Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 31 Maret 2017 | 07:32 WIB
Hide Ads

2 Kartu Truf BI Redam FFR Effect

Oleh : - | Sabtu, 17 Desember 2016 | 01:39 WIB
2 Kartu Truf BI Redam FFR Effect
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Mirza Adityaswara - (Foto: inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Perekonomian Indonesia dijamin bebas dari pengaruh kenaikan suku bunga di AS (Fed Fund Rate/FFR). Tapi ada syaratnya lho.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Mirza Adityaswara berharap, dua indikator fundamental perekonomian Indonesia bisa terjamin. Yakni inflasi dan kontribusi ekspor. "Meski tiga kali dinaikkan (FFR) tahun depan, tidak akan berdampak," papar Mirza dalam sebuah diskusi yang digelar BI dan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) di Jakarta, Jumat (16/12/2016).

Dalam hal ini, kata Mirza, BI dan pemerintah harus mampu menjaga pergerakan inflasi tidak 'liar'. Paling tidak, angkanya dijaga tak di atas radar BI yakni 4% plus-minus 1% pada 2017.

Diakui Mirza, ada ancaman kenaikan inflasi yang cukup serius di 2017. Ini terkait rencana pemerintah mengerek tarif tenaga listrik (TTL) dan kenaikan harga gas atau dari kelompok harga barang yang diatur pemerintah (administered prices).

"Jika ada pengurangan subsidi (subsidi energi) untuk (kesehatan) APBN, memang bisa meningkatkan inflasi. Maka, skema pengurangan subsidinya harus sedemikian rupa," kata Mirza.

Jika inflasi benar-benar bak kuda liar, peluang BI melonggarkan suku bunga acuan makin terbatas. Inflasi tinggi jelas-jelas bikin sulit perbankan dalam menurunkan suku bunga kredit. Ya, ujungnya ke sektor usaha juga. "Kami bisa menurunkan suku bunga acuan hingga 150 basis poin pada tahun 2016, salah satunya karena inflasi yang terkendali," ujar Mirza.

Di penghujung 2016, BI memperkirakan inflasi berada di kisaran 3-3,2% secara tahunan (year on year/yoy). Untuk tahun depan, BI memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa 5%-5,4%.

Indikator kedua, kata Mirza, adalah kecenderungan akan terus membaiknya ekspor. Perbaikan ekspor ini didorong meratanya pemulihan harga komoditas yang berlanjut di 2017.

Di samping itu, kata Mirza, ekspor juga akan membaik, karena pemulihan ekonomi Tiongkok yang menjadi salah satu mitra dagang terbesar Indonesia. "Jika inflasi dan ekspor ini membaik, kami berkeyakinan pada 2017 meskipun dengan suku bunga Federal Reserve naik, kita akan lihat pemulihan ekonomi berlanjut," kata Mirza.

Pada Rabu lalu (14/12), the Fed mengemukan peluang penaikan suku bunga acuan sebanyak tiga kali pada 2017. Sebelumnya, the Fed bilang dua kali.

Penaikan suku bunga acuan AS itu karena asumsi perekonomian AS bakal membaik, sehingga laju inflasi juga harus dikendalikan dengan instrumen suku bunga acuan. Dan, the Fed sudah menaikkan suku bunga acuannya menjadi 0,5-0,75%. Padahal, the Fed dalam setahun ini, menahan suku bunga di rentang 0,25-0,5%. [tar]

0 Komentar

Belum ada komentar untuk berita ini.

Kirim Komentar

Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab. INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.

x