Kamis, 2 Oktober 2014 | 05:21 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Majalah InilahREVIEW Edisi ke-03 Tahun II
Ignasius Jonan, Sukses dari Akuntan Jadi Masinis
Headline
Dirut PT. KAI Ignasius Jonan - IST
Oleh:
ekonomi - Senin, 17 September 2012 | 09:41 WIB
Berita Terkait

ADA pemandangan yang tak lazim saat musim mudik dan arus balik Lebaran Agustus lalu. Meski dibanjiri penumpang, tidak terlihat lagi suasana semrawut di hampir seluruh stasiun kereta. Tidak ada lagi penumpang yang berdesak-desakan berebut naik ke atas kereta atau nekat masuk ke dalam gerbong melalui jendela. Semua penumpang pun bisa duduk dengan nyaman.

Itu semua berkat kebijakan baru yang diterapkan manajemen PT Kereta Api Indoensia (KAI). Mulai musim Lebaran kemarin,perusahaan milik negara ini tidak lagi menjual tiket berdiri untuk rute jarak sedang hingga jauh. Makanya, untuk kereta rute-rute tersebut semua penumpang kereta kebagian tempat duduk.

Tak hanya itu. Pemandangan yang lain juga terlihat di stasiun-stasiun. Saat peak season, lazimnya di stasiun akan disuguhi pemandangan antrean panjang pembeli tiket. Calo-calo tiket pun memanfaatkan kondisi ini dengan menawarkan harga tiket yang lebih mahal. Kini, pemandangan tidak itu sudah tidak ada lagi. Sebab, untuk membeli tiket, masyarakat tidak harus datang ke stasiun. ”Mereka bisa membelinya lewat online atauribuan outlet lainnya untuk membeli tiket kereta,” kata Ignasius Jonan, Direktur Utama PT KAI.

Semakin nyamannya naik kereta api dirasakan oleh seorang Ibu yang membawa anaknya yang masih Balita. Hal itu disampaikannya langsung kepada Jonan saat melakukan sidak ke Stasiun Poncol, Semarang. Menurut sang Ibu, dengan pelayanan yang makin baik, kini ia berani mengajak anaknya yang masih Balita naik kereta api. Seorang penumpang kereta api pun sempat berkirim SMS kepada Jonan. Katanya, setelah 67 tahun Indonesia merdeka, baru kali ini merasa nyaman dan aman naik kereta api.

Apa yang dilakukan PT KAI saat ini, menurut Jonan, merupakan revolusi yang luar biasa bagi orang banyak. Meningkatkan pelayanan memang menjadi prioritas PT KAI. Lihat saja di setiap stasiun kini terdapat loket atau ruangan khusus customer service, yang akan membantu penumpang bila mendapati masalah. Dengan menata penumpang menjadi tertib, stasiun kereta pun jadi terlihat bersih.

Tentu ini cukup mengejutkan. Sebab tidak pernah dibayangkan sebelumnya bahwa di stasiun kereta bisa tertib dan rapi seperti sekarang. Dan itu baru bisa terwujud saat ini ketika PT KAI di komandani oleh Jonan. Tak heran bila hasil kerja yang dilakukan jajaran PT KAI tersebut mendapat pujian dari Dahlan Iskan, Menteri BUMN. "KAI lancar, minim kecelakaan, makanya saya kasih nilai 8," katanya.

Menteri Perhubungan, E.E. Mangindaan pun ingin menjadikan kondisi stasiun kereta api saat ini bisa di contoh oleh pengelola terminal dan juga pelabuhan. “Kalaustasiun kereta api saja bisa rapi dan teratur, mengapa pelabuhandan terminal tak bisa,” ujarnya.

Membuatnya menjadi orang

Perubahan yang terjadi di tubuh PT Kereta Api sebenarnya boleh dikatakan merupakan hasil belajar yang keras dari Jonan. Betapa tidak, latar belakang pendidikan Jonan di jurusan akutansi berbeda jauh dengan bidang transportasi yang digelutinya. Karena itu, ketika ditawari menjadi “masinis” PT KAI, Jonan sempat menolak.

“Saya merasa itu di luar kemampuan saya. Bidang transportasi bukan keahlian saya, apalagi kereta api,” katanya. Tapi setelah dibujuk sana sini, ia akhirnya mau dipantik menjadi Direut PT KAI, Februari 2009.

Untuk operasional angkutan Lebaran, ia pun rela belajar selama tiga tahun dari alm. Sudarmo Ramadhan, Wakil Direktur PT KAI saat itu. “Persoalannya saya tidak pernah tahu berapa banyak mereka yang akan menggunakan angkutan kereta api untuk mudik. Kalau jumlah armada kereta, saya tahu persis,” katanya. Sejak itulah pembenahan pelayanan dilakukan, khususnya pada angkutan Lebaran.

Jonan mengawali langkahnya dengan membenahi pelayanan dasar yang ada di PT KAI. Ia mengubah orientasi perusahaan dari orientasi produk ke orientasi pelanggan. Ia berusaha mengubah bagaimana organisasi ini dapat memenuhi keinginan para pelanggannya.

