Find and Follow Us

Selasa, 21 Mei 2019 | 03:15 WIB

Inilah Faktor Perhitungan Tarif Listrik di 2017

Oleh : Uji Sukma Medianty | Selasa, 3 Januari 2017 | 05:49 WIB
Inilah Faktor Perhitungan Tarif Listrik di 2017
(Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta Dua belas golongan tarif tenaga listrik yang mengikuti mekanisme Tariff Adjustment (TA) mengalami penurunan pada Januari 2017.

Harga ICP (Indonesian Crude Price) menjadi salah satu indikator turunnya tarif listrik disamping biaya pokok produksi (BPP) yang juga menurun, walaupun di sisi lain nilai tukar rupiah mengalami pelemahan.

Nilai tukar Rupiah pada November 2016 melemah sebesar Rp 293,26/USD dari sebelumnya (Oktober 2016) sebesar Rp 13.017,24 USD menjadi Rp13.310,50/USD. Harga ICP pada November 2016 turun USD 3,39/barrel, dari sebelumnya (Oktober 2016) sebesar USD 46,64/barrel menjadi USD 43,25/barrel. Sementara itu, inflasi pada November 2016 naik 0,33%, dari sebelumnya (Oktober 2016) sebesar 0,14% menjadi 0,47%.

Penyesuaian Tarif Tenaga Listrik (TTL) ini sesuai dengan Peraturan Menteri (Permen) Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 28/2016. Permen ini menyatakan bahwa penyesuaian diberlakukan setiap bulan, menyesuaikan perubahan nilai tukar mata uang Rupiah terhadap Dollar Amerika, harga minyak dan inflasi bulanan. Dengan mekanisme TA, tarif listrik setiap bulan memang dimungkinkan untuk turun, tetap atau naik berdasarkan perubahan ketiga indikator tersebut.

Akibat dari perubahan nilai ketiga indikator tersebut, tarif listrik pada Januari di Tegangan Rendah (TR) menjadi Rp 1.467,28/kWh, tarif listrik di Tegangan Menengah (TM) menjadi Rp1.114,74/kWh, tarif listrik di Tegangan Tinggi (TT) menjadi Rp 996,74/kWh, dan tarif listrik di Layanan Khusus menjadi Rp 1.644,52/kWh.

"Penyesuaian tarif bulan ini termasuk stabil. Penurunan rata-rata sebesar Rp 6," terang Kepala Satuan Komunikasi Korporat PLN, I Made Suprateka dari keterangan yang disampaikan di web resmi PT Perusahaan Listrik Negara (PLN).

Formula TTL terdiri dari 37 golongan tarif. Dua belas golongan tarif yang diberlakukan mekanisme Tariff Adjustment adalah tarif yang tidak disubsidi pemerintah. Kedua belas golongan tarif tersebut adalah sebagai berikut :

1. Golongan R1, Rumah Tangga kecil di tegangan rendah, daya 1300 VA.
2. R1, Rumah Tangga kecil di tegangan rendah, daya 2200 VA.
3. Golongan R1, Rumah Tangga menengahdi tegangan rendah, daya 3500 sd 5500 VA.
4. Golongan R3, Rumah Tangga besar di tegangan rendah, daya 6600 VA ke atas.
5. Golongan B2, Bisnis menengah di tegangan rendah, daya 6600 VA sd 200 kVA.
6. Golongan B3, Bisnis besar di tegangan rendah, daya di atas 200 kVA.
7. Golongan P1, Kantor Pemerintah di tegangan rendah, daya 6600 VA sd 200 kVA.
8. Golongan I3, Industri menengah di tegangan menengah, daya di atas 200 kVA.
9. Golongan I4,Industri besar di tegangan tinggi, daya 30 MVA ke atas, dan
10. Golongan P2, Kantor Pemeritah di tegangan menengah, daya di atas 200 kVA.
11. Golongan P3, Penerangan Jalan Umum di tegangan rendah, dan
12. Golongan L, Layanan Khusus.

Selain kedua belas golongan tarif tersebut, mulai 1 Januari 2017 terdapat penambahan 1 golongan tarif baru, yaitu rumah tangga mampu dengan daya 900 VA (R-1/900 VA-RTM). Golongan tarif ini dahulu merupakan golongan tarif R-1/900 VA.

Dengan adanya kebijakan pemerintah dalam memberikan subsidi tepat sasaran, maka golongan tarif R-1/900 VA khusus masyarakat mampu akan diberlakukan kenaikan bertahap setiap 2 bulan, yaitu 1 Januari 2017, 1 Maret 2017, 1 Mei 2017 dan pada 1 Juli 2017 akan disesuaikan bersamaan dengan 12 golongan tarif lainnya yang mengalami penyesuaian tarif tiap bulannya.

Sementara itu, 25 golongan tarif lainnya tidak berubah. Pelanggan rumah tangga kecil daya 450 VA dan 900 VA, bisnis dan industri kecil serta pelanggan sosial termasuk dalam 25 golongan tarif tersebut. Pemerintah masih memberikan subsidi terhadap pelanggan golongan ini. [hid]

Komentar

x