Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 31 Maret 2017 | 07:32 WIB
Hide Ads

Pantau Likuiditas Ketat, LPS Rate Ditahan 6,25%

Oleh : - | Kamis, 12 Januari 2017 | 17:38 WIB
Pantau Likuiditas Ketat, LPS Rate Ditahan 6,25%
(Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mempertahankan bunga penjaminan di bank umum 6,25% untuk simpanan rupiah dan 0,75% untuk valuta asing, serta 8,75% untuk simpanan rupiah di bank perkreditan rakyat.

Kepala Eksekutif LPS Fauzi Ichsan menuturkan, dipertahankannya bunga penjaminan (LPS Rate), karena kondisi perekonomian yang dia klaim masih stabil, meskipun terdapat tekanan dari domestik dan global yang relatif terbatas.

"Terdapat kenaikan bunga simpanan selama beberapa pekan terakhir, mengindikasikan sedikit pengetatan pada kondisi likuiditas. Perkembangan sejumlah faktor risiko eksternal juga perlu dicermati, karena dapat berpengaruh bagi kondisi likuiditas," kata Fauzi di Jakarta, Kamis (12/1/2017).

Penetapan bunga penjaminan tersebut mulai berlaku sejak hari ini (12/1) hingga 15 Mei 2017. Apabila suku bunga simpanan bank kepada nasabah penyimpan, melebihi tingkat bunga penjaminan simpanan, maka simpanan trersebut tidak dijamin LPS.

"Bank harus memberitahukan kepada nasabah penyimpan mengenai tingkat bunga penjaminan simpanan yang berlaku dengan menempatkan informasi dimaksud pada tempat yang mudah diketahui oleh nasabah penyimpan," kata Fauzi.

Untuk 2017, Fauzi melihat kenaikan suku bunga Bank Sentral AS The Federal Reserve memang akan mendorong pengetatan likuiditas di pasar global. Namun dampak dari kenaikan bunga The Fed tersebut, menurut Fauzi tidak akan signifikan mendorong kenaikan suku bunga perbankan.

Fauzi, memperkirakan adanya kenaikan suku bunga The Fed sebanyak dua kali pada 2017. Untuk pergerakkan suku bunga penjaminan, LPS akan melihat terlebih dahulu kebijakan suku bunga acuan Bank Indonesia, dan pengaruhnya terhadap suku bunga perbankan sepanjang tahun ini. "Kami lebih bersifat backward looking, dan melihat kebijakan BI sebagai instrumen untuk menjaga ekspetasi inflasi dan fluktuasi rupiah," kata Fauzi. [tar]

0 Komentar

Belum ada komentar untuk berita ini.

Kirim Komentar

Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab. INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.

x