Selasa, 2 September 2014 | 06:26 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Penerapan BBM Dua Harga, Apa Tanggapan Masyarakat?
Headline
inilah.com
Oleh: Ranto Rajagukguk
ekonomi - Sabtu, 27 April 2013 | 14:18 WIB
Berita Terkait

INILAH.COM, Jakarta - Rencana pemerintah untuk menetapkan kebijakan mekanisme dua harga Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi, mengundang pro kontra masyarakat. Seperti apa?

Wahyudi, seorang karyawan swasta di bilangan Thamrin menuturkan, dirinya setuju atas usulan pemerintah untuk membatasi subsidi khusus bagi mobil pribadi. Terutama karena ia selalu disuguhi pemandangan mobil-mobil pribadi mewah yang tidak malu mengonsumsi BBM subsidi.

“Padahal, dari segi kapasitas pendapatan, golongan pemilik mobil mewah tersebut sudah mampu membeli BBM non subsidi,” kata Wahyudi yang menggunakan sepeda motor sebagai alat transportasi kesehariannya, kepadaINILAH.COM, di Jakarta.

Wahyudi mengaku tidak berkeberatan jika beleid tersebut ditujukan bagi mobil pribadi kalangan menengah ke atas. Namun, sebagai karyawan yang digaji sebatas Upah Minimum Provinsi (UMP), dirinya masih memerlukan BBM yang disubsidi oleh pemerintah. " Yang penting rakyat seperti saya ini tetap merasakan bensin murah. Itu yang terpenting," ujarnya.

Sementara itu, Wahyudi berharap, sosialisasi kebijakan di lapangan perlu dimasifkan. Hal ini menyusul adanya perbedaan harga yang diberikan bagi masyarakat. Apalagi, menurut dia kebijakan tersebut juga rawan dengan kebocoran.

"Bisa saja timbul masalah. Masa masyarakat dibeda-bedakan. Tentu ada dampak cuma saya sendiri tidak berani spekulasi. Kebocorang dan kecurangan bisa saja terjadi," tutur dia.

Menanggapi kenaikan harga minyak dunia dan rawan jebolnya kuota BBM domestik, berlanjut pada besarnya beban anggaran negara, pemerintah sepakat untuk menetapkan mekanisme dua harga BBM. Yakni Rp6.500 khusus bagi mobil pribadi, dan Rp4.500 atau subsidi penuh khusus angkutan umum dan sepeda motor.

Terkait hal ini, Sri, seorang ibu rumah tangga di kawasan Jakarta Timur menyatakan kepesimisannya. Ia menilai, kenaikan harga BBM, akan diikuti kenaikan transportasi angkutan umum dan kemudian secara tidak langsung akan mengerek naik harga pangan dan kebutuhan lainnya.

“Saya tidak yakin, harga barang-barang tidak naik. Meski yang naik (harga BBM) cuma kendaraan pribadi, yang lain pasti ikut-ikutan. Sekarang saja, BBM belum naik, harga-harga di pasar sudah naik,”ujarnya.

Sementara Vicky, seorang karyawan swasta sektor perbankan mengungkapkan keprihatinannya mengenai kebijakan aneh yang diterbitkan pemerintah. Menurutnya, kebijakan tersebut tidak efektif lantaran bakal menyulitkan di lapangan nantinya.

"Teknis saya rasa akan sulit. Nanti bagaimana petugas Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) menahan mobil prbadi untuk membeli bensin seharga Rp4.500? Tahu sendiri orang Indonesia," kata Vicky, kepadaINILAH.COM.

Meski bakal menyulitkan bagi kalangan menengah ke bawah, dia lebih setuju jika BBM subsidi dinaikkan secara keseluruhan. Menurut dia jauh lebih adil, dan tidak merepotkan di lapangannya. Apalagi menurut data yang dibaca lewat informasi berita, beban anggaran untuk subsidi BBM juga kelewat besar.

"Saya sepakat dinaikkan saja. Saya jauh lebih bisa terima ko walaupun naik. Beban anggaran juga menurun. Tapi yang penting subsidi ini tetap dipakai untuk kesejahteraan rakyat, bukan BLT ya. Apa saja yang penting berdampak baik bagi masyarakat," katanya. [ast]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA
BERITA POPULER