Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 27 Juni 2017 | 12:17 WIB

DG BI Ini Ungkap Peluang Suku Bunga Turun Lagi

Oleh : M fadil djailani | Sabtu, 7 Januari 2017 | 03:39 WIB
DG BI Ini Ungkap Peluang Suku Bunga Turun Lagi
Deputi Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo - (Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Deputi Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menilai ada ruang untuk melonggarkan suku bunga acuan 7-Day Reverse Repo Rate di awal 2017 ini.

Menurutnya, ruang atau peluang itu berkebalikan dengan perkiraan berbagai analis dan ekonom. Di mana, Bank Sentral diprediksi sulit menurunkan kembali suku bunga acuan yang ditahan di level 4,75%.

Menurut Perry di kantor BI, Jakarta, Jumat (6/1/2017), BI akan mengkaji potensi penurunan suku bunga acuan tersebut apakah memungkinkan untuk dilakukan. Semua karena tekanan domestik dari inflasi sedang meningkat, dan ketidakpastian kebijakan Presiden Amerika Serikat terpilih, Donald Trump masih membayangi pergerakan pasar keuangan.

"Jika dilihat dari sikap suku bunga acuan maka ada sedikit ruangan, tapi harus kalibarasi dengan tekanan dari kelompok harga barang yang diatur pemerintah (adminsitered prices)," ujar Perry.

Meskipun ada ruang pelonggaran bunga acuan, Perry menekankan, untuk 12 bulan ke depan, BI akan lebih menggunakan instrumen suku bunga untuk stabilisasi ekonomi, ketimbang mendorong pertumbuhan. Hal tersebut, lanjut dia, seperti sikap BI yang didengungkan berulang-kali untuk 2017 yakni kebijakan moneter yang "seimbang".

"Untuk instrumen suku bunga, nilai tukar, dan surveillance (pengawasan) itu lebih untuk menjaga stabilitas," kata dia.

Sedangkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di 2017, lanjut Perry, BI akan mengoptimalkan bauran kebijakan untuk melonggarkan likuiditas, kebijakan makroprudensial dan juga dorongan dari sistem pembayaran, seperti elektronifikasi bantuan sosial.

Perry melihat kondisi ekonomi domestik kondusif sejauh ini. Namun Perry menggarisbawahi bahwa otoritas moneter akan memperkuat koordinasi kebijakan dengan pemerintah untuk mengantisipasi kenaikan tekanan inflasi dari "administered prices".

PT. Pertamina menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) umum jenis Pertamax Series, Pertalite dan Dexlite sebesar Rp 300 per liter. Kemudian, pemerintah juga menerapkan penyesuaian tarif listrik tahap pertama bagi 18,9 juta pelanggan 900 Volt Ampere (VA) sesuai dengan rencana pencabutan subsidi di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2017.

"Yang mesti diperkuat adalah koordinasi kebijakan pemerintah khususnya harga yang diatur pemerintah terkait tarif elpiji,dan lainnya. Harapannya kalau harga pangan terus terkendali rendah, maka dampak dari adminsitered prices terhadap inflasi keseluruhan bisa terkendali," ujar Perry.

BI menargetkan inflasi pada 2017 berada di 3-5%, setelah pada 2016 inflasi tahunan sebesar 3,02% persen (yoy). [ipe]

 
x