Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 19 November 2018 | 09:02 WIB

Tom Lembong, Menteri Perdagangan nan Belia

Oleh : Bachtiar abdullah | Rabu, 12 Agustus 2015 | 18:55 WIB

Berita Terkait

Tom Lembong, Menteri Perdagangan nan Belia
Thomas T Lembong - (Foto: CNN)

INILAHCOM, Jakarta - Mungkin kepincut dengan sepak terjang bisnisnya, Presiden Joko Widodo menunjuk Thomas T Lembong sebagai Menteri Perdagangan, menggantikan Rachmat Gobel.

Sapaan akrabnya Tom Lembong, dipercaya presiden untuk memimpin kementerian perdagangan (Kemendag). Tom yang kelahiran 4 Maret 1971 tergolong masih belia namun dipercaya menjadi menteri perdagangan. Sama halnya Rini Soemarno yang dipercaya Megawati menjadi Menteri Perdagangan dan perindustrian pada 2001.

Saat SBY berkuasa, jabatan menteri perdagangan dipercayakan kepada anak muda. Semisal Gita Wirjawan dipercaya SBY menjadi menteri perdagangan saat berumur 46 tahun. Atau M Lutfi ditunjuk sebagai mendag saat berumur 45 tahun.

Okelah, lupakan saja soal umur. Karena, jam terbang bisnis Tom ternyata boleh di bilang cukup senior. Saat ini, dia adalah pemilik galangan kapal di Batam yang pernah dikunjungi Presiden Jokowi. Selain itu, Tom adalah pemilik Megablitz Cineplex.

Mau tahu sepakan bisnis lainnya? Dalam 12 tahun terakhir, Tom berhasil menggalang dana investor (mayoritas asing) senilai US$ 1,47 miliar, atau setara Rp 17 triliun. Dana tersebut dibenamkan untuk 24 investasi yang berhasil memberikan keuntungan.

Baik bagi investor maupun untuk penerima dana investasi. Alhasil, nilai total dari investasi tersebut naik 150% atau 2,5 kali modal yang di tanam. Bila mengunakan perhitungan IRR (International Rate of Return), investasi yang dikelola Tom menghasilkan IRR 41% per tahun.

Pada 2001-2002, Tom dan tim memimpin investasi konsorsium Farallon Capital (Farindo Investments) bersama Djarum Group mengakuisisi 51% saham Bank BCA senilai US$ 571 juta. Saat ini, BCA adalah bank swasta nasional beraset terbesar yang mayoritas sahamnya masih dimiliki oleh perusahaan Indonesia. Kini, nilai investasi naik lebih dari 4 kali lipat.

Tahun 2005, Tom bersama tim memimpin konsorsium Farallon Capital, memback-up beberapa pengusaha nasional kebelet mengakuisisi Adaro Coal yang saat itu dikuasai investor Australia. Struktur investasi dilakukan menggunakan model Leveraged Buy Out (LBO).

Dengan struktur LBO, kesempatan perbankan untuk ikut transaksi terbuka lebar. Pada saat akuisisi, total investasi dari pemegang saham mencapai US$ 50 juta. Saat ini, nilai kapitalisasi pasar dari saham ADRO lebih dari US$3.5 milyar.

Barulah pada 2006, Tom bersama timnya membidani lahirnya Quvat Management, perusahaan ekuitas terkemuka yang fokus di Indonesia. Wajarlah bila para ekonom dunia kagum terhadapnya. Bahkan menjuluki Tom sebagai pengusaha berotak encer dari Indonesia.

Komentar

x