Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 18 November 2017 | 02:03 WIB

Pertamina Siap Dukung Peniadaan BBM RON 88

Oleh : Ranto Rajagukguk | Selasa, 23 Desember 2014 | 12:05 WIB
Pertamina Siap Dukung Peniadaan BBM RON 88
(Foto: inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - PT Pertamina (Persero) menerima rekomendasi Tim Reformasi Tata Kelola Migas terkait peniadaan Bahan Bakar Minyak (BBM) RON 88 menjadi RON 92. Namun, penghentian ini dinilai perlu dilakukan secara bertahap.

"Pihak Pertamina siap jika memang Pemerintah menyetujui rekomendasi RTKM tersebut. Jika pemerintah menerima rekomendasi tersebut maka Pertamina akan mendukung ," kata Direktur Pemasaran dan Niaga, Ahmad Bambang di Jakarta, Selasa (23/12/2014).

Namun, ia menyebut, Pertamina tidak akan siap jika saat ini BBM RON 88 (Premium) langsung dihentikan. Pertamina hanya siap melakukan penghapusan RON 88 bila secara bertahap. "Dan setahu kami rekomendasi RTKM tentang penghapusan RON 88 itu dilakukan secara bertahap," ujarnya.

Ahmad Bambang menjelaskan saat ini produksi kilang Pertamina untuk RON 92 hanya 200.000 barel per bulan. Sedangkan produksi naphta lebih dari 3,5 juta barel per bulan. "Naphta ini harganya murah dan oktannya sekitar 60 sampai dengan 70-an, sehingga harus diblending dengan RON 92 atau lebih agar bisa menjadi Premium. Oleh karena itu, Pertamina masih Impor RON 92 atau lebih untuk menjadikan Naphta tersebut sebagai premium," ucapnya.

Ia menambahkan, bila RON 88 dihapus, maka Pertamina harus mengolah lagi naphta tersebut agar menjadi RON 92 bahkan lebih. Inilah yang disiapkan Pertamina melalui proses di kilang TPPI di Tuban Jawa Timur serta menyiapkan infrastruktur lainnya seperti tangki dan menyiapkan alat angkutannya berupa kapal.

"Jika kilang TPPI sudah operasi penuh, maka Pertamina bisa memproduksi lebih dari 5 juta barel per bulan RON 92. Ini masih belum dapat memenuhi kebutuhan sehingga masih perlu impor RON 92. Kebutuhan baru bisa diatasi jika RDMP dan kilang GRR telah beroperasi," tutur Ahmad.

Di sisi lain, Ahmad berharap, perlu adanya keadilan antara Pertamina dengan Badan Usaha migas lainnya. Keadilan ini mencakup antara lain, kewajiban menanggung stok nasional.

Komentar

 
x