Selasa, 16 September 2014 | 16:24 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Komoditas Turun, Target Bea Keluar Tak Tercapai
Headline
(Foto : istimewa)
Oleh: Wiyanto
ekonomi - Senin, 20 Mei 2013 | 05:45 WIB
Berita Terkait

INILAH.COM, Jakarta - Penurunan harga komoditas dunia telah memicu penurunan penerimaan bea keluar Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan. Padahal, target kuartal I-2013 sebesar Rp11,23 triliun.

Bea keluar mengalami penurunan yang sangat tajam. Hingga 12 Mei 2013 hanya sebesar Rp5,11 triliun atau hanya sebesar 16,13% dari target tahunan Bea Keluar 2013.

Padahal ditargetkan pada bea keluar hingga 12 Mei 2013 sebesar Rp11,23 triliun. Seperti rilis yang diterima INILAH.COM di Jakarta, Minggu (19/5/2013).

Inilah faktor-faktor yang mempengaruhi penurunan tajam penerimaan Bea Keluar (BK):

1. Faktor utama yang paling berpengaruh terhadap penerimaan Bea Keluar (BK) adalah harga internasional atas komoditas ekspor utama yang wajib BK, yaitu CPO dan Bijih Mineral. Seperti diketahui, komposisi penerimaan BK selama ini (Tahun 2012), sebanyak 91,6% berasal dari BK CPO, dan 7,5% dari Bijih Mineral, sisanya 0,9% saja berasal dari Kulit, Kayu dan Biji Kakao.

2. Harga rata-rata pada beberapa bursa internasional akan menjadi dasar penetapan Harga Referensi oleh Menteri Perdagangan, yang menjadi dasar penggolongan dalam penetapan Tarif Bea Keluar.

Harga internasional ini juga menjadi dasar penetapan HPE (Harga Patokan Ekspor) oleh Menteri Perdagangan, yang akan menjadi dasar penetapan HE (Harga Ekspor) oleh Menteri Keuangan, sebagai dasar penetapan harga barang dalam formulasi perhitungan BK.

3. Selama tahun 2013 ini perkembangan harga CPO di pasar internasional sangat rendah dan cenderung melemah, sehingga penetapan Harga Referensi yang menjadi dasar besaran Tarif BK juga cukup rendah, hanya berkisar US$800 s/d US$900 (Tarif BK hanya sebesar 9% atau 10,5%,cukup jauh dari perkiraan pada saat penyusunan target BK pada APBN 2013):

Berdasarkan Permendag 17/M-DAG/PER/4/2013 Harga Referensi untuk CPO per 1 Mei 2013 sebesar US$ 838,02/MT ? sehingga sesuai Permenkeu 75/PMK.011/2010 maka Tarif BK sesuai dengan Kolom III Lampiran Permenkeu tsb, yaitu hanya sebesar 9%.

Perkembangan Tarif BK selama 2013 yang relatif rendah dibandingkan perkiraan awal ? Tarif CPO Januari 2013 = 7,5%, Februari 2013 = 9%, Maret dan April 2013 = 10,5%, Mei = 9%. Tarif turunan CPO rata-rata 4-5%. Tarif Hydrogenated RBD Palm Oil rata-rata 3-4%. Tarif Bijih Mineral “rata-rata flat” 20%.

4. Beberapa Kantor BC yang selama ini memberikan kontribusi terbesar untuk penerimaan BK dari komoditi CPO (Dumai, Teluk Bayur, Belawan dan Bandar Lampung), target penerimaan BK pada Januari-April 2013 ini rata-rata hanya mencapai di bawah 40% dari target proporsional, di mana selain terjadi penurunan volume ekspor CPO yang cukup tajam, juga mulai terjadi shifting komoditi ekspor dari CPO ke Produk Turunannya (yang besaran Tarif BK nya sangat jauh perbedaannya--Kebijakan Hilirisasi).

5. Ekspor CPO Februari 2013 mengalami penurunan sekitar 5,6% dibandingkan Januari 2013 dan menyentuh level terendah sejak Oktober 2012, karena: Pertama, pembeli CPO berpaling ke Malaysia. Malaysia mengenakan 0% export tax untuk Januari dan Februari 2013 dalam rangka menurunkan inventory CPO-nya. Untuk Maret, April, Mei: export tax 4,5%.

Kedua, India (Top Buyer CPO), mengenakan import tariff 2,5% atas CPO sejak Januari 2013 untuk melindungi local oilseed growers. Ketiga, tarif Bea Keluar CPO Indonesia Januari ke Maret naik (dari 7,5% di Januari, naik menjadi 9% di Februari, dan 10,5% di Maret dan April 2013, Mei = 9%).

6. Kebijakan hilirisasi dari CPO ke turunannya , dengan tarif yang lebih rendah (selisih tarif cukup tinggi), sangat berdampak pada rendahnya penerimaan BK. Terjadi pergeseran (shifting) yang cukup tajam dari ekspor komoditi CPO menjadi Produk Turunan CPO.

