Kamis, 23 Oktober 2014 | 14:53 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Penaikan Harga BBM Bukan Solusi Final
Headline
(Foto: inilah.com)
Oleh: Herdi Sahrasad
ekonomi - Kamis, 13 Juni 2013 | 14:09 WIB
Berita Terkait

INILAH.COM, Jakarta - Gonjang-ganjing naik tidaknya harga BBM sudah berdampak negatif terhadap kepercayaan pasar dan publik kepada pemerintah SBY. Namun demikian, naiknya harga BBM bukanlah solusi final dan paling mujarab. Perlu berbagai langkah strategis. Mengapa?

Para analis menilai, sudah saatnya pemerintah SBY tidak lagi menggantungkan kebijakan energi terhadap BBM, mengingat cadangannya (reverse) semakin terbatas. Di sisi lain, upaya pemerintah meningkat produksi (lifting) juga semakin melemah, mengingat kondisi sumur yang makin tua dan tidak adanya investasi yang sangat signifikan untuk membuka sumur-sumur baru demikian juga untuk membangun kilang pengolahan.

Terkait BBM, masalahnya makin rumit sebab penurunan produksi BBM ini berkebalikan dengan sisi komsumsi yang terus menunjukkan tren peningkatan sehubungan dengan ekspansi pertumbuhan ekonomi yang memang membutuhkan komsumsi energi yang cukup besar. Saat ini, produksi yang bisa dihasilkan hanya sebesar 830 ribu barel per hari, sementara komsumsi mencapai 1,3 juta barel per hari. Akibatnya kekurangan ini harus ditutupi dengan impor.

Celakanya, tingginya impor BBM ini berdampak negatif terhadap melebarnya defisit neraca berjalan (current account) dan tergerusnya cadangan devisa. Pada 2012 lalu defisit transaksi berjalan mencapai US$24,18 miliar (2,74% dari PDB) dan cadangan devisa turun sebesar US$7,98 miliar selama periode Desember 2012-Maret 2013. Nilai tukar rupiah yang cenderung melemah juga berkontribusi terhadap meningkatnya beban impor BBM. Defisit neraca minyak 2012 mencapai US$20,3 miliar.

Desmon Silitonga, analis ekonomi lulusan pascasarjana FEUI memperingatkan, jika tidak ada kemauan dan komitmen politik pemerintah yang kuat serta keberanian untuk mengeksekusi setiap kebijakan yang ditetapkan di sektor energi, maka kenaikan harga BBM tidak berdampak positif.

Ada empat hal yang harus dilakukan pemerintah yaitu pertama, mempercepat diversifikasi energi ke energi terbarukan. Kedua, mendorong pembangunan kilang, dan Ketiga, insentif di sektor hulu migas. Keempat, di sektor transportasi yaitu merealisasikan pembangunan infrastruktur untuk menciptakan moda transportasi massal terintegrasi.

Tanpa keempat langkah kebijakan itu, maka kenaikan harga BBM saat ini tidak akan membawa dampak signfikan untuk mengurangi beban APBN dan memperbaiki kualitas pertumbuhan ekonomi. Malahan, kata Desmon, BBM akan terus menjadi polemik berkepanjangan dan menjadi beban bagi siapapun yang memerintah.

Melihat realitas yang ada saat ini, kenaikan harga BBM subsidi memang diperlukan karena, pertama mengurangi beban APBN. Porsi subsidi APBN untuk BBM dan listrik yang mencapai Rp274,7 triliun (hampir 20% dari APBN) sudah sangat tidak sehat.

Ekonom senior Dr Rizal Ramli sudah berkali-kali mengingatkan kelemahan pemerintahan SBY ini karena juga terus menganut neoliberalisme dan ekonomi gelembung. Sudah diduga jauh hari sebelumnya, nilai tukar rupiah akhirnya tembus Rp10 ribu per dolar AS sebagai akibat dari triple deficits yakni current accounts, neraca pembayaran dan fiskal. Hal itulah penyebab utama rupiah anjlok, bukan karena semata ulah spekulan.

Menurutnya, kinerja makro yang lumayan sebagian besar didukung oleh boom komoditas pertambangan yang terpanjang dalam sejarah, terbuai faktor eksternal dan tidak memiliki strategi ekonomi. Sudah sering pemerintah diingatkan bahwa banyak hal yang substansinya tidak penting dibuat sebagai kebutuhan pokok. Sementara, pemborosan oleh pemerintah dan birokrasi terus terjadi.

Para analis mengingatkan, neraca perdagangan Indonesia per Januari 2013 sampai April 2013 mengalami defisit 1,85 miliar dolar AS. Defisit akan semakin besar apabila pemerintah tidak segera menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM).

Jika kondisi ini dibiarkan berlarut-larut, dipastikan akan dapat menggangu stabilitas dan keberlanjutan pertumbuhan ekonomi serta sekaligus menggerogoti daya saing, karena kapasitas APBN untuk membiayai pembangunan dan pengembangan infrastruktur semakin menipis.

Para analis juga mengingatkan, situasi makin memburuk dengan adanya faktor eksternal seperti langkah bank sentral AS yakni The Fed yang mengurangi pembelian surat-surat utang pemerintah AS. Akibatnya kebutuhan dolar di AS sendiri meningkat karena ekonomi sedang menggeliat.

Hari-hari ini ketidakpastian pengurangan subsidi BBM sudah berdampak: rupiah anjlok, bursa efek berjatuhan dan fiskal maupun moneter menjadi kurang aman. Menaikkan harga BBM menjadi solusi sebelum terlambat, bukan? [berbagai sumber]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA
BERITA POPULER