Kamis, 24 April 2014 | 20:36 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Ketika Ibu Rumah Tangga di China Berburu Emas
Headline
Ist
Oleh: Th. Asteria
ekonomi - Selasa, 7 Mei 2013 | 21:25 WIB
Berita Terkait

INILAH.COM, Jakarta - Pekan lalu, Li Chou menemani ibunya ke sebuah supermarket di Beijing untuk berbelanja bahan pangan. Ketika pulang, keranjangnya berisi sayur-sayuran, daging dan rantai emas.

Ya. Rantai emas. Pedagang eceran emas menyewa lapak di depan kasir supermarket, mengatur dagangannya dengan apik di etalase serta memasang papan dengan tulisan “Diskon Besar, Beli Sekarang.”

Hal tersebut tak pelak menarik perhatian pengunjung supermarket yang kebanyakan adalah ibu rumah tangga.

"Godaan itu terlalu besar ibuku yang akhirnya membeli empat rantai emas di lapak tersebut. Ia membeli menggunakan kartu debitku," kata Chou, tanpa mengatakan berapa banyak dana yang dihabiskan.

Ibu rumah tangga, yang di China disebut da ma, seperti ibu Chou, dilaporkan merupakan salah satu kekuatan tangguh yang menyebabkan harga emas melesat melampaui US$ 1.460, setelah sempat anjlok tajam hingga 15% pada pertengahan April kemarin.

Aksi foya-foya warga China terhadap 300 ton emas, senilai sekitar 100 miliar yuan (US$ 16 miliar) yang terjadi dalam 10 hari hingga 1 Mei, telah menjadi berita utama seluruh dunia.

Bahkan para da ma berkantung tebal ini, disebut-sebut telah mengalahkan penguasa Wall Street yang berusaha menekan harga emas turun. Wow!

Meski demikian, kegilaan membeli emas juga menunjukkan kurangnya pilihan investasi baik yang tersedia untuk pertumbuhan kelas menengah China. Orang kaya China, yaitu orang-orang dengan aset antara US$ 100 ribu hingga US$ 1 juta, sangat ingin berinvestasi, dan sebanyak 88% sudah melakukannya.

Demikian menurut laporan terbaru Forbes China dan konsultan wealth management CreditEase.

Kepala CreditEase Lv Qi mengatakan, para orang kaya ini cenderung memilih saluran investasi konservatif. Seraya menambahkan bahwa pilihan utama mereka untuk produk wealth management adalah instrumen pendapatan tetap, seperti properti dan deposito perbankan.

Tapi beberapa kalangan seperti Chou, yang memiliki jabatan sebagai direktur di sebuah perusahaan farmasi, pilihan investasi risiko rendah ini semakin lama kurang menarik.

"Beberapa produk kekayaan dicurigai setelah beberapa kasus kerugian tahun lalu dan ketatnya pasar perumahan, mempersulit pembelian unit baru," kata Lv.

Ahli keuangan University of International Business and Economics Ding Zhijie pun menilai wajar, jika investor China tergesa untuk membeli emas ketika harga turun. Terutama karena logam mulia merupakan lindung nilai yang baik terhadap inflasi.

“Namun, keputusasaan untuk menemukan instrumen yang melindungi nilai aset mereka, menunjukkan bahwa perkembangan lingkungan investasi China belum sehat dan sehat," tambahnya.

Bahkan media partai incumbent, Partai Komunis, People’s Daily menegaskan hanya ada pilihan investasi terbatas yang dimiliki bank sentral China.

"Dihadapkan dengan meningkatnya biaya konsumen dan harga rumah yang tinggi, bagaimana seseorang mencegah kehilangan nilai dari asetnya? Semakin banyak orang semakin panik,"tulis media tersebut.

People’s Daily pun menuding hal tersebut sebagai salah satu alasan mengapa begitu banyak pembelian emas. Yakni karena bank-bank China, yang menyuntik dengan deposito besar-besaran mencapai 9 miliar yuan lebih, tidak dapat menawarkan suku bunga yang cukup tinggi untuk mengimbangi inflasi. Harga konsumen naik 2,6% tahun lalu.

Lv menambahkan, suku bunga secara signifikan belum dibuat lebih berorientasi pasar, sementara sekuritisasi aset likuid yang dikonversi menjadi surat berharga, masih pada tahap yang relatif awal.

“Jadi ada sedikit produk wealth management pendapatan tetap,”ujarnya, seraya meyakini bahwa pasar keuangan China akan berkembang dan menjadi lebih beragam.

Hal ini didorong oleh permintaan dari kelompok kaya, yang tumbuh dalam ukuran dan minat investasi. Jumlah mereka diperkirakan meningkat dari 10,26 juta tahun lalu menjadi lebih dari 12 juta tahun ini, dengan masing-masing memiliki rata-rata 1,33 juta yuan untuk berinvestasi.

“Hal ini meningkatkan tekanan terhadap pemerintah China untuk memperdalam reformasi keuangan dan membuka pasar untuk berbagai produk yang lebih luas, kata Profesor Ding.

Sementara Xu Qize, analis Zhongzhou Investment Co Tianjin Preicous Metals Exchange menilai, emas akan tetap bersinar di China. "Dari zaman kuno, orang China selalu melihat emas sebagai cara utama untuk melestarikan kekayaan. Ini berarti, emas masih bisa naik lebih lanjut meskipun ada fluktuasi jangka pendek.” [ast]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA
BERITA POPULER