Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 31 Maret 2017 | 07:30 WIB
Hide Ads

Menko Darmin Lihat Ada yang Aneh di Perbankan

Oleh : M fadil djailani | Sabtu, 22 Oktober 2016 | 02:22 WIB
Menko Darmin Lihat Ada yang Aneh di Perbankan
Menko Perekonomian Darmin Nasution - (Foto: inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Menko Perekonomian Darmin Nasution memandang aneh apabila suku bunga perbankan tak segera turun. Pasalnya, BI sudah melorotkan suku bunga hingga 4,75%.

Mantan bos BI saat SBY berkuasa ini terlihat geregetan dengan lambannya perbankan merespons penurunan suku bunga dari bank sentral. "Kalau sudah beberapa kali berturut-turut BI 7 Days Repo Rate turun. Kalau sudah 3 kali turun tingkat bunga enggak turun, (itu) aneh," kata Menko Darmin di Kantornya, Jakarta, Jumat (21/10/2016).

Menurutnya keputusan BI menurunkan suku bunga acuan bisa mendorong penurunan bunga kredit maupun deposito. Meskipun penurunannya tidak akan terjadi secara cepat dan signifikan.

"Artinya itu kan akan mendorong cost of fund. Sehingga kami berharap suku bunga turun. Walaupun enggak otomatis selalu, tapi harus diusahakan. Semestinya terealisasi pada suku bunga deposito dulu, tabungan, baru masuk ke kredit," tandasnya.

Sebelumnya dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada 19 Oktober hingga 20 Oktober 2016, memutuskan penurunan BI 7 Days Repo Rate dari 5 persen menjadi 4,75 persen.

Selain itu, suku bunga deposito turun 25 basis poin menjadi 4%, lending facility turun 25 basis poin menjadi 5,5%. "BI yakin bawah pelonggaran kebijakan moneter sejalan dengan terjaganya stabilitas makro ekonomi khususnya inflasi, CAD lebih baik, surplus neraca pembayaran yang lebih besar," ucap Tirta Segara, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI.

Lantaran perekonomian global masih terkulai lemah, BI memberikan stimulus berupa pelonggaran moneter. Diharapkan bisa memperkuat permintaan domestik, khususnya sektor kredit.

Kata Tirta, BI juga terus memperkuat koordinasi kebijakan bersama pemerintah guna memastikan pengendalian inflasi, penguatan stimulus pertumbuhan ekonomi, dan reformasi struktural.

"Pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat diperkirakan lebih rendah dari sebelumnya. Sedangkan Eropa dan India diperkirakan lebih tinggi dari sebelumnya," kata Tirta.

"Pertumbuhan ekonomi AS sejalan dengan inflasi yang lebih rendah, maka Fed Rate diperkirakan hanya naik sekali di 2016. Konsumsi di India diperkirakan meningkat didukung kenaikan pendapatan," pungkas Tirta. [ipe]


0 Komentar

Belum ada komentar untuk berita ini.

Kirim Komentar

Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab. INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.

x