Kamis, 28 Agustus 2014 | 04:14 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Mobil Mewah Kuras Devisa, Pajak Dinaikkan
Headline
Menteri Keuangan Muhamad Chatib Basri - inilah.com
Oleh: Bastaman
ekonomi - Rabu, 28 Agustus 2013 | 14:31 WIB
Berita Terkait

INILAH.COM, Jakarta - Krisis telah memaksa setiap negara mengamankan perekonomiannya. Tak terkecuali Indonesia. Untuk menghambat masuknya barang impor, Menteri Keuangan telah menaikan tarif pajak penjualan atas barang mewah (PPn BM) barang impor. Langkah tersebut diambil untuk menekan laju defisit neraca perdagangan.

Nah, salah satu yang mengalami kenaikan tarif adalah PPn BM atas mobil mewah jenis completely build up (CBU). Sebelumnya, tarif PPn BM untuk mobil impor maksimal 75%. Kini, mobil mewah CBU terkena tarif antara 125%-150%. “Peraturan Menteri Keuangan (PMK) sudah saya teken,” Chatib Basri, Menteri Keuangan.

Hingga semester I, penjualan mobil CBU mencapai 76.000 unit. Bila dibandingkan dengan total penjualan mobil nasional yang mencapai 582.366 unit, pasar mobil CBU memang kecil. Namun dengan harganya yang rata-rata di atas Rp1 miliar per unit, impor mobil CBU tersebut cukup menguras devisa di Bank Indonesia dan ikut menyumbang defisit neraca perdagangan.

Sedan mewah Ferrari mungkin bisa jadi contoh. Tahun 2011 saja penjualan mobil buatan Italia di Indonesia mencapai 7.200 unit dengan nilai US$2,6 miliar atau sekitar Rp26 triliun. Sampai kuartal I-2013, penjualan Ferrari mencapai 1.800 unit atau naik 4% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Untuk mendapatkan Ferrari LaFerrari, konsumen haruis merogoh uang Rp12,6 miliar.

Ferrari mungkin tidak seberapa. Indonesia juga menjadi pasar bagi mobil mewah lainnya seperti Lamborghini yang harga jualnya mencapai Rp39 miliar per unit. Kalau uangnya kurang, masih ada Lamborghini Reventon yang di Indonesia dipasarkan dengan harga Rp15 miliar per unit. Ada juga Buggati Veyron Super Sport yang dibandrol dengan harga Rp23,4 miliar per unit.

Jadi, memang wajar kalau Menteri Keuangan ingin mengerem impor mobil mewah dengan menaikan tarif PPn BM. Namun Tonny A Prasetyantono, ekonom UGM, menilai kebijakan kenaikan tarif PPn BM tak akan berpengaruh banyak terhadap neraca perdagangan. Ia memperkirakan, sampai akhir tahun ini neraca perdagangan Indonesia akan defisit sekitar US$ 6 miliar. [mdr]

Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA LAINNYA
BERITA POPULER