Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 23 Desember 2014 | 10:15 WIB
Hide Ads

Majalah InilahREVIEW Edisi ke-34 Tahun II

Bisa Jadi Lautan Sepeda Motor

Oleh : Mahbub Junaidi | Senin, 22 April 2013 | 11:03 WIB
Bisa Jadi Lautan Sepeda Motor
(inilah.com/Agus priatna)

BERSIAPLAH menghadapi lautan sepeda motor di jalan raya. Tahun ini atau tahun depan, jumlah pengendara sepeda motor diperkirakan bakal meningkat tajam. Itu terjadi karena ada peralihan pemakaian alat transportasi dari mobil pribadi ke sepeda motor.

Maklum, sepeda motor salah satu kendaraan yang masih boleh mengonsumsi bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dengan harga Rp 4.500 per liter, sedangkan mobil pribadi Rp 6.500 per liter.

Selisih harga sebesar Rp 2.000 itulah yang membuat para pemilik mobil golongan menengah ke bawah akan berpikir menggunakan mobilnya. "Mereka ini biasanya menggunakan mobil tua dan murah untuk bekerja karena tidak tersedia sarana transportasi umum yang aman dan nyaman," kata Pius Ginting, Manajer Kampanye Energi Wahana Lingkungan Hidup.

Karena kemampuannya terbatas, para pemilik mobil golongan ini akan beramai-ramai beralih menggunakan sepeda motor yang masih dapat mengonsumsi BBM bersubsidi. Jumlah pemilik mobil golongan ini, menurut Pius, sangat banyak di Indonesia.

Seperti halnya Pius, Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik, Sofyano Zakaria juga melihatnya demikian. "Pemerintah patut mewaspadai terjadinya pertumbuhan sepeda motor yang signifikan di penjuru Nusantara," katanya.

Menurut dia, ketika pertumbuhan jumlah sepeda motor di Indonesia mencapai titik tertinggi, itu bisa berakibat fatal terhadap keamanan tiap pengendara dan pengguna jalan lainnya. "Ke depan, di jalan raya bisa terjadi lautan sepeda motor," ujarnya.

Selama ini, sepeda motor menjadi salah satu alat pembunuh rakyat mengingat banyaknya kecelakaan sepeda motor yang menewaskan pengendaranya. Menurut catatan, tahun 2012 jumlah sepeda motor di Indonesia mencapai 86 juta unit. Jadi, bisa dibayangkan saban hari berapa banyak BBM subsidi yang disedot sepeda motor.

Sejumlah produsen sepeda motor juga memperkirakan, penaikan harga BBM bersubsidi bagi mobil pribadi akan mendorong masyarakat memilih menggunakan sepeda motor. "Kami optimistis mampu mencapai target penjualan sebanyak 6.500 hingga 7.000 unit per bulan di Semarang dan Pati," kata Aries April Rianto, Area Marketing Development Yamaha Semarang dan Kudus.

Senada, Marketing Promosi Honda Sales Operator Semarang, Thomas Wahyono, menilai kebijakan ini sangat menguntungkan penjualan sepeda motor Honda. "Honda justru diuntungkan, karena Honda memiliki semakin banyak varian yang irit bahan bakar," ujarnya.

Kalau pemilik mobil berkantong pas-pasan sangat terasa dengan penaikan harga BBM bersubsidi dan akan beralih ke sepeda motor, ini tidak berlaku bagi mereka yang berkantong tebal. Bagi mereka, penaikan sampai Rp 2.000 atau Rp 2.500 per liter, tidak berarti apa-apa. "Saya tetap pakai mobil, baik ke kantor atau jalan-jalan," ujar Yudi, warga Tebet Timur Dalam Raya.

Bahkan, golongan orang seperti Yudi ini tak mengurungkan niatnya untuk membeli mobil baru. Itulah kenapa sampai-sampai Menteri Perindustrian MS Hidayat tak melihat penaikan harga BBM bersubsidi bagi mobil pribadi tidak berpengaruh besar pada industri otomotif nasional.

Dia malah merasa perlu meminta maaf karena produksi dan penjualan mobil tumbuh sangat pesat. "Saya meminta maaf dari perindustrian, karena (penjualan mobil) naik terus sampai 1,1 juta unit tahun ini, malah bisa 1,2 juta unit," kata Hidayat.

Itu artinya, BBM bersubsidi akan terus disedot dan disedot.

Selengkapnya, artikel ini bisa disimak di Majalah InilahREVIEW edisi ke-34 Tahun II, yang terbit Senin, 22 April 2013. [tjs]

Berita Terkait Lainnya

0 Komentar

Belum ada komentar untuk berita ini.

Kirim Komentar

Login with