Kamis, 24 Juli 2014 | 13:24 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Bijakkah Kenaikan Tarif Listrik 2013?
Headline
IST
Oleh: Ranto Rajagukguk
ekonomi - Senin, 7 Januari 2013 | 03:15 WIB
Berita Terkait

INILAH.COM, Jakarta –Meski menuai pro dan kontra, kenaikan Tarif Tenaga Listrik (TTL) 15% sudah dimulai awal 2013 ini dengan opsi tiga bulan. Apakah ini pilihan yang bijak?

Pengamat energi Fabby Tumiwa mengatakan, kenaikan tarif listrik per tiga bulan menguntungkan pemerintah, dalam hal ini Perusahaan Listrik Negara (PLN). Terutama karena PLN bisa menambah investasi pembangkit hingga transmisi dengan kenaikan TTL. “Kenaikan tarif listrik per tiga bulan merupakan opsi terbaik yang dipilih pemerintah,”ujarnya di Jakarta.

Menurut Fabby, pemerintah telah mengkaji keuntungan dan kerugian terkait dampak dari kenaikan TTL tersebut. "Jika tarif listrik langsung naik 15 persen akan memberatkan masyarakat. Sementara bila dinaikkan per tiga bulan, kemungkinan efeknya tidak terlalu besar," katanya.

Senada dengan Anggota Komisi VII DPR - RI, Satya Widya Yudha yang menilai, menaikkan TTL secarabertahap yaitu dengan tiga bulan sekali,jauh lebih baik. "Jauh lebihrasional dengan menaikkan tiga bulan sekali daripada sekaligus dalam satubulan," ucapnya dihubungi terpisah.

Seperti diketahui, Pemerintah akhirnya menaikkan tarif tenaga listrik (TTL) per 1 Januari 2013 per tiga bulan, dengan besaran masing-masing 4,3%. Kenaikan yang akan menghemat subsidi APBN hingga Rp14 triliun tersebut, dibutuhkan untuk menekan subsidi listrik yang telah menembus Rp90 triliun.

Selain itu, kenaikan tarif juga akan meningkatkan rasio elektrifikasi Indonesia yang hanya 75%. Ini berarti membuka kesempatan bagi 3 juta pelanggan baru yang saat ini belum mendapatkan aliran listrik.

Adapun kenaikan TTL ini diberlakukan bagi semua golongan pengguna listrik dengan daya di atas 900 volt ampere (VA). “Untuk pengguna daya 450–900 VA tidak ada kenaikan karena itu orang tidak mampu,” ujarMenteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik baru-baru ini.

Satya berharap, pascakenaikan tarif ini, PLN akan jauh mengedepankan efisiensi.Artinya, sejumlah proyek untuk menjalankan energi alternatif, seperti panas bumi (geothermal) dan air sebagai pengganti bahan bakar minyak (BBM), perlu ditingkatkan demi mengoptimalkan pembangkit listrik.

Ia juga megimbau agar diadakan penerapan skema feed in tariff untuk menunjang program elektrifikasi nasional yang lebih feasible. “Dengan kebijakan feed-in tariff , harga listrik di setiap daerah berbeda-beda bergantung pada nilai investasi, kapasitas pembangkit, dan jenis energi terbarukan yang dimanfaatkan,”katanya.

Namun, pengamat energi dari Refor- Miner Institute Pri Agung Rakhmanto mengatakan, kenaikan tarif listrik sebenarnya tidak berkorelasi langsung dengan perbaikan kinerja kelistrikan nasional. “Saya pikir, pembenahan pengelolaan energi primer pembangkit, jauh lebih penting,”ujarnya.

Menurut Pri, dari sisi penghematan anggaran,menurutnya,kenaikan harga BBM bersubsidi lebih besar pengaruhnya dibandingkan kenaikan tarif listrik.“Yang semestinya dilakukan pemerintah sebenarnya adalah menaikkan harga BBM bersubsidi,”tuturnya.

Namun, ia meragukan keberanian pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi dan tarif listrik secara bersamaan tahun ini.Sebab harga minyak dunia diperkirakan tidak akan jauh berbeda dari asumsi harga minyak Indonesia (ICP) pada APBN 2013,yakni US$100 per barel.

Di sisi lain, Vice Secretary General Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Franky Sibarani menilai, ada ketidakadilan dalam kebijakan kenaikan TTL ini, terutama karena pemerintah melakukan pengecualian terhadap pelanggan dengan daya 450 VA dan 900 VA.

”Jika pemerintah mau melakukan kenaikan TDL, alangkah baiknya dikenakan pada seluruh pelanggan PLN. Kenaikan itu menurut kami tidak memberatkan bagi pelanggan 450 VA dan 900 VA. Karena kalau dihitung naiknya kecil.,”katanya.

Menurut Franky, lebih dari 70% pelanggan PLN berasal dari Rumah Tangga (RT) sementara subsidi hanya diberikan sebesar 50%. Ia pun menilai, pemerintah terlalu memanjakan konsumen dengan mengorbankan sektor produktif. “Padahal, seharusnya sektor industri mendapatkan keringanan dalam penentuan TDL,”ucapnya.

Sementara Pengurus Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia Tulus Abadi mengatakan, kenaikan tarif ini tidak membawa pengaruh signifikan terhadap subsidi listrik. Selain merugikan masyarakat, mengingat harga-harga barang juga akan terdongkrak naik. “Otomatis harga barang juga akan naik karena listrik adalah sumber vital bagi usaha produksi yang berdampak di masyarakat,” ucapnya. [ast]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA
BERITA POPULER