INILAH.COM, Jakarta – Ketegangan China-Jepang terkait sengketa pulau tidak berpenghuni, masih berlanjut. Bahkan seorang peneliti mengatakan, China bisa menang, bila menggunakan posisinya dalam perekonomian dunia.
Jin Baisong, wakil direktur unit penelitian kebijakan yang berafiliasi dengan Kementrian Perdagangan China mengatakan, China bisa menggunakan posisinya sebagai kreditor terbesar atau menggunakan pengaruh ekonomi lainnya terhadap Jepang, jika Tokyo tidak menurunkan tegangan dalam sengketa teritorial.
“China harus mempertimbangkan pengaruhnya di pasar obligasi Jepang, sebagai usaha untuk menjatuhkan sanksi terhadap Jepang dengan cara yang paling efektif,”katanya, Rabu (19/9/2012).
Pernyataan itu menyarankan China membuang obligasi pemerintah Jepang senilai US$ 230 juta.
“Populasi Jepang yang menua, berkurangnya tabungan rumah tangga, dan menurunnya daya beli akan menambah utang negara dan menciptakan tren berkelanjutan untuk penurunan ekonomi jangka panjang," tulis Jin dalam China Daily.
Jin mengatakan, memburuknya fiskal Jepang tampaknya akan berlanjut, dengan ekonomi siap untuk melambat bahkan tergelincir ke dalam resesi pada 2013.
Seperti diketahui, ketegangan antara kedua negara meningkat atas klaim terhadap sekelompok pulau tak berpenghuni, yang dikenal sebagai pulau Diaoyu di China dan Senkaku di Jepang.
Media lokal China melaporkan berlanjutnya protes anti-Jepang di kota-kota besar China, menyusul protes massa di puluhan pusat-pusat perkotaan China selama akhir pekan.
Protes berubah menjadi kekerasan di beberapa tempat, mendorong beberapa perusahaan Jepang menutup operasi manufaktur dan outlet ritel mereka di China.
Menurut Jin, China memiliki kemampuan untuk menjatuhkan sanksi perdagangan terhadap negara-negara lain. Ia merujuk pada posisi China sebagai negara dengan ekonomi terbesar kedua dunia, yang memiliki cadangan devisa terbesar, dengan peringkat pertama dan kedua secara global dalam hal ekspor dan impor.
Terkait hal ini, Jin pun mendesak Beijing untuk memohon klausul "pengecualian keamanan" di bawah perjanjian Organisasi Perdagangan Dunia.
Dia mengatakan klausul, yang diterapkan dalam kasus melindungi kepentingan keamanan nasional, dapat digunakan untuk menjatuhkan sanksi ekonomi terhadap perusahaan asing, bank atau bahkan pemerintah asing.
“China bisa saja mengurangi ekspor beberapa bahan penting untuk Jepang, seperti produksi logam langka yang didominasi China.”
Riset Nomura mengatakan, perusahaan-perusahaan Jepang, terutama produsen mobil, berpotensi menghadapi dampak yang lebih parah dari gelombang sentimen anti-Jepang, ketimbang situasi selama krisis periode sebelumnya pada 2005 dan 2010, yang dengan cepat dilupakan oleh konsumen China.
“Kali ini, mungkin ada dampak yang lebih panjang atas penjualan mobil Jepang di China," kata Nomura. [ast]