Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 1 Agustus 2015 | 06:25 WIB
Hide Ads

Kemenkeu: Tarif Bea Masuk Hortikultura harus Pas

Oleh : Wiyanto | Jumat, 5 April 2013 | 15:47 WIB
Kemenkeu: Tarif Bea Masuk Hortikultura harus Pas
(Foto: inilah.com/Agus Priatna)

INILAH.COM, Jakarta - Penerapan bea masuk atau tarif terhadap produk hortikultura itu jangan sampai salah penerapan. Hal itu merupakan solusi dari pengganti sistem penerapan kuota yang saat ini berlaku.

Menurut Plt Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF), Bambang Brojonegoro, nantinya jika diterapkan pengenaan tarif jangan ketinggian dan kerendahan. "Bea masuk diakui tinggal sekarang, kalau pakai bea masuk jangan kerendahan dan jangan ketinggian," ujarnya di Kementerian Keuangan, Jumat (5/4/2013).

Adanya usulan penerapan tarif berawal dari penerapan kuota yang mendapat kritikan dari Worl Trade Organization sehingga Indonesia disibukkan dengan menghadapi gugatan tersebut. Padahal penerapan kuota pada dasarnya melindungi petani.

"Karena gini, kalau pakai kuota impor, nanti yang ribut WTOnya. Kita sibuk mengalami gugatan, dikritik lah. Kalau bea masuk itu kan tarif yang diakui oleh seluruh dunia, gitu," katanya.

Penerapan tarif, lanjut Bambang Brojonegoro, juga memperhatikan pasokan dan permintaan. "Jangan juga ketinggian melihat suplai dalam negeri nggak ada karena kemahalan," jelasnya.

Untuk itu, Kementerian Pertanian dan Perdagangan diharapkan Bambang, kedua kementerian tersebut dapat memberikan estimasi kebutuhan baik pasokan maupun permintaan. Sehingga penerapan tarif dapat sesuai. "Tinggal bagaimana penentuan tarifnya. Istilahnya sebelum sampai ke angka, pertanian harus yakin berapa yang dia sanggup produksi dalam negeri dan perdagangan harus bisa estimasi berapa gap antara demand dengan supply," tuturnya.

Apabila pengenaan tarif berlaku, nantinya pengetatan lewat kuota tidak berlaku kembali. Bambang menjelaskan pemerintah harus memilih salah satu penerapan tari jangan ada penerapan nontarif. "Oh nggak dong, sebaiknya cukup satu, bea masuk saja. Karena kalau masalah nontarif itu malah concern WTO adalah non tarif barrier," jelasnya. [hid]

0 Komentar

Belum ada komentar untuk berita ini.

Kirim Komentar

Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab. INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.