Find and Follow Us

Minggu, 20 Oktober 2019 | 11:19 WIB

Pertamina Terima 2 Kapal Tanker Made In Cina

Senin, 28 Maret 2016 | 10:36 WIB
Pertamina Terima 2 Kapal Tanker Made In Cina
(Foto: istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - PT Pertamina (Persero) menerima 2 kapal tanker berkonsep eco-ship, yaitu MT Sanana dan MT Serui. Masing-masing kapal berbobot 40.000 Long Ton Dead Weight (LTDW), senilai US$ 62 juta.

Dalam siaran pers kepada media di Jakarta, Minggu (27/3/2016), Direktur Utama Pertamina, Dwi Soetjipto mengatakan kedua kapal yang dipesan Pertamina itu, merupakan sister ship atau kapal kembar dari MT Sanggau yang telah diserahterimakan pada Januari 2016. Kapal ini bakal digunakan untuk mengirim minyak mentah ke kilang-kilang Pertamina.

Serah terima kapal ini dilakukan secara simbolik pada hari ini, dari New Times Shipbuilding kepada Dirut Pertamina Dwi Soetjipto, disaksikan Menteri BUMN Rini Soemarno.

MT Sanana, MT Serui, dan MT Sanggau diambil dari nama-nama Terminal BBM Pertamina di Maluku, Papua, dan Kalimantan Barat, dibangun oleh Newtimes Shipbuilding Co. Ltd, yang berlokasi di Jingjiang, Provinsi Jiangsu, Cina.

"Kehadiran MT Sanana dan MT Serui menjadikan jumlah armada milik Pertamina kini mencapai 68 dari total 273 kapal pengangkut energi yang dioperasikan Pertamina untuk menjamin ketahanan energi nasional," kata Dwi.

Dwi mengatakan, MT Sanana dan MT Serui akan berlayar menuju pelabuhan di Indonesia pada akhir Maret 2016 dan diperkirakan akan mulai beroperasi pada akhir April 2016, atau lebih cepat lima pekan dari target semula.

Kapal dengan investasi masing-masing US$ 31 juta ini, mampu mengangkut minyak mentah maksimal 315.000 barel, atau jauh lebih besar dibandingkan dengan kapal regular berkapasitas 200.000 barel.

Dengan konsep eco-ship (ramah lingkungan), kapal tanker tersebut memiliki daya angkut diyakini bisa lebih efisien. Kedua kapal ini, dilengkapi dengan peralatan-peralatan yang ramah lingkungan dan serta emisi gas buang mesin penggerak kapal yang sudah mengikuti persyaratan International Maritime Organization (IMO) Tier II.

Dwi bilang, penambahan armada kapal tanker ini, merupakan langkah terobosan Pertamina dalam meningkatkan efisiensi biaya transportasi minyak mentah. Dengan demikian, produk akhir Pertamina dapat memiliki daya saing yang tinggi. Lantaran, biaya transportasi bisa lebih irit.

Hingga akhir 2016, Pertamina direncanakan akan memiliki 72 unit kapal yang berstatus milik, sebanyak 34 unit kapal atau 47 persen merupakan kapal yang diproduksi oleh galangan kapal nasional, di mana 30 unit di antaranya telah beroperasi dan 4 unit masih dalam tahap konstruksi.

Menteri BUMN Rini Soemarno mengapresiasi langkah strategis Pertamina untuk melakukan optimalisasi pemanfaatan kapal-kapal milik yang dipercaya dapat meningkatkan efisiensi pendistribusian minyak dan produk minyak Pertamina.

Menurut dia, langkah tersebut sangat relevan dengan semakin terbukanya kompetisi yang menuntut Pertamina harus lebih efisien dan kompetitif.

Dengan pengalaman luasnya, Pertamina dinilai dapat menjadi model bagi industri perkapalan di Tanah Air dan dapat melakukan transfer knowledge dari pengalamannya bermitra dengan perusahaan-perusahaan global di sektor perkapalan kepada perusahaan galangan kapal dalam negeri.

"Seperti kita tahu, baru PT PAL yang memiliki kemampuan membuat kapal dengan ukuran 30.000 LTDW," kata Rini.

Di sisi lain, lanjut Rini, untuk keperluan efisiensi distribusi minyak dan produk di dalam negeri serta ekspansi internasional, Pertamina memerlukan kapal-kapal berukuran besar.

Yang belum dapat dibangun di galangan kapal nasional sehingga untuk saat ini Pertamina harus bermitra dengan perusahaan global untuk memenuhi kebutuhan kapal dengan spesifikasi tersebut.

"Secara bertahap nanti, galangan kapal harus dapat meningkatkan kemampuannya sehingga benar-benar memenuhi seluruh kebutuhan Pertamina," kata Menteri Rini. [tar]

Komentar

x