7. UU No 4/2009 Pertambangan Mineral dan Batubara melarang ekspor Bijih Mineral mulai 2014. Seharusnya di tahun 2013 Volume dan Nilai Ekspor Bijih Mineral meningkat (memanfaatkan kesempatan sebelum dilarang di 2014). Kenyataannya, ekspor Bijih Mineral diperkirakan belum dapat full swing di 2013, sehingga volume ekspor mineral masih sangat rendah.

8. Harga sebagian besar commodity prices menurun karena supply lebih besar dari demand dan global economic slowdown (US fiscal cliff, pemangkasan belanja otomatis US, quantitative easing US, Europe’s debt problems, China’s property curbs).

9. Pencapaian target penerimaan BK pada Q1 2013: Untuk komoditi Bijih Mineral pada 2 Kanwil yang paling besar (Kanwil Sulawesi dan Kalbagtim) hanya sebesar 68% target proporsional. Untuk komoditi CPO pada 3 Kanwil terbesar (Kanwil Riau-Sumbar, Sumut dan Sumbagsel) hanya sekitar 44% dari target proporsional BK tahun 2013.

10. Proyeksi penerimaan Bea Keluar pada tahun 2013 diperkirakan hanya akan mencapai Rp17,6 Triliun, dibandingkan dengan target APBN 2013 berarti turun sebesar 44,5 persen, sedangkan terhadap realisasi 2012 turun 17,1 persen. Komposisinya terdiri dari bea keluar CPO dan turunannya sebesar Rp11,1 T, Bijih Mineral sebesar Rp6,1 T, dan bea keluar atas produk lainnya sebesar Rp400-an Miliar.

11. Penurunan penerimaan BK terutama terjadi untuk CPO dan turunannya. Faktor utama yang menyebabkan adalah lebih rendahnya Tarif BK yang berlaku, sebagai akibat rendahnya harga CPO dan turunannya di pasar internasional. Pada APBN 2013, rata-rata Tarif BK untuk CPO diasumsikan sebesar 15 persen, dengan tren harga CPO di pasar internasional rata-rata US$999.29/MT. Kondisi ini sangat jauh dari kondisi empirik yang terjadi selama Q1 2013 ini.

12. Penurunan penerimaan BK CPO juga merupakan dampak dari diberlakukannya PMK nomor 128/PMK.011/2011 yang diperbaharui dengan PMK nomor 75/PMK.011/2012 tentang Penetapan Barang Ekspor yang Dikenakan Bea Keluar dan Tarif Bea Keluar.

Pemberlakuan kebijakan ini bertujuan untuk mengamankan pasokan bahan baku untuk industri minyak goreng dalam negeri dan mendorong hilirisasi industri berbasis CPO. Sebagai akibatnya, ekspor komoditi CPO di satu sisi semakin menurun drastis, namun di sisi lain ekspor dalam bentuk Produk Turunan CPO dengan nilai tambah yang tinggi semakin meningkat.

Perubahan komposisi ekspor CPO dapat dilihat dari menurunnya kontribusi ekspor CPO terhadap total ekspor CPO dan produk turunannya, yaitu dari 36,6 persen pada tahun 2012, diperkirakan menjadi 27,7 persen pada tahun 2013.

Perubahan komposisi ini selanjutnya berpengaruh sangat besar pada turunnya penerimaan BK, mengingat Tarif BK untuk CPO jauh lebih tinggi daripada Tarif BK untuk Produk Turunan CPO.

13. Pengenaan bea keluar dengan formulasi tarif yang ada pada saat ini merupakan skema pemerintah dalam rangka mendorong program hilirisasi dengan sasaran: (a) meningkatkan daya saing industri hilir CPO, (b) meningkatkan investasi industri hilir sawit, (c) meningkatkan kemampuan sumber daya manusia industri hilir kelapa sawit, (d) meningkatkan nilai tambah CPO dan diversifikasi produk turunan kelapa sawit, (e) memperluas lapangan kerja, (f) meningkatkan penerimaan pajak dalam negeri, (g) menguatkan struktur industri, dan (h) menjamin pasokan CPO dalam negeri. Apabila semua sasaran dari program hilirisasi tersebut telah tercapai, penurunan pencapaian BK dari CPO merupakan dampak otomatis program kebijakan hilirisasi industri kelapa sawit.

14. Secara umum dapat disimpulkan bahwa tidak tercapainya penerimaan BK ini adalah semata-mata disebabkan faktor eksternal (di luar kontrol DJBC), yaitu terjadinya penurunan permintaan global dan penurunan harga internasional, yang menyebabkan penurunan volume ekspor, rendahnya besaran Tarif BK dan rendahnya Harga Ekspor untuk perhitungan BK. [jin]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA
BERITA POPULER