Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 21 Januari 2017 | 07:11 WIB
Hide Ads

CSIS Ramal Ekspor Naik 3,2% Asalkan Amerika......

Oleh : - | Kamis, 12 Januari 2017 | 04:29 WIB
CSIS Ramal Ekspor Naik 3,2% Asalkan Amerika......
Kepala Departemen Ekonomi CSIS, Yose Rizal Damuri - (Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Di tengah masih terkulainya perekonomian dunia, ekspor Indonesia diramal bisa naik menjadi 3,2% di tahun ini. Wow, mudah-mudahan tak meleset.

Adalah lembaga riset dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS) yang memprediksi, ekspor Indonesia naik menjadi 3,2% di 2017. Alasannya, perekonomian global bakal membaik dari perkiraan. Namun masih bergantung kepada kebijakan Amerika Serikat.

"Angka tersebut masih di bawah apa yang sebenarnya Indonesia bisa lakukan. Sedangkan untuk pembangunan ekonomi, Indonesia setidaknya butuh 4 sampai 5 persen pertumbuhan ekspor," kata Kepala Departemen Ekonomi CSIS, Yose Rizal Damuri di Jakarta, Rabu (11/1/2017).

Yose menjelaskan, kenaikan ekspor hingga 3,2% ini, belum memasukkan faktor pengaruh kemungkinan penerapan kebijakan proteksionisme global, seperti yang mungkin dilakukan Amerika Serikat (AS).

"Kalau (proteksionisme) makin signifikan, maka angka 3,2 persen harus diturunkan. Mungkin 2-3 persen kalau proteksionisme, misalnya di AS, menjadi semakin masif," kata Yose.

Dia mengatakan salah satu terobosan Indonesia untuk menumbuhkan kemampuan ekspornya adalah dengan mempertahankan kapasitas ekspor di wilayah sumber tujuan ekspor utama.

Pada kenyataannya, nilai ekspor Indonesia ke negara tujuan utama justru berkurang. Misalnya, AS sebagai sebagai salah satu destinasi ekspor terbesar Indonesia berkurang dari semula 1,1% sampai 1,2% dari seluruh impor AS menjadi 0,8% sampai 0,9%.

Mencari pasar ekspor baru, kata Yose, dapat pula menjadi salah satu terobosan meningkatkan ekspor, namun hal tersebut jangan dijadikan alasan ketidakmampuan mempertahankan pasar yang lama. "Pasar baru boleh saja, biar bagaimanapun pusat perekonomian masih ada di negara-negara lama, seperti AS, Eropa dan Cina," ucap dia.

Sedangkan peneliti di Departemen Ekonomi CSIS, Haryo Aswicahyono menjelaskan, salah satu strategi ekspor yang dapat diterapkan dalam situasi proteksionisme adalah dengan aktif menjalin kerja sama biateral.

"Ketika multilateralisme melalui organisasi internasional semakin susah, maka Indonesia perlu aktif di bilateral sehingga kemudian dibutuhkan kemampuan negosiasi," ucap dia.

Haryo berharap Kementerian Perdagangan mampu meningkatkan kemampuan analisis dan pembangunan kapasitas agar negosiasi di tingkat bilateral dapat menghasilkan keuntungan ekonomi bagi Indonesia.[tar]

0 Komentar

Belum ada komentar untuk berita ini.

Kirim Komentar

Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab. INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.

x