mereka membutuhkan.

Selengkapnya, artikel ini bisa disimak di majalah InilahREVIEW edisi ke 02 Tahun II yang terbit Senin, 10 September 2012. [tjs]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA
BERITA POPULER