Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Minggu, 18 November 2018 | 16:23 WIB

CPO Miliki Senjata ISPO untuk Bungkam Barat

Oleh : Latihono Sujantyo | Senin, 18 November 2013 | 14:45 WIB

Berita Terkait

CPO Miliki Senjata ISPO untuk Bungkam Barat
(Foto : inilah.com)

INILAH.COM, Jakarta - Para produsen crude palm oil (CPO) bersiaplah. Mulai tahun depan, pemerintah berencana melarang ekspor CPO yang tidak punya sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). Tujuan kebijakan ini adalah untuk membuktikan kepada duniaterutama negara-negara Baratbahwa produk CPO Indonesia ramah lingkungan.

Nah, karena ekspor CPO Indonesia sangat besar, pemerintah mewajibkan semua perusahaan perkebunan kelapa sawit sampai akhir tahun 2014 sudah mengantongi ISPO. Saat ini, ada sekitar 2.500 perusahaan perkebunan kelapa sawit. Dari jumlah itu, baru sekitar 30 perusahaan yang mengajukan permohonan mendapatkan ISPO.

Sertifikasi ISPO diterbitkan PT Sucofindo, PT Agung Mutu Lestari, PT NUV NORD Indonesia, PT TUV Rheinland Indonesia, serta PT SAI Global Indonesia. Sistem ISPO ini, kabarnya, sudah mengacu pada sertifikasi di Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO).

Sertifikasi RSPO kerap dipakai sebagai pegangan negara-negara importir CPO. RSPO adalah asosiasi dari berbagai organisasi CPO dan LSM peduli lingkungan, yang kini memiliki 1.000 anggota tersebar di 50 negara. RSPO berkantor pusat di Zurich, Swiss dengan sekretariat di Kuala Lumpur, Malaysia. Di Jakarta, RSPO juga membuka kantor cabang.

Keputusan pemerintah mewajibkan produsen CPO nasional memiliki sertifikasi ISPO patut diapresiasi. Sebab, bukan apa-apa, CPO Indonesia kerap diganggu beberapa LSM lingkungan dan sejumlah negara Barat. CPO Indonesia dituding tidak ramah lingkungan dan seabrek kampanye negatif lainnya.

Namun, tudingan itu tak lepas dari perang dagang yang dilontarkan Barat. Mereka khawatir, kemajuan industri kelapa sawit Indonesia menjadi ancaman serius bagi bisnis kedelai dan rapeseed AS dan Eropa. Apalagi, dengan program mandatory biofuels di kedua negara tersebut.

Coba bandingkan saja produktivitas kelapa sawit dengan kedelai, rapeseed maupun bunga matahari. Produktivitas kelapa sawit setahun mencapai 3,54 ton/hektar, sedangkan kedelai hanya 0,35 ton/hektar, rapeseed 0,7 ton/hektar, dan bunga matahari 0,55 ton/hektar. Artinya, produktifitas sawit 6-10 kali lebih tinggi dibanding pesaingnya.

Saat ini, produksi CPO Indonesia mencapai 27 juta ton, atau 53,39% dari total produksi CPO di dunia. Dari jumlah itu, sebanyak 70% diekspor. Per September 2013, ekspor CPO sudah mencapai 1,6 juta ton. Tahun depan, produksi CPO nasional diperkirakan mencapai 28-30 juta ton. Pesaing Indonesia, yakni Malaysia, hanya mampu memproduksi 18,9 juta ton.

Dengan kinerja seperti itu, tak salah kalau CPO menjadi salah satu andalan ekspor nonmigas nasional. Pada 2012 nilai ekspor CPO mencapai US$20,78 miliar dan sampai akhir tahun ini diperkirakan sebesar US$22 miliar.

Nilai ini bisa menggelembung seandainya para pelobi Indonesia mampu membungkam Barat bahwa CPO Indonesia bukan perusak lingkungan. Betul, ekspor CPO Indonesia ke Amerika Serikat (AS) hanya 62 ribu ton dan Uni Eropa 343 ribu ton. Nilai itu tak seberapa jika dibandingkan eksppor CPO Indonesia ke India, China, Pakistan, Bangladesh, dan negara-negara di kawasan Timur Tengah.

Namun, dengan kekuatan ekonomi dan penguasaan media, kampanye Baratdibantu LSM lingkungandikhawatirkan bisa memengaruhi negara-negara lain untuk menolak CPO Indonesia masuk ke negara mereka.

Mudah-mudahan dengan ISPO di tangan, tak ada lagi alasan bagi Barat menolak CPO dari Indonesia. [mdr]

Komentar

x