Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 17 Agustus 2018 | 04:53 WIB

Holding BUMN Energi,Jokowi Lupakan Jasa Bung Karno

Oleh : Ranto radjagukguk | Selasa, 29 November 2016 | 14:27 WIB
Holding BUMN Energi,Jokowi Lupakan Jasa Bung Karno
Ekonom sekaligus pengamat kebijakan publik Dradjad H Wibowo - (Foto: istimewa)

INILAHCOM, Jakarta -Rencana peleburan (holding) PT Pertamina (Persero) dengan PT PGN (Persero) Tbk, dinilai merusak tatanan kenegaraan. Kalau terjadi, pemerintahan Jokowi adalah rezim yang mudah lupa dengan sejarah.

Demikidan disampaikan ekonom sekaligus pengamat kebijakan publik Dradjad H Wibowo kepada wartawan di Jakarta, Selasa (29/11/2016). Apalagi, bila pembentukan holding ini sengaja dipaksakan demi kepentingan kelompok tertentu saja.

Menurut mantan kader PAN ini, pembentukan holding yang dilakukan oleh pemerintah terhadap Pertamina dan PGN, seolah tidak melalui pengkajian yang mendalam dan terkesan ada peran kepentingan dari satu atau dua pejabat tertentu.

"Ini tidak matang juga pembahasannya dan saya lihat ini hanya untuk kepentingan satu dua pejabat tertentu saja. Migas itu, menyangkut hajat hidup orang banyak. Jadi tidak boleh main-main dan ada unsur kepentingan di dalamnya," kata Dradjad.

Dradjad menjelaskan, pemerintah seharusnya bercermin dulu terhadap tata kelola migas yang saat ini terjadi di Indonesia. Menurut dja tata kelola migas di TanH Air masih karut-marut.

"Kita menghadapi kondisi di mana cadangan minyak kita tipis, tapi gasnya masih banyak. Susah memperoleh cadangan minyak baru. Pola-pola pengelolaan itu seharusnya dipikirkan, bukan malah membuat sesuatu yang baru, yang belum matang seperti holding. Kondisi sekarang, beda dengan kondisi dulu," kata dia.

Dradjad bilang, sejarah berdirinya Pertamina adalah untuk fokus di minyak yang oleh Presiden Soekarno dibentuk dengan cita-cita mulia untuk kesejahteraan rakyat. Adapun PGN yang dibentuk untuk fokus di gas pada masa Presiden Soekarno dan diperkuat pada masa Presiden Soeharto.

"Sebenarnya itu faktor sejarah. Dua BUMN itu dibuat oleh para pendahulu kita. Pertamina dibuat oleh Bung Karno (Presiden Soekarno) dan PGN juga. Dan diperkuat bentuk kedua BUMN itu oleh Pak Soeharto. Kalau ini digabungkan (holding), ya silahkan disimpulkan sendiri, itu artinya kita ingat tidak dengan sejarah pendahulu pemimpin Indonesia," kata Dradjad. [ipe]

Komentar

x