Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 20 Oktober 2017 | 06:30 WIB

Transaksi NDF Dapat Ganggu Kepercayaan Pasar

Oleh : Agustina Melani | Rabu, 30 Januari 2013 | 17:57 WIB
Transaksi NDF Dapat Ganggu Kepercayaan Pasar
inilah.com/Wirasatria
facebook twitter

INILAH.COM, Jakarta - Manipulasi nilai tukar di pasar valuta asing khususnya Rupiah di Singapura dinilai dapat menganggu kepercayaan di pasar.

Pengamat perbankan David Sumual menuturkan, saat ini mata uang Rupiah seperti memiliki dua patokan yaitu di bank domestik dan bank di luar negeri seperti Singapura. Nilai tukar mata uang Rupiah memiliki selisih cukup besar antara bank domestik dan bank di luar negeri tersebut. Selain Rupiah yang dipermainkan oleh segelintir pihak, David menuturkan, mata uang Vietnam dan Malaysia juga dipermainkan.

"Bukan hanya Rupiah yang dipermainkan tetapi juga Ringgit dan Dong. Saat ini sedang diinvestigasi oleh otoritas di Singapura. Sementara tekanan terhadap Rupiah memang beberapa bulan terakhir kabar di pasar kalau neraca berjalan Indonesia kurang baik, tetapi tidak seburuk yang diperkirakan," ujar David, saat dihubungi INILAH.COM, Rabu (30/1/2013).

Lebih lanjut David mengatakan, defisit Indonesia sekitar 2% terhadap produk domestik bruto (PDB), dan itu masih lebih kecil dibandingkan defisit negara terkena krisis seperti Amerika Serikat dan negara di Eropa serta negara berkembang lain. Memang sentimen tersebut mempengaruhi nilai tukar Rupiah.

Adapun dengan ada manipulasi nilai tukar di pasar valuta asing itu, David mengatakan, hal tersebut dapat menganggu kepercayaan di pasar.

"Nilai kurs Rupiah di bank domestik sekitar 9.500-9.600, sedangkan di luar negeri dapat mencapai 9.800. Nah non delivery forward itu mengambil margin selisih itu. Jual dan beli di kurs tertentu lalu mengambil keuntungan dari margin tersebut, jadi semacam spekulasi. Bahaya juga untuk negara yang kena manipulasi seperti Indonesia, Malaysia, dan Vietnam, " kata David.

David mengakui, memang agak sulit untuk mengatur mekanisme non delivery forward tersebut. Hal itu dikarenakan dilakukan di luar negeri. "Agak sulit mengatur itu, karena itu kewenangan otoritas di luar negeri," tutur David.

Meski begitu, David mengatakan, Bank Indonesia (BI) dapat memberikan instrumen lindung nilai (hedging) di dalam negeri dengan aturan jelas. "Dengan lindung nilai itu diharapkan dapat mengamankan transaksi agar tidak rugi. .Oleh karena itu perlu ada koridor aturan agar menghindari spekulasi juga," ujar David.

Berdasarkan hasil peninjauan perbankan Singapura menemukan bukti telah terjadi persengkongkolan untuk memanipulasi nilai tukar di pasar valuta asing. Pihaknya menemukan bukti yang menunjukkan adanya pedagang valuta asing dari beberapa bank melalui pesan elektronik tentang berapa nilai tukar yang akan mereka ajukan kepada asosiasi perbankan untuk non-delivery foreign exchange forward (NDF) atau transaksi devisa non-delivery forward guna mengambil keuntungan dalam transaksi perdagangannya.

Komentar

 
x