Sebelumnya, memang, ada ungkapan bahwa perubahan di KAI tak diperlukan karena toh orang akan tetap naik kereta. Sekarang, mentalitas semacam ini sudah tidak bisa dipakai lagi. “Kami coba melakukan semaksimal yang kita bisa. Pelayanan kereta api limitnya langit,” ujar ayah dua orang putri ini.

Jonan adalah sulung dari lima bersaudara. Ayahnya, Jusuf Jonan, seorang pengusaha asal Surabaya. Sementara ibunya merupakan putri seorang pejabat tinggi Singapura. Jonan melewati masa kecilnya di Singapura. Kemudian ia pindah ke Surabaya hingga menyelesaikan studinya di Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga.Selepas itu, Jonan melanjutkan sekolah di Amerika. Finance dan International Law adalah bidang yang digelutinya.

Sepulang dari Amerika ia bergabung dengan PT (Persero) Bahana Pembiayaan Usaha Indonesia (2001-2006), dengan jabatan terakhir sebagai Direktur Utama. Kemudian ia loncat dan bergabung dengan Citi Group Indonesia (2006-2008) dengan jabatan sebagai direktur investasi.

Fasilitas mewah yang dimilkinya, seperti ruangan yang ber-AC dan mewah sebagai seorang direktur di sebuah perusahaan keuangan multinasional ditinggalkannya. Ia akhirnya memilih kepanasan hingga basah berkeringat untuk mengurai setumpuk persoalan yang ada di PT KAI.

Sejak bersekolah di Amerika, Jonan memiliki keyakinan, jika seseorang mau mengubah sesuatu, ia harus yakin bisa melakukannya. Keyakinan itu menjadi modal yang bagus ketika membenahi PT KAI.

Bersama jajarannya, Jonan berusaha meyakinkan parlemen, pemerintah, dan para stakeholder untuk mengembalikan kereta api sebagai tulang punggung transportasi, khususnya di pulau berpenduduk padat seperti Jawa dan Sumatra. Selain itu, Jonan juga berjuang untuk meyakinkan masyarakat bahwa kereta api merupakan sarana transportasi yang terjangkau.

Kini, laki-laki kelahiran Singapura (21 Juni 1963) itu merasa bersyukur akhirnya bisa bergabung di PT KAI. Menurutnya, PT KAI telah membuatnya menjadi orang yang lebih baik karena mampu berguna bagi orang banyak. PR selanjutnya yang akan dilakukan Jonan adalah membenahi pelayanan kereta api untuk jarak dekat.

Selengkapnya, artikel ini bisa disimak di majalah InilahREVIEW edisi ke-03 Tahun II yang terbit, 17 September 2012. [tjs]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
5 Komentar
Ir.Said Nizam Aljazzer, MM
Selasa, 11 Maret 2014 | 11:03 WIB
Bukan Main encernya otak pak Jonan. Sejak dulu kita kenal bagaimana sumpeknya jika naik kereta api. Saya tinggal di Medan, waktu mau naik jurusan Medan-rantauprapat alamaaak........ padatnya bukan main, penumpang bergantungan di setiap gerbong. Tapi sekarang lapangnya...., dan lebih asri. It is so miracle, Congratulation 4 U Jonan. Terimakasih.........
Marselina Maryani
Senin, 25 November 2013 | 19:59 WIB
Maju terus pak jonan, dg ttp mnjaga integritas dan disiplin......bersikap tegas tapi tdk kasar......yesus mmberkati
Susanto
Rabu, 20 November 2013 | 12:49 WIB
Salute Bung Jonan; anda melakukan tindakan dan berbuat "FENOMENAL" dengan kereta. Lanjutkan Anda sudah berbuat kongret untuk kemaslatan umat manusia (penumpang). Saya berdoa untuk kesehatan dan kebahagian anda dan kel. Terima kasih.-
Hendy Gunawan
Selasa, 10 September 2013 | 07:24 WIB
Yth. Dirut PT. KA dengan hormat, Kami sebagai pengguna trnsportasi khususnya Kereta Api sudah hampir setahun ini KRD Bumi Geulis dengan trayek Sukabumi - Bogor berhenti beroperasi. Kami sangat mengharapkan sekali agar kereta ini secepatnya dapat beroperasi kembali mengingat angkutan darat lainnya selain macet, tarif tinggi juga tidak nyaman dan aman. Beberapa kali massa baik ormas, LSM ataupun forum mahasiswa melakukan unjuk rasa mempertanyakan kapan kereta diaktifkan kembali. Kami melihatnya PT. KA menganaktirikan jalur selatan Jawa Barat mulai dari Bogor - Sukabumi - Cianjur - Bandung, padahal seluruh pembiayaan untuk revitalisasi jalur tersebut berasal dari pemerintah dan kini sudah siap dilalui 100%. Kalaupun dirasa PT. KA merugi sebenarnya bisa minta subsidi (PSO) seperti halnya jalur-jalur lain untuk lintas KA ekonomi.
Bravo
Selasa, 18 September 2012 | 07:55 WIB
BRAVOOO untuk Pak Ignatius Jonan !iringde the
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA
BERITA POPULER