Minggu, 26 Oktober 2014 | 05:03 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Inilah Faktor Ekonomi yang Perlu Diwaspadai
Headline
(Foto : istimewa)
Oleh: Vinsensius Segu
ekonomi - Selasa, 2 Juli 2013 | 15:53 WIB
Berita Terkait

INILAH.COM, Jakarta - Pemerintah diminta mewaspadai beberapa isu mendasar perekonomian Indonesia yang harus segera diselesaikan pemerintah. Hal ini perlu dilakukan agar ekonomi tetap tumbuh sesuai target yang telah ditetapkan APBNP 2013.

Ekonom Institute of Development Economic and Finance (Indef), Enny Sri Hartati, mengatakan pihaknya telah melakukan kajian dan telah menemukan adanya beberapa faktor fundamental yang dihadapi bangsa indonesia pada Semester 1 2013 dan perlu sentuhan sehingga ke depan ekonomi tetap tumbuh.

"Pertama, dalam evaluasi Indef pada semester I-2013, kita menemukan adanya tekanan di sektor moneter akibat angka inflasi yang sudah mulai meninggi dari awal tahun 2013. Inflasi ini dikhawatirkan akan kembali meninggi seiring kenaikan harga BBM dan semakin dekatnya hari raya Lebaran," katanya di Jakarta, Selasa (2/7/2013).

Kedua, peranan stimulus fiskal semakin hilang sehingga APBNP 2013 tidak menjamin adanya peningkatan kesejahteraan. Dia menilai yang terjadi justru target penerimaan negara diturunkan, tax ratio turun, defisit keseimbangan primer naik, dan kualitas penyerapan belanja rendah.

"Ruang fiskal kita yang tetap rendah, ikut mempengaruhi daya stimulasi kebijakan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi juga rendah,"ujar dia.

Faktor ketiga, Indef menyoroti hilangnya tradisi surplus pada neraca perdagangan membuat upaya pemerintah mendorong pertumbuhan ekonomi yang tinggi serta berkelanjutan semakin tidak mudah dilakukan. Hal ini karena nilai tambah produk-produk ekspor Indonesia masih rendah.

Keempat, peningkatan investasi yang masih didominasi oleh sektor capital intensive dan berbahan baku impor tinggi membuat urgensi untuk menjadikan investasi sebagai lokomotif utama pertumbuhan ekonomi semakin sulit terealisasi.

Kelima, belum berkembangnya industri bahan baku dan industri penunjang di dalam negeri berakibat pada lemahnya keterkaitan antara industri hulu dan hilir, sehingga mendorong besarnya ketergantungan kepada impor bahan baku.

Faktor selanjutnya adalah sisi keuangan di mana peranan pembiayaan perbankan terhadap dunia usaha belum optimal. Secara makro, alokasi kredit perbankan masih tergolong rendah, rasio kredit terhadap PDB baru sekitar 30 persen.

"Memang kalau kita lihat penyaluran kredit secara keseluruhan meningkat, tapi masih berkutat pada sektor non tradable 75%," tururnya.

Enny menambahkan, sebagai implikasi dari berbagai kendala yang menjadi isu mendasar perekonomian Indonesia di atas yakni membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia melambat.Hal ini mengakibatkan upaya meningkatkan kesejahteraan tidak dapat terwujud. "Tingkat pengangguran terbuka dan Rasio gini juga cenderung alami peningkatan," tutup Enny. [tjs]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA
BERITA POPULER