SEJAK memimpin Jamsostek, Elvyn G. Masassya rajin mengumpulkan informasi tentang Rumah Sakit (RS) Pelni. Bukan karena pria kelahiran Medan 45 tahun silam ini akan dirawat di rumah sakit tersebut. Tetapi ia mendapat tugas dari Menteri BUMN Dahlan Iskan untuk menjajaki kemungkinan Jamsostek mengakuisisi rumah sakit yang berlokasi di Petamburan, Jakarta Barat.
Menurut Elvyn, pihaknya saat ini masih mengkaji mekanisme akuisisi RS Pelni, termasuk besarnya dana yang diperlukan. “Kami sudah sepakat mengakuisisi, tapi prosesnya seperti apa, kami sedang melakukan kajian," kata Elvyn. Informasi yang berhembus dari Kementerian BUMN menyatakan, Dahlan telah memberikan lampu hijau kepada Jamsostek untuk ambil 80% -100% saham RS Pelni.
Bagi Jamsostek, sebenarnya tidak terlalu sulit untuk mengakuisisi RS Pelni. Toh selama semester I-2012 hasil investasi BUMN ini sudah mencapai Rp 6,64 triliun. Sementara itu dana kelolaanya hingga akhir Juni lalu telah mencapai Rp 120 triliun. Untuk mengakuisisi RS Pelni, diperkirakan hanya dibutuhkan dana sebesar Rp 6 triliun. Itu artinya hanya 5% dari dana kelolaan Jamsostek.
Sebelum rencana akuisisi RS Pelni, Jamsostek tengah berencana untuk membangun 200 poliklinik di Jakarta. "Akuisisi rumah sakit dan pembangunan poliklinik menjadi satu kesatuan studi kelayakan. Saat ini kami sedang kaji, mana yang lebih layak," kata Elvyn.
Begitulah kesibukan Elvyn setelah menjadi Dirut Jamsostek. Sebelum duduk sebagai komandan di Jamsostek, alumni Magister Manajemen Institut Teknologi Bandung ini menjabat sebagai Direktur Investasi Jamsostek sejak 2008. Pada 7 Agsutus 2012 lalu ia dipercaya memimpin Jamsostek, menggantikan Hotbonar Sinaga.
Penunjukan Elvyn ini mendapat dukungan dari Hotbonar. Menurutnya, Elvyn merupakan sosok yang tepat untuk menggantikan dirinya. “Elvyn akan melanjutkan program yang selama ini telah dirintis oleh Jamsostek, termasuk transformasi menjadi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Nasional (BPJS),” kata Hotbonar.
Dalam setahun terahir ini memang sudah terlihat ada tanda-tanda bahwa Elvyn akan mengantikan posisi Hotbonar. Boleh jadi, Hotbonar pula yang merekomendasikan Elvyn untuk menduduki posisi Direktur Utama PT Jamsostek (Persero). Soalnya, dalam beberapa kesempatan, Elvyn sering diberi tugas untuk mewakili Hotbonar dalam beberapa acara.
Elvyn memang punya kredit poin di mata Hotbonar. Saat Hotbonar duduk di kursi direktur utama, sebenarya Jamsostek tengah menghadapi potential lostRp 3,7 triliun pada portofolio investasinya. Hotbonar pun menugaskan Elvyn untuk bisa meredam potential lost tersebut. Maklum, saat itu kondisi pasar modal di Indonesia tengah menukik menyusul imbas dari krisis ekonomi di Amerika.
Musik paling demokratis
Di saat harga-harga saham tengah berada di titik nadir, Elvyn justru memutuskan memborong saham-saham tersebut. Tak berapa lama kondisi pasar modal berangsur pulih hingga investasi Jamsostek malah mencetak potential gainRp 3,6 triliun. Elvyn mengakui, itulah keputusan tersulit yang ia pernah buat di Jamsostek. Sebab, jika ia salah memprediksi arah pergerakan pasar, bukan tak mungkin potential lostJamsostek akan tambah membengkak.
Setelah menjadi Direktur Utama, fokus Elvyn tentu tidak lagi berkutat pada hal-hal teknis. Ia kini lebih menjalankan fungsinya untuk memberikan visi yang tepat bagi Jamsostek. Apalagi kini BUMN ini tengah menghadapi fase transisi menjadi BPJS tahun 2014. Elvyn dinilai akan mampu mengawal perubahan yang tinggal 15 bulan itu.
Sosok Elvyn memang tidak terlalu asing bagi publik. Semasa menjadi bankir di BNI, ia rajin tampil di media massa sebagai nara sumber atau kolumnis yang mengulas krisis moneter 1998-2000. Selepas dari BNI, penyuka musik jazz ini ditugaskan sebagai Komisaris Bank Bali pada 2001. Kariernya dilanjutkan di Bank Permatasebagai direktur (2002-2007). Ia sempat kembali ke BNI, sampai akhirnya ditunjuk sebagai Direktur Tuban Petrochemical dan Direktur Investasi Jamsostek (Desember 2008).
Di luar kesibukannya sebagai ekskutif, Elvyn banyak menghabiskan waktu luangnya dengan bermain musik. Saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar, Elvyn sudah mengikuti Bina Musika. Ia pernah membentuk grup band yang digelutinya hingga duduk di bangku kuliah. Elvyn pun pernah mendapatkan penghargaan sebagai grup band dan pemain keyboardterbaik di tahun 1986.
Tak hanya piawai bermain musik dan melantunkan lagu, Elvin juga termasuk pencipta lagu yang cukup produktif. Bahkan ketika masih duduk di bangku SMA, ia pernah menyandang predikat sebagai pencipta lagu terbaik dalam sebuah festival di Medan, Sumatra Utara. Hingga 2005 lalu tercatat 9 album sudah ia ciptakan dan berkolaborasi dengan berbagai musisi ternama di tanah air.
Elvyn menyukai aliran musik jazz karena, menurutnya, musik jazz merupkan musik yang paling demokratis. “Setiap pemain dalam musik jazz diberi kesempatan untuk menunjukkan keahliannya,” katanya.
Selengkapnya, artikel ini bisa disimak di majalah InilahREVIEW edisi ke-04 tahun II, yang terbit Senin, 25 September 2012. [tjs]